Banjir Pasirwangi: Ujian Alam dan Solidaritas Warga

Berita147 Dilihat
0 0
banner 468x60
Read Time:5 Minute, 27 Second

hariangarutnews.com – Banjir kembali menguji ketangguhan warga Pasirwangi. Hujan deras yang turun berjam-jam memicu luapan air, merusak permukiman, lahan pertanian, juga akses jalan. Genangan tidak hanya mengganggu aktivitas harian, tetapi ikut menyeret material tanah hingga berubah menjadi bencana ganda: banjir serta longsor. Dalam hitungan jam, kawasan yang semula tenang berubah penuh kubangan lumpur, batu, serta puing. Situasi ini menegaskan bahwa banjir bukan sekadar peristiwa rutin musiman, melainkan alarm keras mengenai rapuhnya tata kelola ruang dan kesiapsiagaan kita.

Di tengah kekacauan akibat banjir tersebut, aparat dan relawan bergerak cepat. Mereka mengevakuasi warga rentan, membuka jalur darurat, serta mendirikan pos pengungsian seadanya. Namun, di balik respons sigap itu, muncul pertanyaan lebih dalam: sampai kapan Pasirwangi dan wilayah lain akan terus terjebak siklus banjir serupa? Tulisan ini mencoba mengulas kronologi, dampak sosial ekonomi, hingga pelajaran penting yang bisa dipetik. Banjir di Pasirwangi bukan hanya kisah duka lokal, melainkan cermin persoalan ekologis yang melanda banyak daerah.

banner 336x280

Kronologi Banjir dan Longsor di Pasirwangi

Hujan deras turun sejak sore hingga menjelang tengah malam. Intensitas tinggi membuat saluran air kewalahan menampung debit hujan. Perlahan, aliran kecil berubah menjadi arus besar yang menyerbu area lebih rendah. Banjir mulai memasuki permukiman warga di beberapa titik. Air bercampur lumpur menyeret ranting, sampah, juga batu kecil. Jalan lingkungan tertutup genangan hingga sulit dilalui kendaraan bermotor. Warga hanya bisa menyelamatkan barang penting secara terburu-buru.

Tak lama kemudian, tebing di sekitar permukiman ikut runtuh. Tanah jenuh air kehilangan kekuatan menahan beban di atasnya. Longsor terjadi di beberapa sektor, menutupi akses jalan serta mengancam rumah di lereng. Material tanah longsor ikut menambah volume banjir di bawahnya. Kombinasi banjir dan longsor menciptakan efek domino. Area yang tadinya sekadar tergenang berubah menjadi zona berbahaya. Kondisi malam hari memperberat proses evakuasi warga.

Mayoritas warga mengaku tidak menduga banjir akan separah itu. Meski hujan deras sudah sering terjadi, mereka merasa curah kali ini jauh melampaui hari biasa. Survei sementara menunjukkan beberapa titik resapan telah beralih fungsi menjadi lahan terbangun. Aliran air yang biasanya meresap ke tanah justru mengalir deras ke hilir. Ketika hujan ekstrem bertemu tata ruang lemah, banjir menjadi konsekuensi logis. Kejadian di Pasirwangi memperlihatkan betapa tipis batas antara hujan berkah dan bencana besar.

Respons Cepat Aparat dan Relawan

Begitu laporan banjir masuk, aparat setempat segera turun menuju lokasi. Petugas gabungan dari BPBD, TNI, Polri, juga perangkat desa bergerak mengevakuasi warga lanjut usia, anak kecil, serta penyandang disabilitas. Perahu karet dikerahkan di titik genangan cukup tinggi. Sementara itu, relawan dari berbagai komunitas ikut membantu mengatur lalu lintas serta mendistribusikan logistik. Dalam kondisi terbatas, koordinasi lapangan terlihat cukup sigap, minimal menekan potensi korban jiwa akibat banjir. Kehadiran mereka memberi rasa tenang di tengah kepanikan.

Posko sementara didirikan di gedung sekolah juga balai desa yang relatif aman dari banjir. Di sana, pengungsi mendapat selimut, makanan siap saji, air bersih, serta layanan kesehatan dasar. Tenaga medis melakukan pemeriksaan pada warga yang kelelahan atau mengalami luka ringan akibat tergelincir ketika berusaha menyelamatkan diri. Di sisi lain, tim teknis mulai memetakan area terparah terdampak banjir dan longsor. Data ini penting sebagai pijakan untuk operasi lanjutan, baik untuk pembersihan material maupun perbaikan akses.

Meski begitu, tidak semua kebutuhan langsung terpenuhi. Banjir mengganggu jaringan distribusi pangan dan bahan bakar menuju beberapa dusun. Jalan tertutup longsor membuat bantuan harus memutar cukup jauh. Di sinilah kreativitas lapangan diuji. Ada relawan yang memanfaatkan sepeda motor trail, juga kendaraan bak terbuka untuk menjangkau kantong-kantong pengungsian kecil. Bagi saya, bagian paling mengharukan dari peristiwa banjir seperti ini selalu sama: solidaritas warga biasa. Mereka berbagi dapur, berbagi alas tidur, bahkan berbagi cerita untuk saling menguatkan.

Dampak Sosial Ekonomi Banjir bagi Warga

Banjir di Pasirwangi tidak hanya merusak fisik rumah. Dampak ekonominya pelan namun menghantam keras. Banyak warga menggantungkan hidup dari kebun serta sawah. Genangan air bercampur lumpur merusak tanaman siap panen. Bagi petani kecil, hilangnya satu musim tanam berarti pendapatan menguap. Sementara pemilik warung kehilangan stok barang dagangan yang terendam banjir. Kerusakan seperti ini kerap luput dari perhitungan resmi, padahal efeknya bisa berbulan-bulan ke depan.

Sisi sosial pun terguncang. Anak-anak harus berhenti sekolah sementara karena ruang kelas dipakai sebagai pos pengungsian atau terendam banjir. Aktivitas ibadah dan pertemuan warga terhenti. Rutinitas yang biasanya memberi rasa aman mendadak hilang. Di posko, banyak keluarga tidur berhimpitan, menunggu kabar kapan bisa kembali ke rumah. Trauma psikologis tidak selalu tampak langsung, tetapi rasa cemas tiap awan gelap muncul akan membekas lama. Pengalaman banjir pertama jarang terlupakan, apalagi bila disertai longsor.

Dari sudut pandang saya, inilah alasan mengapa penanganan banjir seharusnya tidak hanya fokus pada infrastruktur fisik. Pendampingan sosial, pemulihan mata pencaharian, serta dukungan kesehatan mental perlu mendapat porsi sama besar. Pemerintah daerah memang memiliki batas anggaran, namun kolaborasi dengan lembaga sosial, kampus, juga komunitas bisa memperkaya solusi. Banjir di Pasirwangi seharusnya dijadikan momentum memperkuat jaring pengaman sosial yang lebih luwes, bukan sekadar membagikan bantuan darurat sesaat.

Mengapa Banjir Berulang? Menelisik Akar Masalah

Banjir bukanlah kejutan tiba-tiba. Sebagian besar pakar sudah lama mengingatkan bahwa kombinasi perubahan iklim, alih fungsi lahan, serta tata ruang lemah akan meningkatkan risiko. Di Pasirwangi, lereng bukit yang dulunya hijau mulai berkurang karena tekanan kebutuhan ruang. Penebangan pohon, pembangunan permukiman, juga kebun monokultur mengubah pola resapan air. Saat hujan ekstrem turun, air kehilangan tempat untuk meresap perlahan, lalu memilih jalur paling mudah: mengalir deras ke bawah, memicu banjir.

Faktor lain yang kerap diabaikan adalah kebiasaan membuang sampah sembarangan. Saluran air di banyak desa maupun kota sering tersumbat plastik, kain, juga limbah rumah tangga lain. Ketika hujan deras datang, aliran terhambat, kemudian meluap ke jalan serta pekarangan. Banjir seakan datang dari mana saja. Padahal, sebagian sumber masalah berasal dari perilaku keseharian. Menyalahkan cuaca saja akan menutup mata dari tanggung jawab kolektif untuk merawat lingkungan dekat.

Dari perspektif pribadi, saya melihat banjir Pasirwangi sebagai peringatan keras tentang kegagalan kita memandang ruang hidup secara menyeluruh. Pembangunan sering mengejar target fisik, namun mengabaikan daya dukung lingkungan. Ruang hijau dianggap lahan kosong, bukan penyangga air. Sungai hanya dipandang sebagai saluran buangan, bukan ekosistem hidup. Selama paradigma itu tidak berubah, banjir akan terus berulang. Bukan hanya di Pasirwangi, melainkan di banyak wilayah lain yang memiliki pola serupa.

Pelajaran Penting dan Refleksi ke Depan

Banjir di Pasirwangi seharusnya tidak berhenti menjadi catatan berita sesaat. Warga, pemerintah, juga kita sebagai pembaca perlu menjadikannya cermin. Di level lokal, perbaikan tata ruang, penguatan vegetasi di lereng, revitalisasi saluran air, hingga edukasi pengelolaan sampah harus berjalan beriringan. Di level kebijakan, perlu keberanian menolak pembangunan yang mengancam area resapan. Saya percaya, banjir bukan sekadar musibah, tetapi ujian apakah kita sungguh belajar dari pengalaman pahit atau memilih mengulang kesalahan yang sama. Pada akhirnya, cara kita merawat bumi akan menentukan seberapa sering banjir mengetuk pintu rumah.

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %
banner 336x280