hariangarutnews.com – Menjelang Ramadan, gerak cepat Polsek Pasirwangi kembali menyita perhatian publik. Puluhan botol minuman keras berhasil diamankan dari sebuah rumah warga di wilayah pegunungan Garut tersebut. Langkah tegas ini tidak sekadar penegakan hukum, melainkan juga upaya menjaga kekhusyukan ibadah masyarakat muslim yang bersiap menyambut bulan suci.
Operasi rutin Polsek Pasirwangi setiap memasuki musim Ramadan sesungguhnya menggambarkan dinamika sosial unik di daerah itu. Di satu sisi, ada kebutuhan perlindungan moral serta ketertiban umum. Di sisi lain, tersimpan masalah laten peredaran miras skala kecil yang kerap bersembunyi di balik rumah-rumah biasa. Dari titik inilah, cerita tentang razia miras terbaru menjadi pintu masuk melihat lebih dekat peran polisi sektor dalam menjaga ruang sosial warga.
Razia Miras: Cermin Kesiapsiagaan Polsek Pasirwangi
Informasi awal mengenai keberadaan miras diterima Polsek Pasirwangi melalui laporan masyarakat. Warga merasa resah karena aktivitas mencurigakan sering terlihat di sekitar rumah tertentu, apalagi menjelang Ramadan. Berangkat dari aduan itu, petugas melakukan penyelidikan singkat sebelum memutuskan melakukan penggerebekan terukur. Pendekatan berbasis informasi warga seperti ini memperlihatkan bahwa kepercayaan publik terhadap polisi sektor mulai tumbuh, meski belum sempurna.
Saat penggeledahan, anggota Polsek Pasirwangi menemukan puluhan botol berisi minuman beralkohol berbagai merek. Beberapa disimpan di lemari dapur, sebagian lain disamarkan di kardus bekas. Modus seperti ini bukan hal baru, namun tetap menunjukkan upaya pelaku mengelabui pengawasan. Dari kacamata penegakan hukum, temuan tersebut mematahkan anggapan bahwa peredaran miras hanya terjadi di area kota besar atau tempat hiburan malam. Faktanya, desa-desa pegunungan pun tidak lagi steril.
Pengamanan barang bukti dilakukan melalui prosedur standar. Botol-botol miras diangkut ke kantor Polsek Pasirwangi untuk pendataan dan proses hukum selanjutnya. Pemilik rumah diperiksa, status keterlibatannya ditelaah lebih jauh. Benang merah yang ingin ditarik polisi bukan cuma soal kepemilikan, tetapi juga kemungkinan adanya jaringan pemasok di level atas. Di titik inilah, razia terlihat sebagai bagian mata rantai panjang, bukan sekadar aksi sesaat menjelang Ramadan.
Dampak Sosial Miras dan Tantangan di Tingkat Akar Rumput
Bagi sebagian orang, miras sering dilihat sekadar pilihan gaya hidup. Namun bagi masyarakat Pasirwangi, efeknya terasa jauh lebih konkret. Kasus keributan pasca minum alkohol pernah meletus di kampung-kampung, memicu konflik keluarga hingga pertengkaran antarwarga. Polsek Pasirwangi mencatat, banyak insiden pelanggaran ringan berawal dari konsumsi minuman memabukkan tersebut. Artinya, pemberantasan miras tidak hanya soal moral agama, tetapi juga pencegahan kejahatan sosial.
Lingkungan pedesaan memang memiliki ikatan sosial kuat, namun modernisasi pelan-pelan menggerus beberapa batas nilai. Akses terhadap barang konsumsi urban, termasuk miras, semakin mudah melalui jalur distribusi informal. Sejumlah penjual memanfaatkan ruang abu-abu regulasi untuk meraup keuntungan. Di tengah kondisi itu, Polsek Pasirwangi menghadapi tantangan berat. Mereka harus menindak tegas, namun tetap menjaga hubungan harmonis dengan warga yang mungkin terlibat, baik sebagai pembeli, pengedar kecil, maupun pemasok.
Dari sudut pandang pribadi, razia miras semacam ini menjadi uji kompetensi komunikasi polisi. Penegakan aturan keras tanpa narasi edukatif sering memunculkan resistensi diam-diam. Namun bila Polsek Pasirwangi mampu mengemas operasi sebagai upaya bersama menekan potensi kriminal, dukungan publik berpeluang menguat. Pendekatan humanis, terutama kepada pelanggar pemula, dapat menekan kemungkinan mereka kembali mengulangi kesalahan serupa. Bukan hanya hukum yang bicara, melainkan juga empati sosial.
Polsek Pasirwangi, Ramadan, dan Harapan Keamanan Ke Depan
Rangkaian razia miras menjelang Ramadan yang dilakukan Polsek Pasirwangi membuka ruang refleksi lebih luas. Penindakan hukum terhadap peredaran minuman keras di rumah warga hanyalah satu bagian dari puzzle besar pengelolaan ketertiban. Masyarakat perlu mengambil peran lebih aktif, bukan sekadar menjadi pelapor insidental. Sekolah, tokoh agama, pemuda, hingga pelaku usaha dapat membangun ekosistem nilai baru yang menempatkan keselamatan publik sebagai prioritas. Bila semua berjalan seiring, operasi polisi tidak lagi dipandang sebagai momok, melainkan sebagai pagar pelindung yang membantu menjaga kedamaian desa di tengah arus perubahan zaman.













