Londo Ireng: Jejak Serdadu Afrika di Tanah Jawa

TOKOH DAN OPINI30 Dilihat
0 0
Read Time:3 Minute, 16 Second

hariangarutnews.com – Istilah londo ireng kerap muncul di linimasa, forum, hingga obrolan sehari-hari. Sebutan ini sering dialamatkan pada sosok yang dianggap dekat dengan kekuasaan kolonial, bahkan dicap pengkhianat. Namun, makna londo ireng jauh lebih kompleks. Ia terkait sejarah panjang tentara Afrika yang didatangkan pemerintah kolonial ke Hindia Belanda. Tanpa memahami akar sejarah tersebut, istilah ini mudah dipakai secara serampangan.

Artikel ini mengajak pembaca menelusuri asal-usul londo ireng secara lebih jernih. Bukan sekadar label menghina, melainkan pintu masuk mengenali bagaimana kolonialisme memecah masyarakat lewat warna kulit, agama, kelas sosial. Dengan menggali kisah serdadu Afrika di Nusantara, kita bisa melihat ulang cara menilai “pihak lawan” maupun “pihak kawan”. Pada akhirnya, istilah londo ireng menguji seberapa dewasa kita menghadapi warisan kolonial dalam bahasa, identitas, serta memori kolektif.

Asal-Usul Istilah Londo Ireng

Secara harfiah, londo ireng berasal dari bahasa Jawa. Londo merujuk orang Eropa, terutama Belanda. Ireng berarti hitam. Gabungan keduanya menghasilkan sebutan bagi orang berkulit hitam yang berstatus prajurit kolonial. Mereka bukan orang Jawa, bukan pula Belanda putih. Namun hadir sebagai bagian aparat kekuasaan di Hindia Belanda. Identitas bercabang ini membuat posisi mereka sering disalahtafsirkan hingga kini.

Pada masa kolonial, masyarakat lokal terbiasa melihat orang Eropa berseragam militer. Kehadiran pasukan Afrika memberi pemandangan baru. Kulit mereka gelap, namun memakai atribut kekuasaan asing. Wajar bila orang Jawa membuat kategori khusus, lalu lahirlah istilah londo ireng. Istilah ini kemudian meluas, tidak hanya menunjuk prajurit Afrika, tetapi juga sosok lokal yang dianggap memihak kolonial. Di titik ini, makna londo ireng mulai bergeser, menjadi label politis sekaligus kultural.

Dari kacamata bahasa, londo ireng memperlihatkan cara masyarakat menamai sesuatu yang asing. Penamaan tersebut tidak netral, ada muatan emosi, rasa curiga, juga jarak sosial. Sebutan londo ireng memampatkan banyak hal: warna kulit, kesetiaan politik, posisi kelas, bahkan dugaan pengkhianatan. Menariknya, istilah ini tetap hidup setelah kolonialisme runtuh, lalu dipakai ulang untuk menyindir tokoh yang dianggap terlalu tunduk pada kekuasaan, asing, atau modal besar. Di sinilah pentingnya membongkar lapis sejarah di balik sebuah kata.

Sejarah Tentara Afrika di Hindia Belanda

Untuk memahami londo ireng, kita perlu mundur ke abad ke-19. Pemerintah kolonial Belanda merekrut ribuan prajurit Afrika, terutama dari wilayah yang kini dikenal sebagai Ghana. Mereka disebut serdadu Belanda-Belanda Hitam atau Belanda Hitam. Rekrutmen ini dilakukan karena Belanda kekurangan tenaga militer Eropa. Selain itu, pejabat kolonial berasumsi prajurit Afrika lebih tahan iklim tropis serta relatif jauh dari jaringan sosial penduduk lokal, sehingga dianggap lebih mudah dikendalikan.

Setibanya di Nusantara, prajurit Afrika ditempatkan di berbagai daerah rawan konflik. Mereka terlibat peperangan melawan kerajaan lokal, pemberontakan rakyat, hingga patroli keamanan. Kehadiran mereka segera menarik perhatian masyarakat. Fisik berbeda, seragam militer, status sebagai bagian kekuatan kolonial, semua menyatu menjadi figur baru: londo ireng. Ironisnya, banyak dari serdadu ini tidak sepenuhnya paham motif politik besar yang menggerakkan mereka. Mereka berada di antara, bukan bagian komunitas pribumi, juga bukan elite Eropa.

Dari sudut pandang pribadi, saya melihat kisah londo ireng sebagai contoh tajam bagaimana kolonialisme memanfaatkan tubuh manusia sebagai alat kekuasaan. Orang Afrika yang pernah merasakan praktik kolonial di negerinya, justru dipindahkan ke koloni lain untuk menjaga dominasi yang sama. Mereka menjadi jembatan militer antar koloni. Posisi tersebut membuat mereka rentan distigma dari dua arah. Bagi kolonial, mereka tetap bawahan. Bagi penduduk lokal, mereka wajah penindasan. Di tengah persilangan inilah lahir ambivalensi identitas londo ireng.

Londo Ireng, Rasisme, dan Warisan Kolonial

Dimensi rasial dalam istilah londo ireng tidak bisa diabaikan. Penyebutan hitam di situ bukan hanya penanda fisik, tapi bagian cara kolonialisme mengurutkan manusia berdasarkan warna kulit. Ketika istilah ini dipakai sembarangan untuk menyebut “pengkhianat”, tanpa menyadari konteks sejarah, kita berisiko memperkuat warisan rasis tersebut. Menurut saya, sikap paling bijak bukan menghapus istilah londo ireng, melainkan menggunakannya secara kritis. Kita perlu mengingat kisah tentara Afrika, memahami mengapa mereka ada di sini, lalu merefleksikan bagaimana bahasa masih membawa jejak luka kolonial. Dengan begitu, istilah londo ireng berubah fungsi, dari sekadar makian menjadi pintu diskusi tentang keadilan sejarah, solidaritas lintas ras, dan keberanian mengakui kerumitan masa lalu.

Happy
0 0 %
Sad
0 0 %
Excited
0 0 %
Sleepy
0 0 %
Angry
0 0 %
Surprise
0 0 %