hariangarutnews.com – Penyerahan surat kepercayaan Duta Besar RI Adam Tugio kepada Presiden Vietnam menandai babak baru kerjasama bilateral kedua negara. Momen seremonial itu bukan sekadar prosesi diplomatik rutin, melainkan sinyal kuat bahwa Jakarta dan Hanoi siap melangkah lebih jauh. Di tengah dinamika kawasan Asia Tenggara, penguatan hubungan Indonesia–Vietnam berpotensi menjadi jangkar stabilitas, sekaligus mesin pertumbuhan ekonomi regional.
Kerjasama bilateral Indonesia–Vietnam sudah dibangun lama, namun sering muncul pertanyaan: apakah potensi nyata kedua negara sudah benar-benar dioptimalkan? Penempatan Adam Tugio sebagai duta besar membuka ruang evaluasi menyeluruh, termasuk penyusunan agenda baru yang lebih konkret. Dari isu perdagangan, keamanan maritim, transisi energi, hingga diplomasi budaya, ada banyak celah kolaborasi yang menunggu untuk diisi strategi tepat dan berani.
Makna Strategis Penyerahan Surat Kepercayaan
Secara diplomatik, penyerahan surat kepercayaan merupakan pintu resmi bagi seorang duta besar untuk bekerja penuh. Namun untuk konteks Indonesia–Vietnam, prosesi ini memuat bobot strategis lebih besar. Kerjasama bilateral kedua negara kini berkembang dari sekadar hubungan bertetangga menjadi kemitraan komprehensif di berbagai sektor. Kehadiran Adam Tugio di Hanoi memberi kesempatan menyelaraskan kepentingan nasional kedua pihak dengan kebutuhan kawasan.
Indonesia dan Vietnam sama-sama kekuatan menengah di ASEAN yang memiliki basis ekonomi raksasa, populasi besar, serta posisi geografis penting. Kolaborasi dua negara ini berpotensi mengurangi dominasi aktor eksternal di Asia Tenggara. Kerjasama bilateral yang terencana baik dapat membantu menciptakan tatanan regional lebih seimbang. Apalagi, baik Jakarta maupun Hanoi memiliki pengalaman historis kuat menghadapi tekanan geopolitik, sehingga punya empati serupa atas isu kedaulatan.
Dari sudut pandang pribadi, momen ini seharusnya dimanfaatkan untuk meninggalkan pola pikir hubungan seremonial. Kerjasama bilateral tidak cukup hanya diisi pertemuan pejabat dan penandatanganan nota kesepahaman. Yang lebih penting, ada implementasi nyata menyentuh pelaku usaha, nelayan, mahasiswa, peneliti, hingga komunitas kreatif. Duta besar perlu menggeser fokus diplomasi dari sekadar simbolik menjadi fungsional, dengan indikator keberhasilan terukur untuk publik kedua negara.
Peluang Kerjasama Bilateral di Sektor Ekonomi
Dari sisi ekonomi, Indonesia dan Vietnam sebetulnya saling melengkapi. Vietnam unggul pada manufaktur padat karya, elektronik, serta ekspor produk teknologi menengah. Indonesia memiliki kekuatan komoditas, energi, pasar besar, serta sumber daya alam melimpah. Kerjasama bilateral yang terstruktur dapat mendorong terbentuknya rantai pasok regional baru. Perusahaan Indonesia dapat memanfaatkan Vietnam sebagai basis produksi ekspor, sedangkan produk pertanian serta bahan baku dari Indonesia mendukung kebutuhan industri Vietnam.
Saya melihat kebutuhan mendesak untuk mendorong perjanjian dagang lebih progresif antara kedua negara. Hambatan tarif, regulasi, serta prosedur bea cukai masih sering dikeluhkan pelaku usaha. Kerjasama bilateral semestinya fokus pada penyederhanaan prosedur, transparansi regulasi, serta penguatan perlindungan investasi. Selain itu, promosi dagang perlu menyasar sektor baru seperti ekonomi digital, logistik, energi terbarukan, hingga industri halal yang semakin relevan bagi pasar global.
Tidak kalah penting, kemitraan ekonomi harus memberi manfaat langsung kepada pelaku UMKM. Banyak potensi produk lokal Indonesia yang bisa masuk ke pasar Vietnam, mulai dari makanan olahan, fesyen muslim, kerajinan kayu, hingga aplikasi digital. Sebaliknya, produk Vietnam seperti tekstil, elektronik, serta peralatan rumah tangga terjangkau dapat mengisi segmen pasar tertentu di Indonesia. Kerjasama bilateral yang sehat tidak hanya menguntungkan korporasi besar, tetapi juga mendorong mobilitas pelaku usaha kecil lintas batas.
Dimensi Keamanan, Maritim, dan Diplomasi Budaya
Selain ekonomi, kerjasama bilateral Indonesia–Vietnam memiliki dimensi keamanan serta budaya sangat penting. Keduanya berbagi kepentingan menjaga stabilitas Laut Cina Selatan, terutama perlindungan jalur pelayaran dan sumber daya ikan bagi nelayan. Penyelesaian batas maritim menjadi contoh konkret bagaimana dua negara dapat memilih jalur dialog ketimbang konfrontasi. Di sisi lain, diplomasi budaya melalui pertukaran pelajar, festival film, kuliner, hingga kolaborasi seniman dapat memperkuat kedekatan emosional masyarakat. Menurut saya, keberlanjutan hubungan jangka panjang justru bertumpu pada pemahaman antarmasyarakat, bukan hanya kesepakatan antar-elit politik. Dengan pendekatan menyeluruh seperti ini, penyerahan surat kepercayaan Dubes Adam Tugio ke Presiden Vietnam layak dibaca sebagai momentum penegasan komitmen bersama: menjadikan kerjasama bilateral sebagai fondasi masa depan kawasan yang lebih damai, makmur, serta inklusif.













