ETLE Garut: Lonceng Perubahan di Sekitar RSUD dr. Slamet

SEPUTAR GARUT191 Dilihat
0 0
banner 468x60
Read Time:3 Minute, 30 Second

hariangarutnews.com – ETLE mulai menjelma jadi istilah akrab bagi pengendara di Garut. Terutama setelah Polres Garut gencar mengoptimalkan pemantauan lalu lintas melalui kamera di sekitar RSUD dr. Slamet. Bukan sekadar penindakan tilang otomatis, kehadiran ETLE pada titik rawan ini menyentuh isu yang lebih luas. Yaitu, hak setiap pasien, tenaga kesehatan, serta warga sekitar untuk memperoleh akses jalan yang aman, tertib, bebas bising klakson atau aksi kebut-kebutan di depan rumah sakit.

Keputusan fokus pada kawasan RSUD dr. Slamet menunjukkan perubahan cara pandang. Keselamatan tidak lagi dipahami sebatas angka kecelakaan di statistik kepolisian. ETLE diarahkan menjadi alat untuk membentuk budaya tertib yang konsisten. Di sinilah menariknya kebijakan baru Polres Garut. Ia mengundang kita menilai ulang perilaku harian ketika berkendara. Apakah jalan raya ruang bersama yang mesti dihormati, atau sekadar tempat mengejar waktu tanpa peduli risiko bagi orang lain.

banner 336x280

ETLE di Garut: Dari Tilang Digital Menuju Budaya Tertib

Bicara ETLE, banyak orang langsung terbayang surat tilang yang tiba lewat pos. Namun penerapan sistem cerdas di sekitar RSUD dr. Slamet sesungguhnya menyimpan misi lebih luas. Kamera bukan diletakkan hanya demi mengejar pelanggaran. Lokasi itu dipilih karena lalu lintas di depan rumah sakit kerap padat. Ambulans butuh jalur bersih. Pejalan kaki hilir-mudik. Keluarga pasien menyeberang sambil membawa kursi roda atau infus. Satu pengendara ugal-ugalan dapat berujung fatal.

Dengan ETLE, pengawasan menyala 24 jam tanpa lelah. Petugas tidak perlu selalu berdiri di pinggir jalan mengatur arus di bawah terik maupun hujan. Sistem merekam pelanggaran dengan bukti visual yang jelas. Plat nomor tertangkap, waktu kejadian tercatat, jenis pelanggaran teridentifikasi. Efek psikologisnya kuat. Pengendara akan berpikir dua kali sebelum melanggar lampu merah, melawan arus, atau berhenti sembarangan di depan pintu IGD. Ketakutan akan kamera sering kali lebih efektif daripada keberadaan polisi fisik.

Dari sudut pandang kebijakan publik, ETLE di sekitar RSUD dr. Slamet bisa dilihat sebagai pilot project perubahan perilaku. Jika kawasan sensitif ini mampu tertib, pola serupa dapat digelar di titik lain. Misalnya, area sekolah, pasar tradisional, atau persimpangan rawan kecelakaan. Garut punya kesempatan menjadi contoh kabupaten yang tidak menunggu kasus besar dulu baru bergerak. Justru pencegahan diutamakan. Itu langkah maju yang layak diapresiasi, sambil tetap dikritisi supaya tidak berhenti pada aspek penindakan saja.

Mengapa ETLE Penting di Kawasan Rumah Sakit

Rumah sakit berbeda dibanding pusat perbelanjaan atau terminal. Di sana ada pasien kritis yang setiap detik begitu berarti. Lalu lintas yang tersendat karena parkir sembarangan bisa menunda ambulans beberapa menit. Bagi korban kecelakaan atau serangan jantung, jeda sependek itu dapat menentukan hidup maupun mati. ETLE di sekitar RSUD dr. Slamet, jika diatur secara tepat, membantu memastikan jalur utama tetap mengalir. Tidak lagi mudah tersumbat kendaraan parkir liar atau kendaraan besar berhenti tanpa aturan.

Bukan hanya ambulans. Keluarga pasien sering kali datang dengan pikiran kalut. Dalam kondisi emosi naik-turun, mereka mungkin kurang fokus ketika menyeberang. Pejalan kaki seperti ini memerlukan lingkungan lalu lintas yang lebih tertib. ETLE memberi sinyal kuat bahwa setiap pengendara wajib menjaga kecepatan, mematuhi marka, serta menghormati zona penyeberangan. Kamera menjadi representasi kehadiran negara yang melindungi warga paling rentan, bukan sekadar sebagai pemungut denda tilang.

Ada dimensi psikologis lain yang patut disorot. Banyak orang masih memandang pelanggaran lalu lintas sebagai hal sepele. Lampu merah diterobos sedikit, parkir dekat tikungan, menyalip dari bahu jalan, dianggap lumrah. Ketika ETLE ditegakkan konsisten di sekitar RSUD dr. Slamet, publik dipaksa mengakui bahwa pelanggaran kecil berpotensi berdampak besar. Negara mengatakan: di area perawatan nyawa manusia, kelalaian tidak lagi bisa ditoleransi. Pesan moral ini lebih tajam daripada seratus spanduk imbauan.

Tantangan, Harapan, dan Refleksi untuk Masa Depan ETLE

Meski begitu, ETLE bukan obat mujarab tanpa cela. Tantangan muncul pada sisi transparansi, akurasi kamera, hingga kemudahan warga mengklarifikasi bila merasa tidak bersalah. Sosialisasi perlu lebih gencar, terutama bagi masyarakat yang belum akrab teknologi. Idealnya, ETLE di Garut menyatu dengan program pendidikan berlalu lintas di sekolah, komunitas ojek, sopir angkot, hingga organisasi pemuda. Saya pribadi berharap ke depan publik tidak lagi memandang ETLE semata alat menakut-nakuti, melainkan bagian ekosistem keselamatan kolektif. Kalau suatu hari kita bisa melintasi kawasan RSUD dr. Slamet tanpa klakson berlebihan, tanpa kendaraan parkir sembarangan, tanpa pengendara menerobos lampu merah, mungkin saat itu kita akan menyadari: kamera hanyalah pemicu. Pelaku perubahan sesungguhnya tetap kita, para pengguna jalan, yang mau menahan ego demi keselamatan orang lain.

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %
banner 336x280