hariangarutnews.com – Istilah londo ireng kembali berkeliaran di linimasa, sering muncul sebagai ejekan. Banyak orang memakainya untuk menuding sosok yang dianggap berkhianat terhadap kaumnya sendiri. Sebutan itu seolah menyatukan dua hal yang bertentangan: londo sebagai lambang kolonial kulit putih, ireng merujuk warna kulit hitam. Kontras tersebut terasa kuat, lalu melekat sebagai metafora pengkhianat hingga hari ini.
Namun, sejarah tidak sesederhana candaan di media sosial. Di balik label londo ireng, ada kisah panjang tentang tentara Afrika yang dibawa ke Hindia Belanda. Mereka hidup, bertugas, berkeluarga, lalu menua di tanah asing yang kemudian bernama Indonesia. Tulisan ini mencoba menyusuri jejak mereka, membedah makna istilah londo ireng, sekaligus mengajak kita meninjau ulang cara memberi cap pada orang lain.
Jejak Awal Londo Ireng di Hindia Belanda
Untuk memahami istilah londo ireng, kita perlu mundur ke abad ke-19. Pemerintah kolonial Belanda saat itu kekurangan pasukan. Perlawanan di berbagai wilayah Nusantara menyulitkan operasi militer. Rekrutmen serdadu lokal tidak selalu efektif, sementara tentara Belanda dari Eropa jumlahnya terbatas. Dari situ muncul gagasan merekrut prajurit Afrika, terutama dari wilayah pesisir Afrika Barat yang berada di bawah pengaruh Belanda.
Para tentara ini kemudian dikenal sebagai Africanen atau Belanda Hitam. Di kalangan pribumi, penampilan mereka terasa asing. Seragam Eropa, disiplin militer, tetapi berkulit gelap legam. Campuran citra itu mendorong lahirnya sebutan londo ireng: londo karena loyal kepada penguasa kolonial, ireng karena rupa fisiknya. Julukan tersebut tumbuh sebagai respon visual sekaligus politik atas situasi masa itu.
Perjalanan mereka ke Hindia bukan sekadar perpindahan geografis. Banyak rekrut berasal dari latar beragam: sebagian dijanjikan gaji, sebagian lebih dekat dengan status budak yang dijual kepada pemerintah kolonial. Kapal-kapal menyeberangkan mereka ke Batavia, lalu menyebar ke berbagai garnisun. Di mata penduduk lokal, muncul sosok asing yang memegang senjata, berbicara bahasa aneh, tetapi tunduk pada komando Belanda. Di titik inilah figur londo ireng mulai tumbuh dalam ingatan kolektif.
Makna Londo Ireng: Antara Citra, Kuasa, dan Stereotip
Secara harfiah, londo ireng menggabungkan dua identitas: Eropa dan Afrika. Namun konotasi yang menempel jauh lebih rumit. Di banyak obrolan sehari-hari, istilah ini sering muncul ketika seseorang dicurigai memihak penguasa zalim, meski asal-usulnya bukan Afrika. Londo ireng bergeser dari sebutan fisik menjadi simbolik. Ia melambangkan sosok yang rela mengabdi pada kekuasaan asing demi kedudukan atau keamanan pribadi.
Bila dilihat dari sudut pandang psikosocial, londo ireng mencerminkan trauma kolektif terhadap kolonialisme. Warga jajahan merasa tertindas bukan hanya oleh Belanda Eropa, tetapi juga oleh aparat non-Eropa yang menjaga kepentingan kolonial. Di lapangan, wajah penindas tidak selalu putih. Bisa saja serdadu hitam, serdadu lokal, bahkan bangsawan pribumi yang bekerja sebagai perantara. Akhirnya, istilah semacam londo ireng muncul sebagai cara merangkum pengalaman pahit itu.
Saya melihat di sini ada paradoks. Kita menolak logika rasis kolonial, namun istilah londo ireng tetap mengikat warna kulit dengan posisi politik. Padahal, tidak semua serdadu Afrika hadir sebagai aktor tunggal kehendak bebas. Banyak terjebak kontrak panjang, tidak paham medan politik Nusantara, bahkan mengalami diskriminasi berlapis. Mereka digaji lebih rendah, peluang kenaikan pangkat terbatas, tetapi di hadapan rakyat jajahan tetap diposisikan sebagai wajah kekuasaan asing.
Latar Sosial Tentara Afrika dan Kehidupan Baru di Nusantara
Dalam dokumen kolonial, tentara Afrika di Hindia Belanda sering digambarkan sebagai pasukan tangguh. Cuaca tropis lebih sesuai bagi mereka dibandingkan tentara Eropa. Mereka ditempatkan di medan sulit, menghadapi perlawanan bersenjata, juga menjaga pos-pos jauh dari pusat kota. Persepsi tangguh itu di satu sisi menguntungkan pemerintah kolonial, namun di sisi lain mempertebal stigma di mata penduduk lokal.
Di luar tugas militer, mereka mencoba membangun kehidupan. Banyak londo ireng menikahi perempuan lokal, dari Jawa, Sunda, Ambon, hingga daerah lain. Dari pernikahan tersebut lahir komunitas kecil keturunan Afrika yang beradaptasi dengan adat setempat. Nama-nama mereka menyatu dengan nama lokal, makanan berubah, bahasa berbaur. Namun warisan kulit gelap tetap menjadi penanda yang sulit dihapus, baik di mata tetangga maupun aparat kolonial.
Hierarki sosial kolonial menempatkan mereka di posisi janggal. Bagi Belanda Eropa, tentara Afrika tetap berada di lapisan bawah, jauh dari elite kulit putih. Bagi banyak pribumi, mereka dipandang sebagai bagian dari mesin kolonial. Terjebak di antara dua dunia, londo ireng sering kali tidak sepenuhnya diterima oleh salah satunya. Kondisi ini menciptakan identitas rapuh, gampang diserang, dan mudah dijadikan kambing hitam ketika konflik meletus.
Dari Fakta Historis ke Label Pengkhianat
Perjalanan istilah londo ireng menunjukkan pergeseran besar. Dahulu ia mengacu cukup spesifik pada tentara Afrika di Hindia Belanda. Lama-kelamaan, maknanya melebar menjadi label bagi siapa pun yang dianggap dekat dengan penguasa menindas. Proses ini wajar dalam bahasa, namun membawa konsekuensi. Label tersebut memotong konteks historis, menyisakan hanya rasa kesal pada figur pengkhianat imajiner.
Padahal, jika kita memeriksa dokumen sejarah, posisi tentara Afrika tidak seragam. Ada yang benar-benar menjadi alat represi, ikut serta memadamkan perlawanan lokal. Namun mungkin juga ada yang sekadar prajurit bawahan dengan pilihan terbatas. Kita jarang mendengar suara mereka sendiri. Narasi resmi kolonial menulis dari sudut pandang pemerintah. Sementara narasi rakyat lebih fokus pada penderitaan, sehingga menyapu bersih nuansa abu-abu.
Saya berpendapat, penggunaan istilah londo ireng sebagai hinaan masa kini menunjukkan betapa kita masih nyaman dengan kategori hitam-putih. Kita suka musuh yang jelas, pengkhianat yang gamblang. Padahal kenyataan politik jauh lebih rumit. Ada orang yang tampak memihak rezim karena terpaksa, ada yang bernegosiasi demi survival, ada pula yang mencoba merusak dari dalam. Semua nuansa itu hilang ketika satu istilah dipakai melabeli segala jenis perbedaan sikap.
Lensa Kritis: Antara Ingatan Luka dan Bias Rasial
Dari sisi etis, istilah londo ireng memuat jebakan. Ia mengikat warna kulit hitam dengan citra pengkhianat. Di satu sisi, kita paham bahwa ini lahir dari konteks historis spesifik. Di sisi lain, pengulangan tanpa refleksi berpotensi melestarikan prasangka terhadap orang berkulit gelap. Apalagi, Indonesia sendiri memiliki persoalan diskriminasi terhadap kelompok berkulit hitam dari kawasan timur.
Ketika kata-kata seperti ini viral, ruang digital sering memperkuat bias yang sudah lama tertanam. Orang tertawa, melempar meme, mengulang sebutan londo ireng tanpa memikirkan akar kolonialnya. Penderitaan nyata yang dulu dialami tentara Afrika dan masyarakat jajahan menyusut menjadi lelucon. Di titik ini, sejarah berubah jadi ornamen, bukan lagi sumber pembelajaran kritis.
Menurut saya, kita perlu bersikap ganda: menjaga ingatan atas kekerasan kolonial, sekaligus waspada terhadap cara ingatan itu memproduksi stereotip baru. Menyebut pejabat korup sebagai londo ireng mungkin terasa memuaskan sesaat. Namun, tanpa sadar, kita mewarisi logika lama yang mengaitkan fisik dengan moral. Sikap kritis justru mengajak kita menguliti struktur kuasa, kebijakan, relasi ekonomi, bukan sekadar mengejek rupa atau identitas kultural seseorang.
Pelajaran untuk Politik Kontemporer
Kemunculan istilah londo ireng di perdebatan politik modern mengisyaratkan betapa kuatnya bayang-bayang kolonial dalam demokrasi Indonesia. Kita masih memakai kosakata masa jajahan untuk menggambarkan rasa tidak percaya terhadap elite. Dalam satu sisi, hal ini menunjukkan keberlanjutan memori. Namun sisi lain, memperlihatkan kemalasan intelektual. Kita meminjam istilah lama, tanpa bersusah payah membangun analisis baru atas struktur ketidakadilan hari ini.
Lebih bermanfaat bila energi protes diarahkan ke pertanyaan rinci: kebijakan mana yang merugikan publik, mekanisme apa yang memelihara ketimpangan, jaringan kepentingan siapa yang sebenarnya bekerja. Dengan begitu, kritik tidak berhenti pada label londo ireng, tetapi masuk ke inti persoalan: bagaimana kekuasaan beroperasi, siapa yang diuntungkan, siapa yang disingkirkan.
Saya percaya, mengingat sejarah tentara Afrika di Hindia Belanda bisa mendorong empati. Mereka adalah contoh kelompok kecil yang terjebak di persimpangan imperialisme. Bukan sekadar serdadu asing, melainkan manusia dengan dilema, keluarga, ketakutan. Menghormati kompleksitas kisah mereka membantu kita lebih hati-hati ketika menempelkan kata pengkhianat kepada siapa pun di masa kini.
Menutup Luka, Mengasah Ingatan
Pada akhirnya, londo ireng bukan hanya istilah, melainkan cermin cara kita berhubungan dengan masa lalu. Di satu permukaan, ia mengingatkan bahwa kolonialisme mengandalkan banyak perantara, termasuk tentara Afrika. Di permukaan lain, ia memperlihatkan kecenderungan kita menyederhanakan realitas rumit menjadi cap tunggal. Mungkin sudah saatnya istilah ini diajak berdialog, bukan sekadar diulang. Kita bisa mengenang perlawanan terhadap kolonialisme tanpa harus mewarisi logika rasisnya. Dengan begitu, sejarah bukan lagi beban yang memenjara, melainkan ruang refleksi untuk membangun masyarakat lebih adil, lebih peka, juga lebih jernih melihat manusia di balik setiap label.








