Bupati Garut dan Jejak Leluhur di HJG ke-213

0 0
banner 468x60
Read Time:3 Minute, 1 Second

hariangarutnews.com – Bupati Garut kembali menempatkan akar sejarah sebagai panggung utama perayaan Hari Jadi Garut (HJG) ke-213. Bukan sekadar seremoni, langkah ini menjadi pesan tegas bahwa kemajuan daerah perlu berjalan beriringan bersama penghormatan terhadap jejak leluhur. Prosesi adat serta ziarah dipimpin langsung Bupati Garut, menghadirkan suasana khidmat sekaligus menguatkan hubungan batin masyarakat dengan para pendahulu.

Di tengah arus modernisasi, pilihan Bupati Garut untuk memprioritaskan tradisi terasa cukup berani. Banyak pemimpin lebih sibuk memburu citra digital, tetapi Garut justru menegaskan identitasnya melalui simbol-simbol budaya lokal. Prosesi HJG tahun ini memperlihatkan upaya serius menyambung kembali memori kolektif warga terhadap sejarah kelahiran kabupaten, termasuk peran tokoh-tokoh awal yang membangun sendi pemerintahan serta kehidupan sosial.

banner 336x280

Bupati Garut di Pusaran Tradisi HJG ke-213

Keterlibatan langsung Bupati Garut dalam prosesi adat mengirim sinyal bahwa tradisi bukan pelengkap acara formal. Ia berdiri sebagai figur sentral, menuntun rangkaian ziarah serta ritual penghormatan. Kehadiran pemimpin di garis depan prosesi menumbuhkan rasa dekat bagi warga, seakan mengajak seluruh masyarakat turut melangkah menyusuri jejak leluhur. Kehadiran ini tentu bukan hanya simbolis, melainkan bentuk legitimasi terhadap nilai budaya yang diwariskan turun-temurun.

Proses ziarah ke makam para pendiri kabupaten menjadi momen refleksi bersama. Bupati Garut tidak sekadar hadir secara fisik di lokasi pemakaman; ia menghadirkan spirit penghargaan atas jasa generasi awal. Di hadapan pusara, doa dipanjatkan sebagai pengingat bahwa fondasi pemerintahan sekarang berdiri di atas keringat pendahulu. Dalam konteks pembangunan, sikap ini memperlihatkan kesadaran historis: masa kini tidak lahir dari ruang kosong.

Dari sudut pandang penulis, apa yang dilakukan Bupati Garut patut dibaca sebagai upaya menyeimbangkan narasi. Selama ini, diskursus kemajuan daerah kerap berkutat pada infrastruktur, investasi, serta teknologi. HJG ke-213 justru menambahkan dimensi kultural sebagai pilar identitas. Langkah tersebut menjadi pengingat halus bahwa pembangunan tanpa akar budaya hanya menghasilkan ruang yang tampak megah, namun rapuh di sisi batin masyarakat.

Prosesi Adat Sebagai Panggung Edukasi Publik

Prosesi adat yang digelar Bupati Garut sebenarnya juga berfungsi sebagai ruang edukasi publik. Banyak generasi muda mengenal kisah leluhur sekadar potongan nama jalan ataupun monumen. Lewat rangkaian upacara HJG, sejarah hidup kembali melalui simbol, doa, serta tata cara ritual. Anak-anak maupun remaja dapat menyaksikan langsung bagaimana nilai hormat, kebersamaan, serta kesederhanaan diterjemahkan ke tindakan nyata, bukan hanya materi buku pelajaran.

Menurut pengamatan pribadi, kekuatan prosesi ini terletak pada suasana kolektifnya. Warga berkumpul, mengikuti langkah Bupati Garut yang memimpin rombongan dengan tenang dan tertib. Momen itu menciptakan rasa memiliki bersama terhadap kabupaten. Rasa memiliki tersebut sering kali sulit muncul hanya lewat poster pembangunan atau slogan resmi. Tradisi memberi pengalaman emosional, membuat orang merasakan sendiri makna kata “Garut” sebagai rumah bersama.

Dari sisi komunikasi publik, kebijakan menghadirkan Bupati Garut di garis depan ritual juga cukup strategis. Media akan menyorot setiap gerakannya, lalu menyebarkan pesan bahwa pemerintah memberi tempat terhormat bagi budaya lokal. Ini memperluas jangkauan edukasi hingga ke masyarakat yang tidak hadir langsung. Namun, efektivitas langkah ini tetap bergantung pada konsistensi. Tradisi tidak boleh berhenti di panggung seremonial tahunan, melainkan perlu disentuh lewat program pendidikan budaya yang berkelanjutan.

Menjaga Warisan, Menata Masa Depan Garut

Refleksi akhir dari prosesi adat HJG ke-213 adalah pertanyaan: sejauh mana penghormatan terhadap leluhur mampu mengarahkan kebijakan masa depan? Bupati Garut telah membuka pintu melalui contoh konkret dalam ziarah serta ritual, namun langkah itu idealnya diterjemahkan ke program nyata: pelestarian situs sejarah, penguatan ekonomi kreatif berbasis budaya, hingga kurikulum lokal di sekolah. Garut membutuhkan pembangunan yang bukan hanya mengejar angka pertumbuhan, tetapi juga merawat jiwa kolektif warganya. Jika jejak leluhur benar-benar dijadikan kompas, maka kemajuan tidak akan membuat masyarakat tercerabut dari akar. Sebaliknya, identitas budaya justru menjadi sumber energi moral untuk melangkah lebih jauh, lebih luas, sekaligus lebih bermakna.

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %
banner 336x280