Ngabuburit Islami Seru dengan Kano di Irigasi Tangerang

0 0
banner 468x60
Read Time:6 Minute, 59 Second

hariangarutnews.com – Ngabuburit islami identik dengan masjid, tilawah, juga kajian singkat. Namun, generasi muda Tangerang mulai mengenal cara baru menanti azan magrib sambil tetap menjaga nuansa religius. Di saluran irigasi wilayah Tangerang, Banten, muncul aktivitas kano ramah keluarga yang menawarkan pengalaman segar: olahraga air ringan, udara sore yang sejuk, sekaligus kesempatan merenung atas kebesaran Allah lewat keindahan alam desa.

Wisata kano ini bukan sekadar rekreasi sambil menunggu waktu berbuka. Ada ruang luas untuk memasukkan nilai islami, mulai dari mengatur niat, menjaga adab terhadap sesama pengunjung, hingga merawat lingkungan sekitar sebagai amanah. Dalam tulisan ini, saya mengulas suasana ngabuburit di saluran irigasi Tangerang, peluang edukasi islami yang terselip di balik arus air tenang, serta refleksi pribadi mengenai gaya hidup muslim masa kini yang ingin tetap aktif tanpa meninggalkan ruh spiritual.

banner 336x280

Pesona Ngabuburit Islami di Saluran Irigasi

Sore hari di saluran irigasi Tangerang memberi pemandangan kontras sekaligus harmonis. Di satu sisi, terlihat anak-anak muda bersiap dengan pelampung, helm, juga kano berwarna cerah. Di sisi lain, lantunan murotal dari speaker mushola terdekat lembut mengalun. Perpaduan aktivitas fisik dan suasana islami terasa wajar, seolah mengingatkan bahwa rekreasi tidak perlu bertentangan dengan ibadah, selama niat tetap lurus serta adab terjaga.

Kanal irigasi ini mulanya sekadar infrastruktur pertanian. Aliran airnya membantu sawah tetap subur. Namun kreativitas warga menjadikannya destinasi wisata sederhana. Dengan pengelolaan lebih rapi, pengunjung bisa menyusuri tepian air memakai kano sambil menyimak azan yang akan berkumandang. Momen menjelang petang terasa syahdu, terutama ketika langit mulai berwarna keemasan. Sensasi itu kerap membuat hati tergerak untuk berdzikir pelan.

Dari sudut pandang islami, konsep memanfaatkan ruang publik untuk kegiatan positif patut diapresiasi. Anak muda memiliki alternatif hiburan selain nongkrong tanpa arah. Mereka bisa berolahraga ringan, bersosialisasi, sekaligus saling mengingatkan soal waktu salat. Sebagai penulis, saya melihat pola ini sebagai jawaban atas keresahan banyak orang tua: bagaimana mengajak remaja mencintai aktivitas sehat tanpa menjauhkan mereka dari tradisi keislaman, terutama di bulan Ramadan.

Ritual Kano, Niat, dan Adab Islami

Sebelum kano diturunkan ke air, pengunjung biasanya berkumpul sejenak. Inilah momen tepat untuk menata niat secara islami. Aktivitas yang tampak remeh seperti menyusuri saluran irigasi bisa berubah bernilai ibadah jika diniatkan sebagai sarana menjaga kesehatan, memperkuat silaturahmi, juga tadabbur alam. Rasulullah menekankan pentingnya niat. Menurut saya, mengingatkan hal ini kepada peserta, terutama anak-anak, jauh lebih efektif ketimbang ceramah panjang tanpa contoh nyata.

Selain niat, adab menjadi penanda keislaman dalam wisata kano. Pengunjung diminta bergiliran dengan tertib, tidak saling dorong, serta mengutamakan keselamatan. Operator kano biasanya membagikan pelampung dan memberi arahan singkat soal sikap di atas air. Etika islami tampak dari cara peserta menghormati instruksi, membantu teman yang kesulitan, serta menghindari teriakan berlebihan yang bisa mengganggu warga sekitar. Kesantunan itu menggambarkan bahwa muslim dapat bersenang-senang tanpa kehilangan rasa hormat.

Saya memandang praktik adab sederhana ini sebagai pendidikan karakter islami yang sangat membumi. Anak tidak sekadar mendapat nasihat abstrak, namun langsung mempraktikkan kesabaran saat menunggu giliran, menahan ego ketika ingin pamer keberanian, juga belajar empati kepada teman yang takut air. Keteladanan nyata di lapangan sering lebih mengena dibanding teori panjang di ruang kelas. Ngabuburit islami lewat kano akhirnya menjadi laboratorium sosial kecil bagi pembentukan akhlak.

Dimensi Spiritual di Tengah Suara Riak Air

Ketika kano mulai melaju pelan, suara riak air berpadu dengan hembusan angin sore. Bagi saya, ini waktu terbaik untuk merenungkan ayat-ayat tentang penciptaan alam. Al-Qur’an berkali-kali mengajak manusia memperhatikan air, bumi, juga langit sebagai tanda kebesaran Allah. Menggerakkan dayung sambil mengamati pantulan langit di permukaan irigasi membuat dzikir terasa mengalir alami, bukan sesuatu yang dipaksakan. Wisata sederhana pun berubah menjadi pengalaman spiritual halus.

Nuansa islami makin kuat ketika azan magrib mendekat. Sebagian peserta mulai menepi, menyiapkan takjil sederhana di bantaran irigasi. Kurma, air mineral, serta kue tradisional tersusun di meja plastik. Tidak jarang ada pengumuman kecil mengingatkan siapa pun untuk berbuka sesuai sunnah. Saya melihat interaksi spontan seperti saling berbagi kurma dengan pengunjung asing sebagai wujud nyata ukhuwah. Saling memberi tanpa banyak basa-basi justru menunjukkan kedalaman nilai keimanan.

Bagi masyarakat sekitar, wisata kano ini bukan ancaman bagi kesakralan Ramadan, melainkan saluran kreatif agar semangat islami semakin hidup. Anak muda tetap tertarik datang, karena suasana rekreasi terasa menyenangkan. Namun mereka pulang dengan pengalaman rohani: ingat waktu salat, merasakan kebersamaan, serta mendapat teladan bagaimana bersikap sopan di ruang publik. Di sinilah menurut saya letak pentingnya integrasi antara budaya populer, olahraga ringan, dan pendidikan spiritual.

Manfaat Kesehatan dan Ketenangan ala Gaya Hidup Islami

Dari perspektif kesehatan, mendayung kano melatih otot tangan, bahu, juga punggung. Gerakan ritmis membantu pernapasan lebih teratur. Seseorang yang rutin melakukan aktivitas ini berpotensi memiliki stamina lebih baik, termasuk saat menjalani ibadah puasa. Dalam ajaran islami, menjaga tubuh merupakan bagian dari syukur terhadap nikmat. Wisata kano memberi cara menyenangkan untuk merawat fisik tanpa mengorbankan sisi religius.

Selain manfaat fisik, ketenangan batin menjadi bonus besar. Sore hari di saluran irigasi jauh dari hiruk pikuk pusat kota. Suara kendaraan berkurang, diganti kicau burung dan percikan air. Bagi jiwa yang lelah, suasana tersebut ibarat jeda mental. Islam menganjurkan keseimbangan antara kerja, ibadah ritual, dan istirahat berkualitas. Kano saat ngabuburit memberi paduan unik antara relaksasi, aktivitas ringan, serta momen spiritual.

Saya percaya gaya hidup islami masa kini tidak perlu anti hiburan. Tantangannya justru memilih bentuk rekreasi yang selaras dengan nilai iman. Wisata kano di Tangerang memberi contoh menarik. Tidak ada musik keras berlebihan, tidak ada perilaku ugal-ugalan, juga tetap menghormati waktu azan. Ruang ekspresi anak muda tetap luas, namun berada di dalam koridor etika. Pola ini patut direplikasi di tempat lain, tentu dengan penyesuaian budaya lokal.

Ekonomi Warga dan Tanggung Jawab Sosial Islami

Kehadiran wisata kano islami di saluran irigasi membawa dampak ekonomi bagi warga. Muncul penjual takjil, penyewa pelampung, hingga jasa dokumentasi foto. Perputaran uang sepanjang sore membantu keluarga sekitar menambah penghasilan. Islam mendorong umat mencari rezeki halal dengan cara baik, sekaligus menghindari praktik merugikan. Selama pengelolaan dilakukan jujur, transparan, serta menghindari riba, aktivitas ekonomi ini menjadi bagian dari ibadah muamalah.

Namun, geliat wisata juga memunculkan tanggung jawab sosial. Sampah plastik dari kemasan minuman dan makanan ringan bisa mencemari air irigasi. Di sinilah nilai islami mengenai amanah menjaga bumi mendapat ujian. Saya menilai perlunya aturan tegas, misalnya kewajiban membawa pulang sampah, menyediakan tempat sampah terpisah organik dan anorganik, juga memberi edukasi singkat sebelum pengunjung turun ke area kano. Menjaga kebersihan bukan sekadar slogan, melainkan implementasi iman.

Pengelola dapat bekerja sama dengan karang taruna, takmir mushola, juga komunitas pecinta lingkungan. Mereka bisa membuat program sedekah sampah, di mana botol plastik terkumpul lalu dijual, hasilnya disalurkan bagi yatim sekitar. Konsep ini mengikat tiga pilar: wisata, ekologis, dan sosial islami. Dari pengalaman saya mengamati berbagai destinasi lokal, tempat yang memadukan ketiganya cenderung berumur panjang, karena mendapat dukungan moral kuat dari masyarakat.

Potensi Edukasi Keluarga dan Generasi Muda

Bagi keluarga muslim, wisata kano dapat dijadikan kelas terbuka. Orang tua bisa menjelaskan pada anak mengenai fungsi irigasi, pentingnya air bagi kehidupan, lalu menghubungkannya dengan ayat-ayat Al-Qur’an tentang air sebagai sumber kehidupan. Pendekatan konkret seperti ini membuat ilmu agama terasa dekat dengan realita, tidak berhenti pada hafalan. Anak menyaksikan air mengalir, petani di kejauhan, juga langit senja yang indah, sehingga pesan islami tertanam kuat.

Guru atau komunitas kajian remaja pun bisa memanfaatkan lokasi ini untuk kegiatan luar ruang. Misalnya, mengadakan tadabbur alam singkat sebelum sesi kano. Peserta diajak mengamati lingkungan sekitar, kemudian menuliskan refleksi tentang kebesaran Allah. Setelah itu, mereka menikmati kano secara teratur. Menurut saya, metode seperti ini mengasah kepekaan spiritual sekaligus kreativitas. Nilai islami tidak lagi terasa kaku, melainkan hadir sebagai pengalaman menyentuh indera dan perasaan.

Lebih jauh lagi, generasi muda bisa didorong terlibat mengelola wisata. Mereka belajar manajemen sederhana, komunikasi, pemasaran digital, hingga keamanan air. Jika seluruh proses diarahkan oleh prinsip islami, misalnya jujur, amanah, serta menghindari penipuan, maka kader pengusaha muda muslim pun tumbuh. Ngabuburit di saluran irigasi bukan sekadar agenda rutin Ramadan, melainkan pintu menuju kemandirian ekonomi dan kedewasaan karakter.

Refleksi Pribadi dan Harapan bagi Wisata Islami

Melihat fenomena wisata kano sambil ngabuburit di saluran irigasi Tangerang, saya merasakan optimisme. Umat mampu beradaptasi dengan zaman tanpa meninggalkan identitas islami. Ruang publik dihidupkan melalui kegiatan sehat, ramah keluarga, serta bernilai edukatif. Tentu ada pekerjaan rumah: memastikan kebersihan, keselamatan, juga kesesuaian adab. Namun jika komunitas muslim mau terlibat aktif, saya percaya destinasi seperti ini akan menjadi contoh bagaimana rekreasi, ekonomi lokal, serta spiritualitas islami bisa berjalan seiring. Pada akhirnya, setiap kayuhan dayung menjadi pengingat bahwa hidup pun sebuah perjalanan; tujuan utamanya bukan sekadar senja yang indah, melainkan ridha Allah di ujung waktu.

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %
banner 336x280