Lemhannas RI dan Peran Alumni Daerah Membangun Ketahanan

PEMERINTAHAN104 Dilihat
0 0
banner 468x60
Read Time:3 Minute, 19 Second

hariangarutnews.com – Lemhannas RI sering terdengar sebagai lembaga strategis di Jakarta, jauh dari hiruk pikuk kampus daerah. Namun ajakan terbuka bagi alumni Universitas Garut (UNIGA) untuk menjadi penggerak ketahanan nasional justru mengingatkan bahwa kekuatan bangsa sesungguhnya bertumpu di daerah. Ketahanan tidak hanya dirumuskan di ruang rapat lembaga tinggi, melainkan dipraktikkan melalui tindakan kecil, kebijakan lokal, serta jejaring intelektual yang tersebar di kabupaten dan kota.

Ketika Lemhannas RI menyasar alumni perguruan tinggi di daerah seperti UNIGA, pesan tersembunyi cukup jelas: era sentralisasi pemikiran keamanan sudah berakhir. Kedaulatan, keutuhan wilayah, hingga persatuan sosial kini bergantung pada kualitas aktor lokal yang memahami dinamika wilayahnya. Tulisan ini mencoba mengurai makna strategis langkah tersebut, sekaligus menawarkan sudut pandang kritis mengenai bagaimana alumni UNIGA dapat sungguh-sungguh menjadi katalis ketahanan nasional dari tanah Priangan.

banner 336x280

Lemhannas RI dan Paradigma Baru Ketahanan dari Daerah

Lemhannas RI sejak lama identik dengan pendidikan geopolitik, geostrategi, serta kepemimpinan nasional untuk pejabat tinggi negara. Namun konteks zaman berubah cepat. Disrupsi digital, polarisasi politik, serta tantangan ekonomi menuntut perluasan lingkup edukasi kebangsaan hingga ke kampus daerah. Ajakan kepada alumni UNIGA menandai pergeseran penting: Lemhannas RI tidak lagi sekadar mendidik elite birokrasi, tetapi mulai merawat ekosistem pemikiran strategis di level akar rumput terdidik.

Langkah ini menarik karena mengakui peran perguruan tinggi sebagai simpul pengetahuan sekaligus agen perubahan sosial. Alumni UNIGA yang tersebar di pemerintahan daerah, usaha kecil, pendidikan, hingga komunitas sipil memiliki jangkauan sosial luas. Ketika Lemhannas RI masuk lewat jalur alumni, pesan kebangsaan berpotensi menyebar lebih organik. Bukan ceramah satu arah, melainkan dialog kritis seputar problem nyata: kemiskinan, kesenjangan, radikalisme, korupsi kecil, sampai kerusakan lingkungan.

Dari sudut pandang pribadi, ini adalah kesempatan emas sekaligus ujian. Emas, karena membuka akses diskursus strategis bagi individu yang biasanya tidak tersentuh program pusat. Ujian, karena gagasan Lemhannas RI sering sarat istilah abstrak. Tantangannya terletak pada penerjemahan konsep ketahanan nasional menjadi program sederhana yang bisa dijalankan alumni di Garut. Jembatan antara teori dan praktik itu tidak otomatis terbentuk, perlu kesadaran kritis serta keberanian bereksperimen.

Alumni UNIGA: Dari Kampus Lokal Menuju Peran Geostrategis

Secara historis, alumni kampus daerah kerap merasa berada di pinggiran diskursus kebijakan nasional. Nama besar universitas negeri di kota besar mendominasi ruang publik. Keterlibatan Lemhannas RI bersama UNIGA memberi sinyal bahwa “pinggiran” sesungguhnya tidak pernah ada untuk urusan ketahanan. Garut memiliki posisi geostrategis di Jawa Barat, menyimpan sumber daya alam, tradisi budaya kuat, serta dinamika sosial kompleks. Semua itu bagian mozaik ketahanan nasional yang tidak boleh diabaikan.

Alumni UNIGA berpotensi menjadi mediator antara kebijakan pusat dengan realitas lokal. Saat konsep besar Lemhannas RI berbicara soal ketahanan ideologi, ekonomi, sosial, dan keamanan, alumni bisa memetakannya pada situasi konkrit di kecamatan, desa, ataupun kawasan wisata. Misalnya, bagaimana ketahanan ideologi diterapkan melalui literasi digital di kalangan pelajar? Atau bagaimana ketahanan ekonomi diwujudkan via penguatan UMKM olahan pangan khas Garut agar tidak tenggelam oleh produk impor murah?

Dari kacamata pribadi, keunggulan alumni UNIGA justru terletak pada kedekatan mereka terhadap komunitas. Mereka biasa berhadapan langsung dengan warga, bukan hanya data statistik. Lemhannas RI membutuhkan perspektif akar rumput semacam ini agar konsep ketahanan tidak melayang di udara. Pertemuan antara pengetahuan lokal dengan wawasan nasional akan melahirkan strategi ketahanan yang lebih relevan, kontekstual, dan berkelanjutan. Sinergi dua arah ini patut dijaga, bukan sekadar seremoni sekali lewat.

Merangkai Aksi Nyata: Dari Wacana Lemhannas RI ke Gerakan Lokal

Pertanyaannya, bagaimana agar kolaborasi Lemhannas RI dan alumni UNIGA tidak berhenti sebagai wacana? Menurut saya, kuncinya ada pada tiga langkah. Pertama, pembentukan komunitas belajar kecil yang rutin mendiskusikan isu ketahanan di Garut, lalu menyusun rekomendasi praktis bagi pemda atau desa. Kedua, proyek percontohan: misalnya program “desa tangguh informasi” untuk menangkal hoaks, atau “sekolah ekonomi keluarga” guna menguatkan ketahanan finansial rumah tangga. Ketiga, dokumentasi serta publikasi pengalaman lapangan agar bisa direplikasi daerah lain. Pada akhirnya, ketahanan nasional bukan sekadar konsep di meja Lemhannas RI, melainkan cermin kualitas tindakan kita di lingkup paling dekat: keluarga, kampung, tempat kerja. Ajakan kepada alumni UNIGA mestinya dibaca sebagai undangan refleksi, sejauh mana kita bersedia menjadikan ilmu, jaringan, dan privilese pendidikan sebagai kontribusi nyata bagi kemandirian bangsa.

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %
banner 336x280