hariangarutnews.com – Citra as sebagai kekuatan global dulu identik dengan harapan, kemajuan teknologi, serta demokrasi. Namun sebuah survei terbaru di Inggris mengungkap perubahan tajam. Sekitar 60 persen responden menilai kehadiran as justru membawa pengaruh negatif bagi dunia. Angka tersebut bukan sekadar statistik dingin, melainkan sinyal bahwa kepercayaan publik Eropa terhadap kebijakan luar negeri Washington mengalami erosi serius. Pergeseran ini menarik untuk dibahas, sebab persepsi publik sering mendahului perubahan kebijakan nyata pada tingkat pemerintahan.
Sikap kritis warga Inggris terhadap as tidak muncul tiba-tiba. Rangkaian perang, intervensi militer, konflik dagang, hingga cara as menangani isu iklim, menumpuk menjadi memori kolektif penuh kecurigaan. Di masa lalu, aliansi London–Washington seolah tidak tergoyahkan. Kini, survei menunjukkan jarak emosional semakin melebar. Tulisan ini mengurai faktor pendorong penilaian negatif tersebut, lalu mencoba membaca implikasinya bagi masa depan tatanan global.
Survei di Inggris: Sinyal Peringatan untuk AS
Survei opini publik di Inggris menunjukkan mayoritas responden menilai kehadiran as membawa lebih banyak mudarat ketimbang manfaat bagi dunia. Interpretasi atas temuan ini perlu hati-hati. Bukan berarti warga Inggris secara otomatis berpihak pada rival geopolitik as. Mereka lebih tampak kecewa terhadap praktik kekuasaan unipolar, di mana satu negara berperan dominan namun gagal memberikan rasa aman, keadilan, serta stabilitas. Rasa kecewa tersebut kemudian berubah menjadi penilaian negatif terhadap pengaruh global Washington.
Salah satu faktor pendorong ketidakpercayaan publik ialah jejak panjang intervensi militer as di berbagai kawasan. Ingatan tentang perang Irak, Afghanistan, hingga operasi rahasia di Timur Tengah, masih menempel kuat. Banyak warga Inggris merasa pemerintah mereka dulu terlalu mengikuti langkah as, lalu harus menanggung konsekuensi sosial, moral, juga ekonomi. Saat kondisi dunia makin rapuh akibat krisis iklim, ketegangan energi, serta inflasi, narasi lama mengenai “penjaga demokrasi” terasa tidak sejalan dengan realitas di lapangan.
Selain faktor militer, gaya kepemimpinan politik as beberapa tahun terakhir mengikis pesona idealisme Amerika. Polarisasi ekstrem, konflik ras, penyerbuan gedung Capitol, serta perdebatan keras mengenai imigrasi, menampilkan wajah domestik as yang rapuh. Bagi warga Inggris, pemandangan itu melemahkan klaim moral Washington ketika mengkritik negara lain terkait demokrasi maupun hak asasi. Dengan kata lain, ketidaksesuaian antara nilai yang dikhotbahkan as dan praktik nyata menimbulkan kesan hipokrit, lalu menambah daftar alasan bagi penilaian negatif.
Faktor Historis: Dari Sekutu Dekat ke Sikap Waspada
Hubungan Inggris–as lama digambarkan sebagai “special relationship”. Kerja sama intelijen, ekonomi, hingga pertahanan berjalan erat. Namun istilah tersebut kini terdengar usang bagi sebagian warga Inggris. Pengalaman pahit Perang Irak menjadi titik balik penting. Laporan investigasi publik di Inggris menyimpulkan keputusan invasi didasarkan intelijen lemah. Hasilnya, kepercayaan terhadap narasi keamanan ala as terkikis. Survei terbaru memperlihatkan memori sejarah itu belum sembuh, bahkan terus dipelihara oleh generasi muda yang tumbuh melihat dampak perang di layar televisi.
Faktor lain yang sering terlupa ialah dinamika ekonomi global. Sejak krisis finansial 2008, model kapitalisme finansial yang banyak diasosiasikan dengan as terlihat rapuh. Deregulasi, kesenjangan pendapatan ekstrem, serta peran raksasa teknologi Amerika memunculkan rasa terjajah secara ekonomi. Bagi banyak pekerja Inggris, globalisasi berbasis dolar terasa seperti permainan berat sebelah. Meski tidak semua masalah bisa disalahkan pada as, simbol hegemoni ekonomi tersebut melekat kuat pada Washington.
Di atas semua itu, kebijakan luar negeri as kerap dianggap mengabaikan sensitivitas regional. Dari Eropa Timur hingga Asia Pasifik, penempatan pangkalan militer, ekspansi aliansi, serta sanksi ekonomi sering dikemas sebagai upaya menjaga tatanan internasional. Namun dari sudut pandang publik Inggris yang lebih skeptis, langkah tersebut memicu ketegangan baru. Rasa waspada ini tidak sama dengan anti-Amerikanisme buta, tetapi cerminan kelelahan terhadap politik kekuasaan yang tampak belum belajar dari sejarah.
Peran Media, Kecerdasan Digital, dan Persepsi Publik
Persepsi negatif terhadap as tidak terbentuk semata lewat pengalaman langsung, melainkan juga melalui media serta ruang digital. Warga Inggris kini mengonsumsi berita dari banyak sumber internasional, bukan hanya media arus utama pro-Barat. Laporan investigasi, video dari zona konflik, hingga analisis pakar independen mudah diakses. Pola konsumsi ini menantang narasi resmi Washington. Di sisi lain, algoritma media sosial memicu gelembung informasi, sehingga konten kritik terhadap as menyebar cepat, kadang tanpa konteks seimbang. Menurut saya, masa depan citra as sangat bergantung pada kemampuannya mengelola transparansi, mau mengakui kesalahan, lalu menawarkan kebijakan luar negeri lebih rendah hati. Jika tidak, survei serupa di berbagai negara sekutu mungkin akan menampilkan tren serupa atau bahkan lebih keras.
Apakah AS Masih Dipandang Sebagai Pemimpin Global?
Pertanyaan besar yang muncul dari survei di Inggris ialah apakah as masih layak disebut pemimpin global. Status tersebut tidak cukup hanya bertumpu pada kekuatan militer, teknologi, maupun dominasi dolar. Legitimasi kepemimpinan bergantung juga pada persepsi keadilan, konsistensi moral, serta kemampuan merangkul mitra. Ketika mayoritas warga di salah satu sekutu utama menilai pengaruh as lebih banyak merusak, berarti terjadi krisis legitimasi. Krisis ini tidak langsung menjatuhkan kekuatan Amerika, tetapi melemahkan dukungan politik terhadap kebijakan bersama di panggung internasional.
Saya melihat ada paradoks menarik. Banyak inovasi positif—dari vaksin mRNA, perusahaan teknologi, hingga budaya populer—lahir di as dan memberi manfaat luas. Namun ketika publik menilai peran global Washington, hal-hal baik tersebut tenggelam di bawah bayang-bayang perang, sanksi, dan persaingan blok. Artinya, citra keseluruhan negara lebih ditentukan kebijakan luar negeri ketimbang kontribusi sains atau budaya. Survei di Inggris ini menunjukkan betapa kuat pengaruh sektor keamanan terhadap penilaian moral suatu bangsa.
Masih terbuka peluang bagi as untuk memulihkan reputasi. Dukungan terhadap kerja sama iklim, penghentian intervensi militer yang tidak jelas mandatnya, serta pendekatan diplomasi lebih inklusif bisa mengubah tren opini. Namun langkah korektif tersebut mensyaratkan keberanian politik besar di Washington. Publik Inggris, seperti publik negara lain, semakin kritis dan terinformasi. Mereka tidak mudah diyakinkan hanya dengan slogan. Dibutuhkan perubahan nyata pada cara as memposisikan diri di dunia.
Dimensi Etis: Standar Ganda dan Kredibilitas Moral
Salah satu alasan kuat di balik penilaian negatif ialah persepsi standar ganda. as sering mengkritik pelanggaran hak asasi di negara lain, namun enggan mengakui pelanggaran sendiri, baik di penjara rahasia, serangan drone, maupun dukungan terhadap rezim bermasalah demi kepentingan strategis. Warga Inggris yang mengikuti berita internasional melihat kontradiksi ini. Mereka menilai pesan moral tidak akan dihormati jika pembawanya menghindari akuntabilitas. Survei lalu menjadi cermin retaknya kredibilitas moral Amerika di mata sekutu tradisionalnya.
Saya memandang kritik terhadap as bukan sekadar sentimen anti-Barat, melainkan tuntutan terhadap praktik kekuasaan yang lebih etis. Warga negara di demokrasi mapan seperti Inggris terbiasa melakukan koreksi terhadap pemerintah sendiri. Sikap kritis serupa kini diarahkan ke luar negeri, terutama pada mitra paling berpengaruh. Ketika perilaku as dinilai tidak memenuhi standar etis minimum, kekecewaan berubah menjadi keinginan untuk menjaga jarak, setidaknya pada tingkat opini publik.
Tantangan bagi as ialah menunjukkan bahwa ia masih mampu mereformasi diri. Pengungkapan kesalahan masa lalu, penghentian dukungan terhadap kebijakan represif mitra regional, serta komitmen pada hukum internasional bisa menjadi awal. Jika langkah semacam itu diambil secara konsisten, persepsi warga Inggris berpotensi bergerak ke arah lebih positif. Namun tanpa transformasi etis yang jelas, label sebagai kekuatan negatif akan melekat semakin kuat, lalu menyulitkan kerja sama global menghadapi ancaman bersama seperti krisis iklim atau pandemi berikutnya.
Refleksi Akhir: Dunia yang Tak Lagi Tunggal Pusat
Survei warga Inggris mengenai as sebetulnya mencerminkan perubahan struktur kekuasaan global. Dunia tidak lagi menerima satu pusat dominasi tanpa pertanyaan. Publik menuntut bentuk kepemimpinan baru, berbasis kolaborasi, bukan paksaan. Bagi saya, penilaian negatif terhadap pengaruh as bisa dibaca sebagai ajakan koreksi, bukan sekadar penolakan. Jika Washington mampu merespons dengan rendah hati, membuka ruang dialog sejajar, mungkin citra Amerika perlahan pulih. Namun bila tetap bertahan pada pola lama, sejarah kemungkinan mendorong lahirnya tatanan multipolar di mana suara sekutu menengah seperti Inggris semakin menentukan. Pada titik itu, kekuatan lunak—kepercayaan, empati, serta konsistensi nilai—akan lebih bernilai daripada semua kapal induk yang mengarungi samudra.













