hariangarutnews.com – Nama Bupati Garut kembali mencuat saat memasuki Ramadan 1447 H. Bukan sekadar membuka acara seremonial, ia memanfaatkan momentum Paket Ramadan Persis Garut Kota untuk menegaskan pesan penting: kebersihan mesti menyentuh tiga ranah sekaligus, yakni tubuh, hati, serta lingkungan sekitar. Cara penyampaian ini membuat Ramadan tidak hanya identik ibadah ritual, melainkan juga perubahan sikap serta perilaku sosial.
Bagi masyarakat Garut, kehadiran Bupati Garut pada kegiatan keagamaan seperti ini menjadi simbol arah kebijakan daerah. Ketika kepala daerah menyoroti kebersihan personal, kebersihan batin, juga kebersihan ruang hidup, sesungguhnya ia sedang menghubungkan nilai religius dengan budaya hidup sehat serta tertib. Dari sinilah menarik untuk menelaah lebih jauh pesan Ramadan itu, lalu mengaitkannya dengan realitas keseharian warga.
Momentum Ramadan Bersama Bupati Garut
Pembukaan Paket Ramadan 1447 H Persis Garut Kota menghadirkan suasana religius sekaligus hangat. Bupati Garut tidak sekadar hadir sebagai tamu kehormatan. Ia ikut menempatkan diri sebagai bagian dari jamaah, yang sama-sama ingin menjadikan Ramadan sebagai ruang memperbaiki kualitas diri. Dalam konteks kepemimpinan lokal, ini memberikan sinyal bahwa isu moral bukan hanya urusan mimbar masjid, namun juga urusan kantor pemerintahan.
Seruan Bupati Garut mengenai kebersihan pribadi terasa relevan. Di tengah padatnya aktivitas, kebersihan tubuh sering dipandang hal sepele. Padahal, nilai kesehatan berangkat dari disiplin sederhana seperti mandi teratur, pakaian bersih, dan pola hidup rapi. Ketika pesan itu hadir di forum keagamaan, publik diingatkan bahwa menjaga tubuh bukan sekadar urusan medis, melainkan juga bentuk syukur atas nikmat Allah.
Keberadaan Bupati Garut pada kegiatan Ramadan semacam ini juga memperlihatkan pola komunikasi yang menarik. Ia mencoba memadukan bahasa agama dengan bahasa pembangunan. Ketika umat diajak memperbaiki kualitas ibadah, pada saat sama mereka juga diajak peduli kebersihan lingkungan, tata kota, serta perilaku sosial. Artinya, Ramadan menjadi pusat edukasi publik yang strategis.
Kebersihan Diri, Hati, dan Lingkungan
Penekanan Bupati Garut terhadap kebersihan diri sesungguhnya menyasar dua lapis. Lapis pertama menyentuh aspek fisik: kesehatan tubuh, kebiasaan membersihkan rumah, juga disiplin menjaga makanan. Lapis kedua mengarah ke karakter: sikap hati-hati dalam bertutur, rendah hati, dan menjauhi perilaku yang merugikan orang lain. Gabungan dua dimensi ini mengingatkan bahwa manusia utuh tersusun dari raga serta jiwa yang selaras.
Kebersihan hati lebih sulit diukur, tetapi justru menjadi inti pesannya. Ramadan menuntut latihan menahan amarah, iri, serta kebencian. Bupati Garut seolah mengajak warga merenungi, apa makna berpuasa jika gosip, fitnah, juga hinaan masih mengalir bebas. Pembersihan hati berarti melapangkan ruang untuk empati, saling percaya, dan kesediaan memaafkan. Dalam iklim sosial yang rawan konflik, pesan seperti ini terasa menyejukkan.
Sementara itu, kebersihan lingkungan berkaitan erat dengan wajah kota Garut. Sampah menumpuk, selokan tersumbat, atau pasar yang kumuh, sering dianggap masalah teknis. Ketika Bupati Garut menaikkan isu itu ke panggung keagamaan, ia sebenarnya sedang mengubah cara pandang warga. Menjaga lingkungan tidak lagi diperlakukan sebagai beban dinas kebersihan, melainkan bagian dari ibadah kolektif seluruh masyarakat.
Peran Bupati Garut sebagai Teladan Publik
Dari sudut pandang pribadi, saya melihat peran Bupati Garut di acara Ramadan ini tidak boleh berhenti pada retorika. Seruan kebersihan mesti ditopang kebijakan nyata: sistem pengelolaan sampah yang lebih tertata, edukasi kesehatan hingga tingkat RT, juga penguatan komunitas masjid sebagai pusat literasi kebersihan lahir batin. Jika kepala daerah mampu menghadirkan teladan melalui gaya hidup pribadi yang sederhana, tertib, serta bersih, maka pesan dari mimbar akan menemukan pijakan di realita. Pada akhirnya, Ramadan di Garut idealnya menjadi laboratorium sosial, tempat masyarakat belajar menggabungkan cahaya spiritual, kesalehan sosial, dan komitmen menjaga bumi, dipandu peran aktif Bupati Garut sebagai lokomotif perubahan.













