hariangarutnews.com – Istilah londo ireng kerap meluncur begitu saja saat orang menunjuk sosok yang dianggap berkhianat. Di media sosial, frasa ini sering dipakai sebagai senjata verbal. Namun, sedikit sekali yang benar-benar paham dari mana istilah tersebut muncul. Padahal, jejak historis londo ireng berlapis kisah panjang, melibatkan politik kolonial, perdagangan budak, hingga tragedi identitas di tanah jajahan.
Menggali ulang asal-usul londo ireng bukan sekadar urusan istilah. Ini usaha merekonstruksi memori kolektif tentang peran tentara Afrika di Hindia Belanda. Mereka hadir bukan sebagai hitam putih pahlawan atau pengkhianat, melainkan manusia dengan pilihan rumit. Melalui sudut pandang ini, kita bisa melihat betapa mudahnya kekuasaan membentuk label. Sementara orang-orang yang diberi sebutan londo ireng justru jarang diajak bicara dalam sejarah resmi.
Asal-Usul Istilah Londo Ireng
Secara harfiah, londo ireng berasal dari bahasa Jawa. Londo merujuk orang Belanda atau Eropa, sedangkan ireng berarti hitam. Jadi, istilah ini memadukan citra kulit hitam dengan posisi sosial kolonial. Orang Jawa memakai sebutan tersebut untuk menggambarkan serdadu kulit hitam yang mengenakan seragam Belanda. Bagi masyarakat lokal, kombinasi warna kulit Afrika dengan atribut kekuasaan Eropa menciptakan figur baru, setengah asing, setengah akrab.
Tentara-tentara itu bukan sekadar tentara bayaran biasa. Mereka direkrut Belanda dari wilayah Afrika Barat, terutama kawasan Gold Coast, yang kini menjadi bagian dari Ghana. Setelah menempuh perjalanan laut panjang, mereka ditempatkan di Hindia Belanda sebagai serdadu kolonial. Di mata penduduk, sosok ini tampak membingungkan. Wajah bukan Eropa, kulit gelap, tetapi memegang senapan berlisensi kekuasaan kolonial. Dari kebingungan itulah istilah londo ireng menguat sebagai penanda identitas baru.
Seiring waktu, makna londo ireng bergeser. Dari sekadar penamaan atas tentara Afrika berseragam Belanda, istilah itu semakin mengarah pada makna politis. Orang mulai menggunakannya sebagai sebutan bagi siapa saja yang dianggap berpihak ke penjajah, meski bukan keturunan Afrika. Dalam dialog sehari-hari, londo ireng berubah menjadi label moral. Siapa pun yang dinilai menindas orang lemah melalui dukungan terhadap kekuasaan asing, bisa dicap sebagai londo ireng baru versi masa kini.
Jejak Tentara Afrika di Hindia Belanda
Keberadaan tentara Afrika di Hindia Belanda bukan peristiwa kebetulan. Pemerintah kolonial membutuhkan barisan militer yang relatif jauh dari akar budaya masyarakat Nusantara. Dengan merekrut serdadu dari Afrika, Belanda berharap mengurangi risiko simpati lokal terhadap penduduk jajahan. Serdadu londo ireng dianggap lebih mudah diarahkan, sebab tidak punya ikatan darah maupun identitas etnis dengan rakyat yang diawasi.
Namun narasi itu terlalu menyederhanakan kenyataan. Banyak tentara Afrika justru terjebak dalam situasi tanpa pilihan. Sebagian direkrut melalui janji kehidupan lebih baik, sebagian lain melalui praktik yang dekat dengan perbudakan terselubung. Sesampainya di Hindia Belanda, mereka harus menyesuaikan diri dengan iklim baru, bahasa asing, serta pandangan curiga dari dua sisi: dipandang sebagai alat kolonial oleh pribumi, sekaligus dianggap bukan Eropa penuh oleh Belanda.
Dalam konteks tersebut, istilah londo ireng mencerminkan posisi liminal: berada di tengah, tidak benar-benar diterima di mana pun. Mereka menjalankan peran militer, ikut mengamankan kepentingan kolonial, tetapi juga menghadapi diskriminasi rasial. Beberapa akhirnya membangun keluarga di Nusantara, menikah dengan perempuan setempat, lalu memulai garis keturunan Afro-Indonesia. Sayangnya, kisah-kisah personal ini sering tenggelam di balik narasi besar tentang penjajahan.
Pergeseran Makna: Dari Identitas Rasial ke Stigma Politik
Di masa kolonial, sebutan londo ireng relatif konkret. Orang menunjuk prajurit Afrika berseragam Belanda, lalu memakai istilah tersebut sebagai penanda visual. Namun setelah kehadiran serdadu Afrika meredup, istilah itu tidak ikut menghilang. Ia justru mengalami perluasan makna. Sisa-sisa ingatan kolektif kemudian memakai londo ireng untuk menunjuk siapa pun yang tampak membela kepentingan penguasa, meski kulitnya bukan hitam dan tidak berseragam kolonial.
Perubahan ini menunjukkan betapa kuatnya memori traumatis penjajahan. Lahirnya istilah londo ireng pada mulanya terkait konfigurasi ras, militer, serta politik. Namun generasi berikutnya mengingat sisi paling menyakitkan: kekerasan bersenjata yang mendukung kekuasaan asing. Akhirnya, unsur rasial memudar, tersisa nuansa pengkhianatan. Figur londo ireng bergeser menjadi simbol orang yang rela memukul bangsanya sendiri demi kestabilan kekuasaan di atasnya.
Saya memandang pergeseran ini sebagai alarm agar kita lebih hati-hati dengan label. Ketika istilah londo ireng dilempar begitu saja di ruang publik, sering kali konteks sejarah dilupakan. Ada pengalaman pahit orang Afrika yang pernah dibawa melintasi lautan, kemudian dipaksa berdiri di garis depan konflik. Menyebut siapa saja sebagai londo ireng hari ini tanpa pemahaman sejarah sama saja mengulang pola penyederhanaan. Kita mengabaikan kompleksitas pilihan manusia di bawah tekanan struktur kekuasaan.
Londo Ireng di Mata Masyarakat Jawa
Bagi masyarakat Jawa abad ke-19, kemunculan serdadu Afrika membawa kejutan visual. Mereka bukan kulit putih seperti tuan-tuan Eropa, tetapi juga bukan pribumi. Bahasa berbeda, cara berjalan, juga pakaian militer menegaskan jarak sosial. Sebutan londo ireng menjadi cara cepat menjelaskan figur asing itu kepada orang lain. Ada rasa takjub, takut, sekaligus penasaran. Seorang petani mungkin berkata, “Itu bukan laskar kita, tapi jelas bukan kuli kebun juga.”
Dalam cerita lisan, sosok londo ireng kadang digambarkan keras, garang, hingga menakutkan. Namun, tidak sedikit kisah yang menyebutkan sisi manusiawi: serdadu Afrika yang tersenyum ramah, membeli makanan di warung, atau bermain dengan anak-anak kampung. Dua wajah ini memperlihatkan betapa imaji tentang londo ireng selalu berayun antara ancaman dan kedekatan. Masyarakat bernegosiasi dengan rasa takut, sambil tetap melihat mereka sebagai sesama manusia yang perlu makan, istirahat, juga kasih sayang.
Pada titik ini, saya melihat bahwa istilah londo ireng lahir dari upaya masyarakat menjelaskan sesuatu yang tidak sepenuhnya mereka pahami. Alih-alih sekadar hinaan, awalnya ia berfungsi sebagai kategori sosial baru: orang hitam yang memegang kekuasaan kolonial. Kita bisa memahami mengapa istilah tersebut kemudian dengan mudah dipinjam untuk menggambarkan figur lain yang dianggap “bukan bagian kita, tetapi bekerja untuk mereka”. Di sinilah benih-benih stigma mulai tertanam.
Londo Ireng dalam Wacana Politik Kontemporer
Di era digital, istilah londo ireng kembali menggema. Kali ini, sasarannya bukan serdadu Afrika, melainkan tokoh publik yang dituding bersekutu dengan kepentingan asing atau oligarki. Saat ada kebijakan tidak populer, netizen mudah menyematkan cap londo ireng kepada pejabat atau influencer. Penyematan ini mencerminkan amarah kolektif terhadap ketimpangan struktural. Namun, penggunaan yang serampangan juga berisiko melumpuhkan diskusi rasional.
Kita perlu bertanya: setiap kali menyebut seseorang londo ireng, apakah kita benar-benar memahami konsekuensi moralnya? Istilah ini mengandaikan bahwa subjek telah menyeberang garis, berpindah kubu, lalu meninggalkan solidaritas terhadap kelompok sendiri. Dalam kenyataan, peta kepentingan publik jauh lebih rumit. Ada tokoh yang tampak dekat penguasa tetapi justru berusaha mengurangi kerusakan dari dalam. Ada pula yang vokal di luar, namun diam saat berhadapan dengan kekuasaan uang. Label tunggal seperti londo ireng sering gagal membaca lapisan-lapisan ini.
Dari sudut pandang saya, memahami sejarah londo ireng membantu kita menjaga jarak kritis terhadap narasi biner: pengkhianat versus pejuang. Sejarah tentara Afrika di Hindia Belanda mengajarkan bahwa aktor di lapangan sering terseret arus besar, bukan selalu bergerak karena niat jahat pribadi. Dengan menyadari hal ini, kita dapat mengkritik kebijakan tak adil tanpa terjebak pada stigmatisasi yang mereduksi manusia sekadar menjadi lambang pengkhianatan.
Membaca Ulang Sejarah dari Perspektif Korban Tersembunyi
Ketika buku pelajaran menyinggung perlawanan terhadap kolonialisme, tokoh yang muncul umumnya para pahlawan lokal. Nama-nama besar bergerak di garis depan narasi resmi. Namun, di pinggir cerita, ada sosok seperti londo ireng yang jarang disebut. Mereka berada di posisi sulit: menjadi bagian aparat kekuasaan asing, tetapi juga mengalami kemiskinan, rasisme, dan keterasingan. Sejarah arus utama sering kali memilih melewatkan kerumitan seperti ini.
Membaca ulang jejak londo ireng membuat kita menyadari bahwa kategori “penjajah” dan “terjajah” tidak selalu lurus. Di antara keduanya, terdapat zona abu-abu berisi perantara: serdadu Afrika, polisi pribumi, pegawai rendahan, hingga penerjemah. Mereka semua ikut menggerakkan mesin kolonial, sekaligus hidup di bawah bayang-bayangnya. Menyederhanakan mereka sebagai pengkhianat tunggal hanya mengulang cara pandang kolonial yang suka mengklasifikasikan orang secara kaku.
Saya percaya, keadilan historis menuntut kita berani membuka ruang empati bagi korban-korban tersembunyi. Bukan untuk menghapus dosa struktural kolonialisme, melainkan supaya kita tidak mudah mengulang praktik yang sama hari ini. Saat negara modern menggunakan aparat berseragam untuk meredam kritik publik, cermin londo ireng kembali muncul. Bedanya, kini warna kulit bisa siapa saja, sedangkan pola relasi kuasa nyaris serupa.
Penutup: Menyegarkan Makna, Menguatkan Kesadaran
Pada akhirnya, membicarakan londo ireng berarti menantang diri sendiri agar lebih teliti membaca relasi kuasa. Istilah itu tidak lahir di ruang kosong; ia membawa jejak perbudakan, rasisme, strategi kolonial, serta upaya masyarakat lokal memahami dunia yang berubah cepat. Kita boleh memakai istilah londo ireng sebagai kritik sosial, tetapi seharusnya dengan kesadaran sejarah yang utuh. Daripada sekadar mencaci orang yang berbeda pendapat, lebih mendesak bagi kita untuk menelusuri struktur apa yang membuat seseorang rela berdiri di seberang rakyatnya sendiri. Dengan begitu, refleksi atas masa lalu tidak berhenti pada stigma, melainkan berubah menjadi dorongan kolektif agar kekuasaan hari ini tidak lagi mencetak generasi londo ireng berikutnya, apa pun warna kulitnya.












