hariangarutnews.com – Setiap menjelang 14 Februari, linimasa media sosial ramai dengan ucapan sayang, hadiah bunga, hingga cokelat. Banyak muslim mulai bertanya, bagaimana sejarah Valentine jika ditinjau dari sudut pandang islami? Benarkah perayaan ini sekadar momen cinta, atau ada jejak budaya lain di baliknya? Pertanyaan seperti ini penting, sebab cara kita mengekspresikan kasih ikut membentuk kepribadian, terutama bagi generasi muda yang tumbuh di tengah arus global.
Dalam tradisi islami, konsep cinta tidak pernah dipisahkan dari iman, akhlak, serta tanggung jawab moral. Itulah sebabnya, pembahasan tentang sejarah Valentine menurut Islam tidak cukup berhenti pada boleh atau haram saja. Perlu pemahaman mendalam mengenai asal-usul, nilai yang dibawa, sekaligus bagaimana muslim bisa merayakan kasih secara lebih bermakna tanpa harus mengikuti budaya luar secara mentah. Artikel ini mengajakmu melihat persoalan Valentine islami dengan kacamata sejarah, fikih, juga refleksi pribadi.
Menelusuri Asal-Usul Valentine dari Perspektif Islami
Jika menengok literatur sejarah Barat, akar perayaan Valentine berkaitan dengan sosok Santo Valentinus, tokoh yang diyakini hidup pada masa Romawi kuno. Narasi populer menyebut ia membantu pasangan menikah secara rahasia saat kekaisaran melarang tentara berkeluarga. Cerita lain mengaitkannya dengan ritual pagan Romawi bernama Lupercalia, festival musim semi yang sarat simbol kesuburan. Sejarahnya bercampur antara mitos, legenda, serta tradisi agama tertentu, jauh dari konteks islami.
Dari sudut pandang islami, faktor penting bukan sekadar nama tokoh, melainkan nilai utama di balik sebuah tradisi. Apakah di dalamnya terdapat unsur akidah asing, ritual peribadatan non-muslim, atau kebiasaan yang merusak moral. Banyak ulama menilai Valentine bukan sekadar hari kasih sayang netral. Perayaan ini menempel pada identitas keagamaan sekaligus budaya spesifik, sehingga ketika umat Islam ikut merayakan, muncul kekhawatiran tentang tercampurnya identitas serta tiru-meniru tradisi ibadah agama lain.
Al-Qur’an menegaskan posisi muslim terkait penyerupaan tradisi ibadah pihak lain. Misalnya, larangan mengikuti jalan kehidupan kaum yang menjauh dari tauhid. Dalam ilmu fikih, perayaan khusus di luar dua hari raya islami, Idulfitri dan Iduladha, perlu dikaji terlebih dahulu. Majelis ulama di berbagai negara muslim cenderung memandang Valentine tidak sejalan dengan nilai islami, terutama sebab perayaan ini identik hubungan bebas, pacaran tanpa ikatan sah, hingga komersialisasi nafsu. Sejarah yang kabur, bercampur nuansa ritual non-Islam, membuatnya semakin problematis.
Cinta dalam Tradisi Islami: Lebih Luas dari Sekadar Romansa
Tradisi islami memandang cinta sebagai pilar kehidupan, bukan hanya kisah romantis dua insan. Cinta kepada Allah, Rasul, orang tua, pasangan halal, sesama mukmin, hingga makhluk lain, semua menempati ruang penting. Nabi Muhammad dikenal sebagai teladan kasih sayang global yang mencintai keluarga, sahabat, juga bahkan musuh yang memusuhinya. Konsep cinta islami hadir seimbang antara rasa, logika, juga tanggung jawab moral, menjauhkan penganutnya dari pola cinta yang hanya mengejar sensasi sesaat.
Di sini terlihat perbedaan paling mencolok antara Valentine populer dengan cinta islami. Perayaan 14 Februari hampir selalu dikemas dengan nuansa romantis glamor: dinner mewah, kado mahal, pose mesra di media sosial. Tidak salah memberi hadiah pada orang tersayang. Namun ketika semua berpusat pada pengakuan publik, validasi sosial, hingga mendorong hubungan di luar batas syariat, nilai islami perlahan terkikis. Cinta yang seharusnya membawa ketenangan bergeser menjadi ajang pembuktian, bahkan sumber tekanan sosial.
Sementara itu, ajaran islami mendorong umat untuk mengekspresikan cinta setiap hari melalui tindakan sederhana. Menghormati pasangan, menafkahi keluarga secara halal, menjaga lisan agar tidak menyakiti, berdoa bagi orang yang dicintai. Semua itu tidak menunggu satu tanggal khusus. Kasih sayang dalam Islam bukan pesta tahunan, melainkan napas harian. Cinta justru kehilangan makna saat dikurung dalam satu hari seremonial, lalu diabaikan pada hari-hari lain.
Sikap Muslim: Menolak Tiru, Mengganti dengan Praktik Cinta Islami
Pertanyaan praktis lalu muncul: bagaimana sikap muslim terhadap perayaan Valentine? Menurut pandangan islami yang banyak dianut ulama, umat sebaiknya tidak ikut merayakan, sebab terdapat unsur penyerupaan ritual budaya religius lain, sekaligus potensi pelanggaran batas pergaulan. Namun sikap ini tidak berhenti pada kata “tidak”. Umat justru diajak mengisi hidup dengan praktik cinta islami yang lebih kokoh: memperbaiki komunikasi keluarga, mengekspresikan kasih pada pasangan lewat doa, perhatian, waktu berkualitas, serta merawat hubungan dengan Allah sebagai sumber cinta tertinggi. Alih-alih sekadar menentang, kita bisa menjadikan momentum ini bahan muhasabah: sudah seikhlas apa cinta kita, sudah sehalal apa caranya, sudah sedekat apa hati kepada Dia yang menciptakan rasa cinta itu sendiri.
















