Ketegaran Bocah 9 Tahun di Garut, Keliling Jual Gorengan Ingin Bantu Kebutuhan Keluarga

GARUT KOTA5,719 views

HARIANGARUTNEWS.COM – Febri (9) patut mendapatkan pujian dengan keteguhannya menjalani kehidupan. Bocah yang baru duduk di kelas 3 Sekolah Dasar Negeri (SDN) di Regol Kecamatan Garut Kota ini nampak berbeda sekali dengan anak-anak seusianya.

Anak seusia Febri, seharusnya mendapatkan masa-masa kebahagiaan, belajar dan bermain bersama kawan-kawannya. Namun dia justru harus bergelut dengan waktu, melawan teriknya panas matahari, keliling menjajakan dagangan, demi membantu kebutuhan keluarganya.

Ditemui Febri saat sedang berkeliling mencari pembeli dengan berjualan gorengan seperti Combro, Goreng Ubi, dan juga Onde-onde, di Komplek Pendopo Garut, Rabu (20/12/2023). Febri mengungkapkan pengalamannya saat sedang keliling jualan gorengan. Ia mengaku berjualan sejak kelas 1 SD.

“Dari kelas satu juga sudah jualan, dulu mah ada cireng juga. Ini yang bikin nenek saya. Nanti mah kata nenek mau sambil jualan krupuk juga,” kata Febri.

Febri mengaku tinggal di Kampung Paledang Kecamatan Garut Kota. Aktifitas berjualan gorengan kata dia atas keinginanya sendiri, tidak diminta orang tua atau siapapun, hanya ingin membantu kebutuhan keluarga.

“Keinginan sendiri kalau jualan, tidak ada yang nyuruh. Ibu saya juga kadang tidak tahu kalau saya lagi jualan, yang tau itu hanya nenek saya,” ungkapnya.

Masih kata Febri, gorengan yang ia dagangkan itu buatan dari neneknya sendiri, yang suka disimpan di warung-warung.

Febri

“Kalau ini saya yang mau, saya yang bilang ke nenek kalau saya ingin berjualan,” ujarnya.

Febri, dengan percaya diri mengatakan, bahwa ia tidak pernah merasa malu ketika sedang berjualan harus bertemu dengan teman-teman sekolah atau teman di rumahnya. Dia berjualan pagi kalau sekolah libur, kalau hari sekolah, dirinya berjualan setelah pulang sekolah.

“Kalau ketemu teman, suka di panggil bandar gorengan, saya tidak malu kok,” ungkapnya.

Dikatakan Febri, jika daganganya habis 100 biji maka dirinya mendapatkan upah uang sebesar 20 atau 30 ribu rupiah, dan dari upah tersebut kadang suka dibelikan beras untuk dibawa ke rumah.

“Kadang Rp20 ribu, kadang Rp30 ribu, gimana habisnya. Pokoknya kalau habis seep 100, saya dikasih sama nenek Rp20 rebu buat saya buat jajan, kadang dibelikan beras buat dirumah,” pungkasnya. (Ndy)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *