hariangarutnews.com – Bupati Garut Abdusy Syakur mulai menggeser cara pandang klasik soal pembangunan pertanian di Garut Selatan. Bukan lagi sekadar menanam lalu menjual gabah atau jagung pipilan, tetapi membangun ekosistem jagung terintegrasi dari hulu sampai hilir. Pendekatan ini bisa menjadi jawaban atas stagnasi ekonomi desa, sekaligus mengurangi ketergantungan warga pada pekerjaan musiman yang rapuh terhadap cuaca serta fluktuasi harga.
Gagasan ekosistem jagung terpadu menunjukkan keberanian Bupati Garut memposisikan pertanian sebagai basis industri lokal, bukan hanya sektor tradisional. Jika dirancang serius, petani tidak berhenti di level pemasok bahan mentah. Mereka ikut menikmati nilai tambah lewat pengolahan pakan, industri ternak, hingga produk turunan. Pertanyaannya, sejauh mana pemerintah kabupaten siap mengawal konsep tersebut agar tidak berhenti sebagai slogan program?
Ekosistem Jagung Terintegrasi: Lebih dari Sekadar Program
Ketika Bupati Garut berbicara tentang ekosistem jagung terintegrasi, sesungguhnya ia sedang menawarkan perubahan struktur ekonomi desa. Jagung tidak dipandang sebagai komoditas tunggal, tetapi pusat gravitasi aktivitas produksi, distribusi, hingga industri olahan. Mulai penyediaan benih unggul, pembiayaan, teknologi budidaya presisi, sampai pengolahan pakan serta pengemasan produk jadi. Setiap mata rantai memberi peluang kerja baru bagi warga Garut Selatan.
Model ekosistem seperti itu membuat pola pikir petani ikut bertransformasi. Mereka belajar menghitung margin, risiko, hingga strategi pemasaran. Bupati Garut idealnya hadir bukan hanya sebagai pemberi program, melainkan arsitek ekosistem yang menghubungkan petani, koperasi, pengusaha pakan, peternak, lembaga pembiayaan, serta pasar ritel. Di titik ini, keberhasilan lebih ditentukan oleh kekuatan jejaring dibanding besarnya bantuan fisik.
Dari perspektif ekonomi lokal, jagung terintegrasi bisa menjadi motor penggerak kawasan. Jika satu kecamatan fokus pada budidaya, kecamatan lain mengembangkan unit pengeringan, penggilingan, pabrik pakan mini, hingga sentra ternak unggas atau ruminansia. Nadi ekonomi berdenyut lebih merata. Bupati Garut perlu memastikan desain ruang wilayah, infrastruktur jalan, akses logistik, serta kelembagaan petani sejalan dengan arah pengembangan ekosistem tersebut.
Peran Bupati Garut: Dari Regulator ke Orkestrator
Figur Bupati Garut memegang peran penting agar model ekosistem tidak terjebak pada pendekatan proyek tahunan. Di banyak daerah, program pertanian gagal berkelanjutan karena berganti wajah tiap pergantian kepala daerah. Padahal ekosistem komoditas memerlukan konsistensi jangka panjang. Kebijakan perlindungan lahan produktif, perbaikan irigasi, serta kepastian tata niaga harus dikawal dengan regulasi yang jelas serta implementasi tegas.
Lebih jauh, Bupati Garut perlu bertindak seperti konduktor orkestra. Ia menyatukan kepentingan beragam pihak agar tidak saling tumpang tindih. Kampus bisa menyuplai riset varietas jagung adaptif wilayah pegunungan dan pesisir. BUMDes bergiat pada logistik lokal dan pengelolaan gudang. Perbankan menyusun skema kredit mikro berbasis arus kas usaha jagung terpadu, bukan sekadar jaminan aset. Sinergi seperti ini jarang tercipta tanpa dorongan kuat dari pimpinan daerah.
Dari sisi komunikasi publik, Bupati Garut juga dituntut jeli mengemas narasi. Petani Garut Selatan perlu merasa dilibatkan, bukan sekadar menjadi objek kebijakan. Dialog rutin, sekolah lapang, serta forum petani-milenial dapat menjadi ruang berbagi pengalaman. Di sana, gagasan teknokratis diterjemahkan ke bahasa sederhana, sambil tetap menjaga semangat inovasi. Perubahan kultur usaha tani hanya mungkin terjadi bila ada kepercayaan dua arah antara pemimpin daerah dan warga.
Tantangan Lapangan dan Jalan Panjang Implementasi
Meski menjanjikan, ekosistem jagung terintegrasi di Garut Selatan menyimpan tantangan berat. Petani masih berhadapan dengan harga pupuk fluktuatif, akses modal terbatas, serta infrastruktur pascapanen minim. Di sisi lain, kapasitas manajerial kelompok tani belum merata. Bupati Garut mesti berani mengambil langkah tidak populer: pemetaan ketat lahan, konsolidasi kepemilikan kecil, hingga pembenahan tata niaga yang kerap didominasi tengkulak kuat. Tanpa keberanian ini, integrasi rantai nilai hanya akan menjelma papan nama program tanpa dampak nyata.
Dampak bagi Garut Selatan: Dari Pinggiran ke Pusat Pertumbuhan
Selama ini, Garut Selatan sering disebut kawasan pinggiran dengan infrastruktur tertinggal dibanding wilayah utara. Bila ekosistem jagung berhasil, posisi tersebut dapat bergeser. Aktivitas ekonomi tidak lagi terpusat di sekitar kota kabupaten. Desa-desa penghasil jagung memperoleh peran strategis sebagai pemasok bahan baku industri pakan, sekaligus pusat peternakan unggas dan sapi. Perubahan ini berpotensi menekan arus urbanisasi, karena kesempatan kerja tersedia lebih dekat dengan rumah.
Pilihan fokus pada jagung juga tergolong realistis. Komoditas ini adaptif di lahan kering, cocok bagi bentang alam Garut Selatan yang beragam. Dengan pengelolaan air yang efisien, indeks pertanaman dapat meningkat tanpa menambah tekanan besar pada sumber daya alam. Bupati Garut bisa menjadikan jagung sebagai tulang punggung, seraya tetap membuka ruang untuk rotasi dengan kedelai, sorgum, atau tanaman sela bernilai tinggi. Diversifikasi seperti ini menjaga ketahanan pendapatan petani.
Dampak sosial turut patut diperhitungkan. Jika pengolahan jagung berlokasi dekat desa, perempuan dan pemuda dapat berperan lebih besar, mulai dari pengemasan, pemasaran digital, hingga usaha kuliner berbasis tepung jagung. Bupati Garut dapat mendorong pelatihan wirausaha muda di sektor ini. Kehadiran usaha mikro yang memanfaatkan produk turunan jagung berpotensi memperkuat ekosistem, karena permintaan lokal menjadi bantalan ketika pasar besar sedang lesu.
Analisis Pribadi: Peluang Besar, Risiko Tidak Kecil
Dari kacamata penulis, inisiatif Bupati Garut mengusung ekosistem jagung terintegrasi patut diapresiasi, namun tetap perlu dikritisi. Peluang peningkatan nilai tambah jelas terbuka. Akan tetapi, ada risiko ketergantungan berlebihan pada satu komoditas jika perencanaan kurang cermat. Sejarah menunjukkan banyak daerah terjebak siklus harga global, lantaran terlalu fokus pada satu produk. Karena itu, jagung sebaiknya dijadikan pintu masuk membangun budaya hilirisasi, bukan satu-satunya penopang ekonomi lokal.
Hal lain yang perlu diwaspadai ialah dominasi pemain besar di hilir. Tanpa regulasi protektif, industri pakan skala besar bisa menguasai rantai nilai, meninggalkan petani kecil di posisi tawar lemah. Di sinilah keberpihakan Bupati Garut diuji. Ia harus berupaya menciptakan ruang aman bagi koperasi petani dan BUMDes agar mampu mengelola unit pengolahan menengah. Kolaborasi dengan investor tetap dibutuhkan, tetapi struktur kemitraan harus transparan serta adil.
Penulis juga melihat pentingnya mengedepankan aspek ekologi. Perluasan jagung jangan mengorbankan hutan lindung atau lahan dengan kemiringan ekstrem. Bupati Garut dapat mendorong standar praktik pertanian konservatif, seperti penanaman jalur hijau, penggunaan mulsa organik, serta pemangkasan pestisida sintetis. Ekosistem ekonomi tidak boleh mematikan ekosistem hayati, karena kerusakan lingkungan akan memukul balik petani sendiri melalui erosi, banjir, ataupun penurunan kesuburan tanah.
Refleksi Akhir: Mewariskan Ekosistem, Bukan Sekadar Program
Pada akhirnya, inisiatif ekosistem jagung terintegrasi akan diingat bukan karena nama program, melainkan jejak keberlanjutan yang ditinggalkannya. Bupati Garut memiliki kesempatan langka: mengukir warisan kepemimpinan yang mengubah cara warganya melihat pertanian, dari kerja sunyi di ladang menjadi fondasi industri lokal yang bermartabat. Namun warisan semacam itu hanya lahir dari konsistensi, keberanian mengoreksi kebijakan sendiri, serta kesiapan mendengar suara petani paling kecil. Garut Selatan membutuhkan pemimpin yang berani memulai, tetapi juga cukup rendah hati untuk berjalan bersama warga di setiap jengkal perubahan.















