Tokoh Desa Sukalilah Cibatu Ini Ajak Masyarakat Berpartisipasi Aktif Menjadi Agen Pembangunan, Ki Dalem : Desa Harus Menunjukan Kemandirian

MIMBAR EDUKASI1,386 views

HARIANGARUTNEWS.COM – Salah seorang tokoh Desa Sukalilah, Kecamatan Cibatu, Kabupaten Garut, Atep Supriadi (52) atau yang dikenal dengan panggilan, Ki Dalem, menyampaikan bahwa desa merupakan harapan masa depan.

“Kita jangan lagi menempatkan desa sebagai masa lalu, justru sebaliknya kita harus menempatkan desa menjadi masa depan,” ujar Atep saat berkunjung ke kantor redaksi hariangarutnews.com, Rabu (21/09/2023).

Oleh karena itu, lanjut dia, dirinya sebagai warga desa selalu ingin mengembangkan istilah ruralisasi atau kembali desa melalui pemberdayaan peningkatan taraf ekonomi mulai dari sektor pertanian, peternakan maupun pengelolaan bank sampah. Menurutnya, dari berbagai kondisi yang dihadapi oleh bangsa saat ini, benteng teraman, terbaik dan terkuat adalah desa.

“Termasuk saat dua tahun lalu kondisi pandemi yang melanda dunia, ternyata desa memiliki daya tahan yang luar biasa, bukan hanya urusan kesehatan, urusan ekonomi pun seluruh sektor mengalami pertumbuhan minus, kecuali pertanian dan peternakan yang semua tahu bicara dua sektor tersebut adalah kehidupan di desa,” kata Dia yang mengaku pernah menjadi peternak kelinci dan pengusaha gorden selama puluhan tahun di luar daerah Garut.

Atep Supriadi atau yang akrab disapa Ki Dalem bersama pengusaha gorden, Endang Kurniawan dan isteri saat berkunjung ke kantor redaksi Harian Garut News di Villa Lembah Asri, Blok C No. 17 Desa Mekargalih, Kecamatan Tarogong Kidul, Rabu (21/09/2023).

Dalam kesempatannya, Pendiri Paguyuban Masyarakat Desa Sukalilah yang tinggal di Kampung Cisalak Tengah RT02/10, Desa Sukalilah ini menyampaikan saat ini sudah banyak desa yang menunjukkan contoh-contoh terbaik pengelolaan wewenang dan sumber daya. Ia menyampaikan, ada banyak hal positif yang bisa dipelajari dari desa, mulai dari transparansi penggunaan dana desa, isu pemberdayaan masyarakat hingga inovasi layanan.

“Desa sering dipandang hanya menjadi penyangga dan penyuplai kebutuhan masyarakat kota, mulai dari tenaga kerja, produk pertanian hingga tempat untuk menyimpan sampah. Dalam kerangka berpikir ini, kita sering melihat desa sebagai masa lalu, bahwa suatu saat semua beralih ke kota sebagai masa depan,” ucapnya.

Atep menilai keberadaan desa akan kian penting di masa depan sebagai pusat peradaban yang mampu mewujudkan kepentingan warganya.

“Saat ini sudah banyak desa yang menunjukkan contoh-contoh terbaik dalam pengelolaan wewenang dan sumber daya. Fenomena ini memberikan bukti bahwa desa merupakan masa depan Indonesia. Desa terus menunjukkan kemandirian dan inovasi yang mengembirakan dalam menggunakan dana desa, mendorong tumbuhnya inovasi, hingga meningkatkan taraf ekonomi bagi warganya,” kata dia.

Atep mengungkapkan, program pembangunan dan pemberdayaan desa melalui pendampingan masyarakat secara intensif akan mendorong perubahan yang bersumber dari kesadaran masyarakat. Suatu proses pemberdayaan dikatakan berhasil ketika mampu mengajak masyarakat untuk berpartisipasi secara aktif hingga kelompok komunitas atau masyarakat tersebut menjadi agen pembangunan atau dikenal juga sebagai subjek, pungkasnya. (Igie)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *