hariangarutnews.com – Istilah londo ireng kembali ramai di media sosial. Sering kali, frasa itu dilempar sebagai tuduhan terhadap sosok yang dianggap dekat dengan kekuasaan atau berpihak pada kepentingan asing. Namun, sedikit orang memahami bahwa sebutan londo ireng punya akar sejarah panjang. Jejaknya terkait pasukan Afrika yang pernah didatangkan ke Hindia Belanda pada abad ke-19.
Ketika istilah historis berubah menjadi label politik, risiko penyederhanaan selalu mengintai. Londo ireng bukan sekadar makian, melainkan pintu masuk untuk memahami bagaimana kekuasaan kolonial membentuk relasi ras, kelas, serta identitas di Nusantara. Tulisan ini mengajak pembaca menelusuri arti sebenarnya, asal-usul, juga sejarah tentara Afrika di Hindia Belanda, lalu mengaitkannya dengan cara kita memaknai kata londo ireng hari ini.
Apa Itu Londo Ireng Sebenarnya?
Secara harfiah, londo ireng berasal dari bahasa Jawa. “Londo” menunjuk pada orang Belanda atau sosok yang dianggap mewakili kolonial. “Ireng” berarti hitam, merujuk warna kulit. Pada masa Hindia Belanda, istilah itu tertuju pada serdadu Afrika yang direkrut untuk memperkuat militer kolonial. Mereka berkulit hitam, mengenakan seragam Eropa, lalu hadir sebagai wajah lain kekuasaan Belanda di mata penduduk lokal.
Pergeseran makna muncul ketika kolonialisme berakhir, namun ingatan sosial tentang pengkhianatan dan keberpihakan tidak ikut hilang. Londo ireng perlahan mengalami perluasan makna, menjadi sebutan bagi orang pribumi yang dianggap bermental penjajah. Seseorang bisa dipanggil londo ireng ketika ia dinilai mengkhianati kepentingan rakyat, meski tidak memiliki hubungan apa pun dengan tentara Afrika masa lalu. Di sini, warna kulit hanya metafora, bukan lagi penanda rasial.
Dari sudut pandang bahasa, perubahan ini menarik. Sebutan londo ireng memperlihatkan bagaimana masyarakat mengolah memori kolonial menjadi kritik sosial kontemporer. Ada ironi keras di sana: sosok tertindas meniru gaya penguasa, kemudian dihukum melalui label yang berakar pada sejarah rasial. Saya melihatnya sebagai cermin bahwa luka kolonial belum tuntas, tetapi juga sebagai bukti daya kreativitas masyarakat mengolah trauma menjadi bahasa satir.
Asal-Usul Tentara Afrika di Hindia Belanda
Kehadiran londo ireng tidak terlepas dari kebijakan militer Belanda pada abad ke-19. Setelah berbagai perang kolonial menguras tenaga, pemerintah kolonial membutuhkan pasukan tambahan. Rekrutmen serdadu dari Afrika Barat pun dilakukan, terutama dari wilayah Gold Coast, kawasan yang kini masuk Ghana. Mereka direkrut lalu dikirim jauh ke Hindia Belanda untuk menjaga stabilitas kolonial, menekan perlawanan lokal, serta mengisi kekosongan prajurit Eropa.
Serdadu Afrika itu sering disebut “Belanda Hitam” oleh orang Eropa, sedangkan penduduk pribumi melihat mereka sebagai londo ireng. Mereka memakai seragam Belanda, membawa senjata, menerima gaji tetap, juga terlibat berbagai operasi militer. Bagi penguasa kolonial, kehadiran pasukan Afrika bermanfaat dari sisi taktik. Mereka dianggap tidak memiliki ikatan kekerabatan dengan penduduk lokal, sehingga dinilai lebih mudah diarahkan serta relatif sulit berempati terhadap perlawanan setempat.
Saya memandang kehadiran pasukan Afrika ini sebagai bukti bahwa kolonialisme bukan hanya kisah hitam-putih antara penjajah Eropa dan rakyat Nusantara. Ada lapisan kompleks berisi kelompok tertindas lain yang justru dipaksa berdiri di sisi senapan. Latar kemiskinan, tekanan politik, juga harapan hidup lebih baik ikut mendorong mereka bergabung. Dalam struktur itu, londo ireng berdiri di posisi serba rumit: korban sistem global, sekaligus alat penindasan bagi masyarakat lokal.
Dinamika Identitas: Antara Kolonial, Afrika, dan Pribumi
Identitas londo ireng terbentuk melalui pertemuan budaya intens antara Afrika, Eropa, juga Nusantara. Di barak dan pemukiman, serdadu Afrika hidup berdampingan dengan penduduk lokal, menikah, punya keturunan, lalu melahirkan komunitas campuran yang kadang terjepit secara sosial. Mereka tidak sepenuhnya diterima sebagai orang Eropa, namun juga tidak selalu dianggap seutuhnya pribumi. Posisi di tengah itu meninggalkan warisan identitas kompleks yang sebagian jejaknya masih bisa ditemukan di beberapa wilayah Indonesia hari ini.
Citra Londo Ireng di Mata Masyarakat Nusantara
Bagi banyak penduduk lokal, kemunculan londo ireng memunculkan perasaan campur. Di satu sisi, mereka terlihat asing: kulit hitam, bahasa berbeda, seragam asing. Di sisi lain, sama-sama bukan orang Eropa. Tetapi realitas di lapangan jelas: mereka memegang senjata, menjalankan perintah kolonial, ikut operasi militer. Kesan sebagai perpanjangan tangan kekuasaan Belanda pun lebih kuat dibanding potensi solidaritas sesama korban kolonialisme global.
Kesan visual itu menancap kuat di ingatan kolektif. Seiring waktu, londo ireng berubah menjadi simbol tentang betapa jauh kekuasaan kolonial mau melangkah untuk mempertahankan dominasinya, bahkan dengan mendatangkan pasukan dari benua lain. Dalam cerita lisan, kisah serdadu Afrika sering muncul sebagai figur menakutkan: tinggi, berkulit gelap, bersenjata, terkadang digambarkan lebih kejam daripada serdadu Eropa. Gambaran ini tentu dipengaruhi trauma perang, bukan fakta tunggal yang seragam.
Menurut saya, sikap masyarakat terhadap londo ireng waktu itu memperlihatkan dilema kemanusiaan. Di satu sisi, mereka melihat pasukan Afrika sebagai penjaga rezim penindas. Di sisi lain, jika ditelisik, banyak serdadu direkrut melalui janji ekonomi atau tekanan struktural serupa dengan yang dialami rakyat jajahan di banyak wilayah lain. Namun sejarah bergerak lewat persepsi, bukan niat. Dalam ingatan Nusantara, londo ireng terlanjur melekat sebagai wajah kolonial yang berkulit hitam.
Dari Label Rasial Menjadi Sindiran Politik
Ketika Indonesia merdeka, londo ireng perlahan lepas dari konteks tentara Afrika. Namun nuansa pengkhianatan terhadap kepentingan rakyat masih melekat kuat. Istilah itu lalu dipakai untuk menyebut pejabat, elit, atau siapa saja yang dinilai berperilaku seperti penjajah: menindas, korup, jauh dari rakyat, sangat patuh pada kekuatan asing. Di titik ini, unsur rasial mulai memudar. Londo ireng berubah total menjadi metafora sindiran politik yang diarahkan pada mentalitas, bukan penampilan fisik.
Londo Ireng di Era Viral: Antara Edukasi dan Stigma
Kebangkitan lagi istilah londo ireng di jagat maya menunjukkan betapa memori kolonial masih hidup di ruang digital. Warganet sering menggunakannya untuk menyindir tokoh yang dianggap tunduk pada kepentingan asing. Namun, pemakaian tanpa pemahaman historis berisiko mengaburkan konteks. Orang hanya mengenal londo ireng sebagai penghinaan, bukan sebagai jejak nyata keberadaan komunitas Afrika yang pernah hidup dan berkeluarga di Nusantara.
Dari kacamata saya, ini peluang sekaligus peringatan. Peluang, karena viralnya istilah londo ireng bisa menjadi pintu masuk diskusi mengenai sejarah kolonial yang lebih luas, termasuk perdagangan manusia, rekrutmen militer lintas benua, juga pembentukan identitas hibrida. Peringatan, sebab tanpa pendalaman, istilah itu mudah tergelincir menjadi stempel baru untuk membungkam lawan, menggantikan argumen rasional dengan cemoohan bernuansa historis semu.
Kita perlu mengajukan pertanyaan kritis: ketika menyebut seseorang londo ireng hari ini, apakah kita sedang sadar pada lapisan sejarah di balik kata tersebut, atau hanya mengulang luka tanpa memahami akar? Menurut saya, sikap dewasa terhadap warisan kolonial bukan sekadar menolak atau mengutuknya, melainkan membedahnya dengan jernih. Dengan begitu, londo ireng bisa dilihat bukan hanya sebagai cercaan, tetapi sebagai pengingat bahwa penindasan kerap beroperasi melalui perantara, bahkan sesama korban sistem global.
Refleksi Akhir: Menghadapi Warisan Londo Ireng
Memahami istilah londo ireng berarti mengakui bahwa sejarah tidak pernah sederhana. Di antara penjajah dan terjajah, ada kelompok-kelompok lain yang dipaksa memilih, dipaksa bertempur, lalu terseret arus besar kolonialisme. Serdadu Afrika di Hindia Belanda adalah contoh jelas bagaimana kekuatan global menggerakkan tubuh manusia lintas benua demi mempertahankan kekuasaan. Mereka menjadi lengan bersenjata rezim, namun tetap bukan pemilik kekuasaan sejati.
Bagi Indonesia hari ini, pelajaran terpenting bukan pada siapa yang berkulit hitam ataupun putih, melainkan pada pola relasi kuasa yang berulang. Ketika istilah londo ireng dipakai untuk menggambarkan mentalitas penjajahan versi baru, sesungguhnya kita sedang mengkritik struktur yang membuat sebagian orang rela menindas sesamanya demi manfaat sempit. Di sana, sejarah kolonial bergaung kembali, hanya berganti wajah serta perangkat.
Akhirnya, mungkin kita perlu lebih hati-hati sekaligus lebih berani. Hati-hati agar tidak menjadikan londo ireng sebagai alat stigmatisasi buta yang mereduksi manusia menjadi label. Berani, sebab memahami sejarah dengan jernih menuntut kita mengakui kerumitan, bukan sekadar menunjuk tokoh jahat. Dengan cara itu, istilah londo ireng bisa berubah dari sekadar makian viral menjadi jendela refleksi: sejauh mana kita sungguh merdeka dari pola pikir kolonial, terutama ketika memegang kuasa atas orang lain.
