Londo Ireng: Dari Serdadu Afrika hingga Label Pengkhianat

TOKOH DAN OPINI47 Dilihat
0 0
Read Time:3 Minute, 18 Second

hariangarutnews.com – Istilah londo ireng kerap muncul di media sosial ketika orang ingin menyindir sosok yang dianggap pro penguasa atau berpihak pada kepentingan asing. Julukan itu terasa pedas, seolah melabeli seseorang sebagai pengkhianat bangsa. Namun, sedikit sekali yang benar-benar memahami akar sejarah istilah tersebut. Di balik dua kata sederhana itu, tersimpan kisah panjang tentang kolonialisme, ras, serta strategi politik Kekaisaran Belanda di Hindia.

Melacak kembali jejak londo ireng berarti menyingkap bab yang jarang disorot dari sejarah Nusantara. Ia bukan sekadar makian. Awalnya, istilah ini merujuk pada pasukan Afrika yang direkrut Belanda untuk menjaga, menaklukkan, sekaligus menekan perlawanan lokal. Mengetahui asal-usulnya membantu kita melihat bagaimana kekuasaan kolonial memanfaatkan perbedaan warna kulit, identitas, dan loyalitas. Dari sana, kita dapat menilai lagi: pantaskah istilah itu terus dipakai sembarangan hari ini?

Asal-Usul Istilah Londo Ireng dalam Sejarah Kolonial

Sebelum menjadi cercaan di ruang publik, londo ireng sebenarnya deskripsi visual. Dalam bahasa Jawa, “londo” merujuk pada Belanda atau orang Eropa, sedangkan “ireng” berarti hitam. Jadi, londo ireng dapat dimaknai sebagai “Belanda hitam”. Istilah itu dilekatkan pada serdadu Afrika berkulit gelap yang memakai seragam, disiplin militer, serta struktur komando Belanda. Mereka tampak seperti perpanjangan tangan kolonial, walau asal-usulnya jauh dari Batavia maupun Amsterdam.

Kisah londo ireng berawal dari kebutuhan militer Belanda. Pada abad ke-19, Belanda kesulitan merekrut cukup prajurit Eropa untuk mempertahankan serta memperluas kekuasaan di Hindia. Iklim tropis, penyakit, serta jarak jauh membuat banyak orang Eropa enggan dikirim ke Nusantara. Pemerintah kolonial lalu mencari solusi pragmatis. Salah satunya, merekrut pemuda Afrika dari wilayah pantai Barat, terutama sekitar Gold Coast, yang sekarang dikenal sebagai Ghana.

Mereka kemudian tergabung dalam unit yang dikenal sebagai “Belanda Hitam” atau KNIL Afrika. Bagi penduduk lokal Jawa, Sumatra, maupun wilayah lain, kehadiran pasukan berkulit gelap dengan seragam Eropa jadi pemandangan baru. Identitas mereka serba tumpang tindih: bukan Belanda, bukan pribumi, bukan budak, sekaligus bukan bangsawan. Dari ketegangan identitas itu, istilah londo ireng lahir sebagai cara sederhana menjelaskan sosok rumit di tengah kekuasaan kolonial.

Rekrutmen Serdadu Afrika dan Dinamika Kekuasaan

Rekrutmen calon londo ireng tidak terjadi mulus atau etis. Berbagai catatan menyingkap pola perekrutan yang abu-abu, mulai dari kontrak militer yang tidak jelas, tekanan sosial, sampai dugaan perdagangan manusia terselubung. Sebagian pemuda Afrika memang bergabung karena iming-iming gaji, seragam, atau kesempatan hidup baru. Namun, konteks kolonial membuat batas antara relawan dan korban eksploitasi menjadi kabur. Dalam banyak kasus, pilihan mereka dibentuk oleh kondisi keras di tanah asal.

Setiba di Hindia Belanda, para serdadu Afrika mendapat pelatihan militer ketat. Mereka ditempatkan di berbagai garnisun, ikut ekspedisi perang melawan kerajaan lokal, serta terlibat penumpasan perlawanan rakyat. Dari sudut pandang pemerintah kolonial, kehadiran londo ireng sangat berguna. Mereka dianggap lebih “netral” terhadap konflik lokal, sehingga lebih kecil kemungkinan bersimpati pada pemberontakan pribumi. Strategi ini mencerminkan politik pecah-belah khas kolonial: memanfaatkan kelompok luar untuk mengontrol penduduk setempat.

Bagi masyarakat Nusantara, situasinya jauh lebih rumit. Di satu sisi, londo ireng terlihat sebagai bagian aparat penindas. Mereka berseragam, bersenjata, berbicara bahasa komando Belanda. Namun, warna kulit berbeda dan latar Afrika memunculkan rasa asing yang lain. Mereka bukan penjajah kulit putih yang menandatangani kontrak dagang, tetapi juga bukan tetangga sekampung. Posisi serba di tengah itu kemudian membuat mereka rentan dijadikan simbol pengkhianatan, sekaligus objek prasangka rasial.

Transformasi Makna: Dari Serdadu Afrika ke Julukan Pengkhianat

Seiring runtuhnya kekuasaan Belanda serta lahirnya Indonesia merdeka, jejak fisik londo ireng makin samar. Keturunan mereka berasimilasi, berpindah kota, atau kehilangan penanda identitas Afrika. Namun, istilah londo ireng justru bertahan sebagai metafora. Masyarakat mulai menggunakannya untuk menyebut tokoh lokal yang dinilai memihak kepentingan asing, korporasi besar, atau penguasa otoriter. Label itu memadatkan ingatan tentang serdadu “asing” yang pernah ikut menekan rakyat. Di titik ini, kita perlu lebih hati-hati. Mengulang istilah itu tanpa memahami sejarah berarti melanggengkan simplifikasi. Kita mudah melabeli orang lain pengkhianat, padahal relasi kekuasaan selalu kompleks. Londo ireng, bila dipahami secara kritis, seharusnya mengingatkan bahwa sistem kolonial memaksa banyak individu berada di posisi sulit, bukan hanya menuduh mereka yang tampak berbeda sebagai musuh rakyat.

Happy
0 0 %
Sad
0 0 %
Excited
0 0 %
Sleepy
0 0 %
Angry
0 0 %
Surprise
0 0 %