hariangarutnews.com – Pondok Pesantren Darul Arqam Muhammadiyah Garut kembali menjadi sorotan berkat langkah beraninya menanamkan spirit ibadah haji sejak usia belia. Ratusan santri diberangkatkan ke Tanah Suci bukan sekadar untuk wisata religi, melainkan sebagai proses pendidikan ruhani yang terstruktur. Keputusan ini mencerminkan visi luas pesantren, bahwa pembinaan generasi beriman tidak cukup lewat ruang kelas, tetapi juga melalui pengalaman langsung di pusat peradaban Islam.
Praktik pembelajaran berbasis pengalaman ini menjadikan Pondok Pesantren Darul Arqam Muhammadiyah Garut tampak menonjol di tengah banyak lembaga pendidikan Islam lain. Keberangkatan ratusan santri menuju Makkah dan Madinah menjadi simbol kesungguhan pesantren membentuk karakter muslim yang matang. Bukan hanya hafal teori manasik, santri diajak merasakan suasana spiritual di Tanah Suci, sehingga nilai ibadah meresap kuat ke dalam jiwa mereka sejak dini.
Profil Pondok Pesantren Darul Arqam Muhammadiyah Garut
Pondok Pesantren Darul Arqam Muhammadiyah Garut berada di bawah naungan organisasi Muhammadiyah yang memiliki tradisi panjang pada bidang pendidikan modern. Pesantren ini memadukan kurikulum keagamaan dengan pengetahuan umum, sehingga santri tidak hanya mampu membaca kitab, tetapi juga siap bersaing pada era teknologi informasi. Lingkungannya dirancang kondusif, tertib, serta berdisiplin tinggi, sehingga membentuk budaya belajar yang kuat sekaligus religius.
Ciri khusus Pondok Pesantren Darul Arqam Muhammadiyah Garut terlihat pada keseriusan membentuk kemandirian santri. Pola asuh berasrama melatih mereka mengelola waktu, menjaga kebersihan, serta menghargai sesama. Pembiasaan ibadah berjamaah, halaqah Al-Qur’an, hingga kajian rutin menjadikan suasana pesantren terasa hidup. Di sisi lain, penguasaan ilmu umum tetap diperhatikan melalui integrasi kurikulum formal berstandar nasional.
Karakter Muhammadiyah tampak kuat lewat pendekatan rasional, moderat, dan berorientasi kemajuan. Pondok Pesantren Darul Arqam Muhammadiyah Garut tidak menutup diri terhadap perkembangan ilmu pengetahuan modern. Justru, pesantren mendorong santri untuk melek teknologi, kritis, serta produktif. From this kombinasi, lahir generasi muda muslim yang kokoh secara aqidah, luas pengetahuan, serta peka terhadap tantangan sosial kontemporer.
Makna Pemberangkatan Ratusan Santri ke Tanah Suci
Pemberangkatan ratusan santri ke Tanah Suci oleh Pondok Pesantren Darul Arqam Muhammadiyah Garut patut dibaca sebagai investasi spiritual jangka panjang. Pada usia remaja, pengalaman menunaikan umrah atau mengikuti rangkaian manasik haji di Makkah meninggalkan jejak mendalam pada memori serta kepribadian. Ketika mereka kelak dewasa, kenangan menyentuh Ka’bah, berdoa di Multazam, atau shalat di Masjidil Haram akan menjadi pengingat kuat agar tetap berada pada jalan lurus.
Keberanian mengirim ratusan santri tentu memerlukan perencanaan matang, baik dari sisi pembiayaan, keamanan, maupun pendampingan spiritual. Di sini terlihat kualitas manajemen Pondok Pesantren Darul Arqam Muhammadiyah Garut. Program seperti ini tidak lahir secara spontan, melainkan hasil perencanaan strategis, penggalangan dukungan orang tua, serta jaringan kerja sama luas. Hal tersebut mencerminkan bahwa pesantren mampu mengelola kepercayaan umat menjadi program pendidikan konkret.
Dari sudut pandang pribadi, saya melihat kebijakan ini sebagai bentuk revolusi pembelajaran ibadah. Selama ini, rukun Islam kelima sering dianggap puncak ibadah usia senja. Pondok Pesantren Darul Arqam Muhammadiyah Garut justru memutar paradigma, bahwa spirit haji seharusnya hadir sejak muda. Anak yang telah merasakan suasana haru di Tanah Suci cenderung lebih berhati-hati pada perilaku, sebab mereka merasa pernah menjadi tamu Allah. Status tamu ini melekat pada kesadaran moral yang terus membimbing langkah mereka.
Pendidikan Karakter Melalui Ibadah Haji Sejak Dini
Pendidikan karakter melalui program keberangkatan ke Tanah Suci yang diinisiasi Pondok Pesantren Darul Arqam Muhammadiyah Garut memberikan dimensi baru untuk konsep pembinaan akhlak. Ketika santri belajar tawaf, sa’i, hingga wuquf secara simulasi lalu menyaksikannya langsung di Makkah, mereka tidak hanya memahami tata cara ritual, tetapi juga nilai kesetaraan, kesabaran, serta ketundukan total kepada Allah. Pakaian ihram menghapus sekat sosial, membuat setiap santri menghayati bahwa kedudukan manusia di hadapan Tuhan setara, hanya takwa yang membedakan. Pengalaman itu berpotensi besar meredam sikap sombong, individualistis, serta gaya hidup konsumtif yang semakin menguat pada generasi muda. Di tengah budaya populer yang sering menonjolkan citra diri, program ibadah terarah seperti ini mengajak santri kembali pada esensi kemanusiaan: rendah hati, peduli sesama, serta siap berkorban untuk kebaikan.
Spirit Ibadah Terintegrasi Kurikulum Pesantren
Langkah Pondok Pesantren Darul Arqam Muhammadiyah Garut tidak berdiri sendiri, melainkan terhubung dengan seluruh sistem pembelajaran. Spirit ibadah yang dibawa pulang dari Tanah Suci kemudian diintegrasikan ke dalam kegiatan harian pesantren. Santri diarahkan untuk menjadikan pengalaman tersebut sebagai energi baru untuk meningkatkan kualitas tilawah, memperbaiki shalat, serta memperdalam kajian fikih. Dengan begitu, haji atau umrah tidak berhenti hanya sebagai peristiwa sesaat.
Integrasi ini terlihat pada upaya guru memanfaatkan momen keberangkatan sebagai materi refleksi kelas. Misalnya, guru sejarah kebudayaan Islam dapat mengajak santri membahas peradaban Makkah dan Madinah dari kacamata sejarah, sosiologis, hingga ekonomi. Guru akidah menyoroti nilai tauhid yang tercermin pada rangkaian manasik haji. Pendekatan tematik seperti ini membuat pembelajaran terasa relevan, konkret, serta dekat dengan realitas yang baru saja dialami santri.
Dari perspektif penulis, pola integrasi tersebut merupakan contoh aplikasi pendidikan karakter komprehensif. Pondok Pesantren Darul Arqam Muhammadiyah Garut tidak membiarkan pengalaman spiritual menguap tanpa kelanjutan. Setiap kesan di Tanah Suci diarahkan menjadi pelajaran hidup. Sikap sabar menunggu antrean di bandara, kejujuran saat belanja, hingga kepedulian terhadap jamaah lansia, semuanya dapat dibahas kembali sebagai studi kasus etika Islam modern.
Menjawab Tantangan Zaman Bagi Generasi Muda
Generasi muda muslim menghadapi tantangan besar: arus informasi cepat, godaan hedonisme, serta krisis teladan. Pondok Pesantren Darul Arqam Muhammadiyah Garut menjawab masalah ini lewat pendidikan spiritual yang berwawasan global. Keberangkatan ratusan santri ke Tanah Suci menunjukkan bahwa pesantren tidak sekadar mengurung santri di balik pagar, melainkan membuka cakrawala dunia, namun tetap berporos pada Ka’bah sebagai pusat orientasi hidup.
Ketika santri menyaksikan beragam etnis muslim dari berbagai negara berkumpul di Masjidil Haram, mereka belajar bahwa Islam tidak sempit, tidak identik dengan satu budaya saja. Kesadaran kosmopolit ini penting pada era globalisasi. Santri memahami bahwa mereka bagian dari umat besar yang tersebar di seluruh dunia. Dari sini, muncul rasa percaya diri sekaligus tanggung jawab moral untuk menjaga citra Islam lewat perilaku sehari-hari.
Saya melihat, apa yang dilakukan Pondok Pesantren Darul Arqam Muhammadiyah Garut dapat menjadi model bagi lembaga lain. Pendidikan berbasis pengalaman ibadah lintas negara mendorong santri keluar dari zona nyaman. Mereka berlatih menghadapi lingkungan asing, mengelola rindu kepada keluarga, serta menata emosi ketika lelah ibadah. Keterampilan emosional seperti ini sangat dibutuhkan di tengah dunia kerja yang menuntut ketangguhan mental sekaligus integritas.
Refleksi Akhir: Menakar Makna Perjalanan Ruhani
Perjalanan ratusan santri menuju Tanah Suci bersama Pondok Pesantren Darul Arqam Muhammadiyah Garut sesungguhnya bukan sekadar kisah keberangkatan kelompok pelajar muslim. Ini adalah simbol arah baru pendidikan Islam yang lebih berani, mendalam, serta berorientasi karakter. Pengalaman spiritual tidak cukup diceritakan melalui buku, tetapi perlu disentuh langsung lewat langkah kaki di Masjidil Haram. Dari sinilah harapan besar bermula: lahir generasi yang tidak hanya fasih berbicara tentang agama, namun juga matang secara ruhani, dewasa menghadapi godaan zaman, serta siap mengabdi kepada masyarakat. Pada akhirnya, setiap perjalanan ke Tanah Suci adalah ajakan untuk pulang ke dalam diri sendiri, menata ulang niat hidup, lalu berjalan kembali membawa cahaya nilai Islam ke tengah dunia yang terus berubah.















