Yang menjadi indikator ekonomi makro salah satunya yang terus turun adalah nilai tukar Rupiah. Kita perhatikan hari Senin (2/3) nilai tukar rupiah terhadap USD masih berada pada level Rp14.413, hanya dalam waktu kurang lebih tiga minggu, Kamis (27/3) nilai tukar rupiah jatuh pada level Rp16.305 atau mengalami depresiasi sebesar 14,32%, terburuk sepanjang semenjak Reformasi 1998.
Faktor-faktor eksternal juga memengaruhi pergerakan nilai tukar rupiah sehingga terus terpuruk. Sehingga ada indikasi terjadinya sentimen negatif kepada nilai tukar rupiah, akibat kekecewaan pasar dalam melihat lambatnya respon Pemerintah dalam menangai penyebaran COVID-19, sehingga akhirnya pasar merespon secara negatif.
Sementara, ditambahkan KH Toriq sendiri, sampai di hari ke 26, pemerintah baru membuat Instruksi Presiden atau Inpres Nomor 4 Tahun 2020 tentang Refocussing Kegiatan, Realokasi Anggaran serta Pengadaan Barang dan Jasa dalam rangka Percepatan Penanganan Corona Virus Disease 2019. Sehingga menyebabkan pemerintah gagal dalam penyediaan Alat Pelindung Diri (APD).
“Sangat disesalkan dengan lambatnya reaksi pemerintah bertindak, juga dalam membuat kebijakan yang penting untuk mengantisipasi penyebaran COVID-19 yang makin meluas ini. Ibarat dalam pepatah, sudah hujan deras rakyat basah kuyup, pemerintah baru menyediakan payung”. Ujarnya
Ada dua hal yang harus kita hindari, yaitu takut dan pesimis. Makanya pendekatan afirmatif yang kemarin saya sampaikan harus jadi bagian dari keseharian kita.
“Berbaik sangkalah kepada Allah dengan cara jauhkan rasa takut dan hindari pesimistis,” pungkas Toriq sebagai pesan kepada masyarakat. (Bulan)**
Komentar ditutup.