oleh

Nasib Pembatik Garutan Pasca Rumah Tergusur, Tawarkan Batik untuk Bayar Kontrakan

HARIANGARUTNEWS.COM – Kesulitan ekonomi dampak pandemi Covid-19 menyasar ke semua masyarakat tanpa kecuali, apalagi warga masyarakat yang berada dibawah garis kemiskinan. Untuk warga kurang mampu dampak wabah virus yang berkepanjangan ini sangat sekali terasa dampaknya.

Hal ini salah satunya dirasakan langsung oleh seorang penulis Batik Asli Garutan, Kurnaesih (72) yang disapa akrab Mah Enong, warga Jalan Mawar, Kelurahan Pakuwon, Kecamatan Garut Kota. Disamping untuk mencari kebutuhan sehari-hari, ia juga harus memikirkan untuk membayar rumah kontrakan, karena pasca tergusur reaktivasi PT KAI, ia dan anak cucunya belum memiliki rumah kembali secara pribadi.

“Gaduh hasil buburuh ngabatik ukur cekap kanggo tuang wumgkul, bumi kontrakan kedah dibayar unggal sasih, pami henteu ema calik dimana, da bumi kagusur. (Ya penghasilan membatik hanya cukup buat makan saja, rumah kontrakan harus dibayar tiap bulan, kalau enggak ema mau tinggal dimana, rumah dulu tergusur,” ucap Mah Enong, Senin (19/04/2021).

Kepada hariangarutnews.com Mah Enong mengaku, sedang menawarkan hasil karyanya, batik tulis asli Garutan. Namun karena beberapa butik yang biasa menerima sedang kondisi tidak normal, batinnya ini belum jadi uang.

“Ema bingung ngical kamana, sedengkeun artos peryogi kanggo kontrakan bumi (Emang bingung mau jual kemana, sedangkan rumah kontrakan harus dibayar,” ucapnya dengan wajah bingung.

Batik Karya Mah Enong jenis “Lima Warna” yang ditawarkan

Ia berharap, batiknya bisa terjual secepat mungkin untuk memenuhi kebutuhannya, karena saat ini kebingungan membayar rumah kontrakannya. Kondisi sosial ini menggambarkan betapa dahsyatnya bencana non-alam pandemi Covid-19. Banyak rakyat yang berada dibawah garis kemiskinan menangis pilu kesusahan. (Ndy)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terbaru