Lemhannas RI dan Peran Baru Alumni Daerah

PEMERINTAHAN118 Dilihat
0 0
banner 468x60
Read Time:5 Minute, 39 Second

hariangarutnews.com – Lemhannas RI makin aktif merapat ke kampus daerah, termasuk Universitas Garut (UNIGA). Bukan sekadar kunjungan seremonial, langkah ini membuka babak baru keterlibatan alumni perguruan tinggi sebagai penggerak ketahanan nasional dari tingkat lokal. Pendekatan tersebut menarik, sebab isu kebangsaan sering terasa jauh dari realitas desa, kecamatan, atau kabupaten. Melalui kolaborasi seperti ini, narasi besar ketahanan nasional turun ke ruang yang lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari warga.

Momentum kerja sama Lemhannas RI dengan UNIGA menegaskan bahwa ketahanan nasional bukan monopoli elite Jakarta. Mahasiswa, dosen, maupun alumni kampus daerah punya ruang luas untuk berkontribusi. Mereka hidup, bekerja, dan berjejaring di tengah masyarakat. Posisi itu membuat mereka ideal sebagai jembatan antara kebijakan nasional dengan kebutuhan lokal. Tantangannya, bagaimana menjadikan alumni bukan hanya penonton perubahan, tetapi pelaku utama yang peka terhadap ancaman, gesit merespons, sekaligus kreatif merangkai solusi.

banner 336x280

Lemhannas RI Turun ke Daerah: Mengapa Strategis?

Selama ini, Lemhannas RI kerap dipersepsi sebagai lembaga tinggi negara yang berkutat pada pelatihan pejabat. Namun, lanskap ancaman terhadap Indonesia berubah pesat. Disrupsi digital, polarisasi politik, konflik agraria, hingga krisis iklim menghasilkan tekanan multidimensi. Banyak sumber kerawanan justru muncul dari akar rumput. Karena itu, keterlibatan perguruan tinggi daerah seperti UNIGA menjadi sangat strategis. Kampus punya akses riset, memiliki jejaring komunitas, juga kemampuan edukasi publik yang kuat.

Langkah Lemhannas RI menggandeng alumni UNIGA dapat dibaca sebagai upaya memperluas “radar” ketahanan nasional. Alih-alih menunggu laporan resmi, negara mendapat masukan lebih dini dari aktor lokal. Alumni tersebar di pemerintahan daerah, dunia usaha, sekolah, hingga organisasi masyarakat. Mereka menyaksikan dinamika sosial langsung di lapangan. Dari sana, potensi konflik, hoaks sensitif SARA, sampai kerentanan ekonomi bisa terdeteksi lebih cepat sebelum mengeras menjadi krisis.

Dari sudut pandang pribadi, saya melihat pendekatan ini jauh lebih relevan dibanding model top–down murni. Ketahanan nasional tidak cukup dibangun lewat slogan atau regulasi. Diperlukan jaringan agen perubahan yang berakar di komunitas. Lemhannas RI masuk dengan kapasitas konseptual dan wawasan geopolitik. Sementara alumni UNIGA menawarkan pemahaman konteks lokal. Sinergi dua kekuatan tersebut memberi harapan terhadap lahirnya kebijakan yang bukan hanya rapi di atas kertas, tetapi juga efektif saat diterapkan di desa maupun kota kecil.

Alumni UNIGA sebagai Agen Ketahanan Nasional

Alumni UNIGA memiliki potensi besar sebagai motor ketahanan nasional berbasis daerah. Mereka paham kultur lokal, mengetahui pola konflik, juga mengerti karakter ekonomi kawasan Garut dan sekitarnya. Ini aset penting. Ketika Lemhannas RI mengajak mereka terlibat, sesungguhnya negara sedang membangun jaringan intelijensi sosial yang sah serta etis. Bukan mata-mata, tetapi pengamat kritis yang mampu membaca gejala kerentanan sebelum menjadi masalah besar.

Peran alumni bisa berlapis. Di sektor pendidikan, mereka menanamkan literasi kebangsaan dan pemikiran kritis di sekolah atau kampus. Di pemerintahan daerah, mereka mendorong kebijakan publik yang sensitif terhadap ketimpangan sosial, kerusakan lingkungan, serta potensi radikalisme. Di sektor bisnis, mereka memajukan ekonomi yang adil bagi petani, pelaku UMKM, maupun pekerja. Setiap keputusan berorientasi pada keseimbangan, bukan sekadar profit jangka pendek.

Dari kacamata saya, kunci keberhasilan ajakan Lemhannas RI justru ada pada kemampuan alumni mengolah bahasa. Ketahanan nasional sering terdengar abstrak. Agar gagasan tersebut diterima warga, perlu narasi yang membumi. Misalnya, menjelaskan bahwa menjaga sawah dari alih fungsi liar berarti menjaga ketahanan pangan. Mengurangi sampah plastik di sungai berarti melindungi sumber air anak cucu. Narasi konkret seperti ini membuat istilah ketahanan nasional tidak berhenti sebagai jargon di podium.

Mengubah Pelatihan Menjadi Gerakan Nyata

Tantangan berikutnya adalah memastikan program kolaborasi Lemhannas RI dengan UNIGA tidak berhenti pada seminar atau pelatihan singkat. Kegiatan seperti itu berguna sebagai pintu awal, namun belum cukup untuk mengubah perilaku kolektif. Dibutuhkan ekosistem gerakan. Alumni perlu difasilitasi membentuk kelompok kerja lintas sektor, merancang proyek kecil berbasis data lokal, lalu didampingi hingga mampu mandiri. Di titik ini, Lemhannas RI ideal berperan sebagai mentor strategis, bukan hanya penyelenggara diklat. Jika ekosistem tersebut terbentuk, ketahanan nasional tidak lagi identik dengan instruksi dari pusat, melainkan lahir sebagai refleks warga yang peduli pada masa depan daerahnya sendiri.

Ruang Kolaborasi Baru Kampus dan Negara

Kehadiran Lemhannas RI di UNIGA membuka ruang kolaborasi lebih luas antara kampus dan lembaga negara. Hubungan keduanya sering terbatas pada riset, KKN, atau diskusi formal. Padahal, perguruan tinggi memiliki kapasitas jauh lebih besar. Mereka bisa menjadi laboratorium solusi kebijakan publik. Data lokal tentang kemiskinan, bencana alam, hingga intoleransi dapat diolah menjadi rekomendasi konkret bagi pemerintah pusat maupun daerah. Lemhannas RI kemudian menyaringnya melalui perspektif geopolitik dan ketahanan nasional.

Kolaborasi seperti ini juga mengoreksi persepsi bahwa Lemhannas RI hanya “berbicara keamanan”. Dalam era sekarang, keamanan tidak lagi sesempit persoalan militer atau intelijen. Stabilitas politik, keadilan ekonomi, kesehatan mental generasi muda, hingga kualitas ruang digital memiliki pengaruh setara. Melibatkan kampus memberi akses pada riset multidisiplin. Ini penting karena ancaman modern sering bersifat saling terkait. Hoaks misalnya, menyentuh psikologi massa, teknologi informasi, hukum, bahkan teologi.

Dari sudut pandang saya, keterlibatan perguruan tinggi daerah seperti UNIGA justru membantu Lemhannas RI keluar dari menara gading. Lembaga ini diuji sejauh mana mampu menterjemahkan teori ketahanan ke dalam program nyata. Kampus daerah menyodorkan realitas apa adanya: ketimpangan layanan publik, infrastruktur minim, juga kapasitas aparatur yang bervariasi. Jika Lemhannas RI sanggup meramu solusi bersama, maka kredibilitasnya akan semakin kuat, bukan hanya di lingkar elite, melainkan di hati warga.

Ketahanan Nasional Berbasis Komunitas Lokal

Salah satu pelajaran penting dari pandemi maupun krisis ekonomi adalah ketangguhan komunitas lokal menentukan cepat lambatnya pemulihan. Ketahanan nasional berbasis komunitas berarti memberi ruang warga merumuskan cara bertahan sesuai konteks. Di sinilah peran alumni UNIGA menjadi penghubung antara konsep besar Lemhannas RI dengan inisiatif kecil di kampung. Mereka dapat membantu mengorganisasi koperasi desa, komunitas literasi, kelompok tani, atau organisasi kepemudaan agar bergerak lebih terarah.

Dibandingkan pendekatan represif, penguatan komunitas jauh lebih berkelanjutan. Misalnya, daripada sekadar kampanye antihoaks, alumni bersama Lemhannas RI bisa membangun kelompok diskusi rutin di tingkat RT atau desa. Materinya tidak melulu soal politik, bisa mencakup kesehatan, keuangan keluarga, hingga pengelolaan konflik rumah tangga. Diskusi yang konsisten membangun kepercayaan. Ketika isu sensitif muncul, warga cenderung berdialog terlebih dahulu ketimbang bereaksi emosional.

Menurut penilaian pribadi, ketahanan semacam ini justru menjadi penopang terakhir saat institusi formal melemah. Bencana alam besar, gangguan jaringan internet, atau krisis ekonomi dapat membuat layanan negara melambat. Jika komunitas lokal sudah terbiasa mandiri, mereka tidak mudah panik. Peta risiko, jalur evakuasi, hingga skema saling bantu sudah disepakati sebelumnya. Lemhannas RI berperan sebagai perancang kerangka besar, sementara alumni kampus daerah mengisi detail operasional di lapangan.

Refleksi Akhir: Menjaga Indonesia dari Pinggiran

Pada akhirnya, ajakan Lemhannas RI kepada alumni UNIGA memperlihatkan arah baru pembangunan ketahanan nasional: tidak lagi bertumpu pada pusat semata, melainkan tumbuh dari pinggiran. Saya memandang langkah ini sebagai koreksi penting terhadap cara lama melihat daerah. Bukan hanya objek pembangunan, tetapi subjek yang mampu merancang masa depan sendiri. Jika jejaring alumni kampus daerah di seluruh Indonesia bisa diaktifkan, kita membangun sabuk ketahanan yang mengelilingi pusat, bukan sebaliknya. Kesimpulannya, menjaga Indonesia hari ini berarti berani menaruh kepercayaan pada komunitas lokal, lalu mendampingi mereka agar sanggup berdiri tegak menghadapi perubahan zaman.

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %
banner 336x280