Bupati Garut, ALMAGARI, dan Ikhtiar Merawat NKRI

PEMERINTAHAN144 Dilihat
0 0
banner 468x60
Read Time:4 Minute, 15 Second

hariangarutnews.com – Peringatan Harlah ke-4 ALMAGARI menjadi panggung penting bagi Bupati Garut untuk menegaskan kembali komitmen menjaga keutuhan NKRI. Bukan sekadar acara seremonial, momentum ini menunjukkan bagaimana pemerintah daerah menggandeng elemen masyarakat Garut untuk merawat persatuan. Di tengah arus informasi cepat, penetrasi budaya luar, serta polarisasi politik, sikap tegas Bupati Garut terasa relevan. Komitmen ini bukan hanya slogan, tetapi ajakan agar warga terlibat aktif memelihara nilai kebangsaan, mulai dari lingkungan terdekat, komunitas, hingga ranah digital.

Posisi Bupati Garut dalam konteks ini penting, sebab kepala daerah berdiri di antara kebijakan pusat serta aspirasi warga. Lewat perayaan Harlah ALMAGARI, terlihat upaya menyatukan energi komunitas, tokoh lokal, serta birokrasi. Alih-alih fokus pada seremoni, pesan utama diarahkan pada penguatan cinta tanah air, penghormatan terhadap Pancasila, dan konsistensi mempertahankan NKRI. Bagi saya, langkah ini strategis: merawat Indonesia tidak cukup lewat regulasi, tetapi melalui jejaring komunitas yang hidup, seperti ALMAGARI, yang menyentuh langsung akar rumput.

banner 336x280

Harlah ALMAGARI ke-4: Momentum Bupati Garut Menyapa Akar Rumput

Empat tahun perjalanan ALMAGARI mencerminkan konsistensi komunitas dalam membangun ruang kebersamaan bagi masyarakat Garut. Perayaan Harlah ke-4 terasa spesial karena menghadirkan Bupati Garut sebagai figur sentral. Kehadiran pemimpin daerah memberi legitimasi sekaligus dukungan moral bagi pengurus serta anggota. Bagi warga, acara seperti ini menjadi ruang bertemu, berdialog, lalu memperkuat ikatan sosial. Dalam situasi ekonomi belum sepenuhnya pulih, kebersamaan semacam ini justru menjadi penopang psikologis serta sosial.

Melihat dinamika acara, terlihat bagaimana Bupati Garut berupaya menjembatani kebutuhan komunitas dengan agenda besar negara. Pidato mengenai keutuhan NKRI bukan hanya formalitas. Narasi tersebut diarahkan agar warga tidak mudah terprovokasi isu SARA, ujaran kebencian, serta konten media sosial yang menebar perpecahan. Dari sudut pandang saya, titik krusial terletak pada kemampuan pemimpin daerah mengemas pesan kebangsaan menjadi percakapan yang dekat dengan keseharian warga Garut.

ALMAGARI, sebagai organisasi alumni atau komunitas kedaerahan, memiliki posisi unik. Anggotanya tersebar di berbagai profesi, mulai pegawai, wirausaha, tenaga pendidik, hingga aktivis sosial. Jaringan tersebut memperluas jangkauan pesan Bupati Garut hingga tingkat keluarga. Ketika komunitas solid, pesan mengenai cinta tanah air dan dukungan pada pembangunan menjadi lebih mudah diterima. Sinergi antara Bupati Garut serta ALMAGARI juga dapat menjadi model kolaborasi antara pemerintah daerah dan komunitas lain di berbagai kecamatan.

Peran Bupati Garut Menjaga Keutuhan NKRI di Level Lokal

Seruan Bupati Garut untuk menjaga keutuhan NKRI memiliki dimensi strategis. Dalam teori pemerintahan, kestabilan nasional bertumpu pada stabilitas lokal. Kabupaten, kecamatan, hingga desa ibarat simpul yang jika rapuh akan menggoyahkan bangunan besar bernama Indonesia. Oleh sebab itu, ketika Bupati Garut mengaitkan Harlah ALMAGARI dengan tema kebangsaan, terlihat upaya menegaskan bahwa nasionalisme bukan monopoli pusat. Ia tumbuh justru dari ruang lokal, dari dialek Sunda, dari pasar tradisional, hingga forum pengajian kampung.

Saya melihat langkah Bupati Garut ini sebagai upaya menghadirkan wajah NKRI yang ramah sekaligus tegas. Ramah karena melibatkan komunitas seperti ALMAGARI dalam diskusi persatuan. Tegas sebab menekankan bahaya ideologi transnasional yang mencoba menggantikan Pancasila, serta risiko konflik horizontal. Di era media sosial, kabar bohong mengenai isu agama atau etnis menyebar cepat. Tanpa kepemimpinan lokal yang sigap, gesekan kecil bisa membesar. Di titik ini, peran Bupati Garut bukan hanya administrator, tetapi juga komunikator nilai kebangsaan.

Implementasi komitmen menjaga NKRI tidak cukup lewat pidato seremoni. Bupati Garut perlu menegaskan langkah konkret, misalnya penguatan pendidikan kebangsaan di sekolah, pelatihan literasi digital bagi pemuda, serta forum rutin dialog lintas tokoh. Perayaan Harlah ALMAGARI bisa menjadi titik awal menyusun agenda kerja bersama. Saya menilai, agenda paling penting adalah mendorong generasi muda Garut agar bangga terhadap daerahnya, sekaligus terbuka pada dunia. Nasionalisme sehat bukan penolakan terhadap globalisasi, melainkan kemampuan menyaring pengaruh luar tanpa kehilangan jati diri.

ALMAGARI sebagai Mitra Strategis Pemerintah Daerah

Hubungan Bupati Garut serta ALMAGARI sebaiknya tidak berhenti pada acara tahunan. Komunitas ini berpotensi menjadi mitra strategis pemerintah daerah pada banyak sektor. Bidang pendidikan, misalnya, bisa diisi program mentoring bagi pelajar dari keluarga kurang mampu. Di sektor ekonomi, anggota ALMAGARI pelaku usaha dapat membantu UMKM Garut membuka akses pasar digital. Sementara itu, pada ranah kebangsaan, ALMAGARI dapat menyelenggarakan diskusi rutin mengenai Pancasila, toleransi, serta bahaya radikalisme. Dari sudut pandang saya, sinergi semacam ini memperkuat posisi Bupati Garut sebagai penggerak kolaborasi, bukan sekadar pemberi instruksi. Bila sinergi terjaga, keutuhan NKRI tidak hanya hadir pada slogan, namun hidup nyata pada perilaku warga Garut sehari-hari.

Melihat rangkaian Harlah ke-4 ALMAGARI, saya menangkap optimisme sekaligus pekerjaan rumah besar. Optimisme muncul karena Bupati Garut berani membawa isu keutuhan NKRI ke panggung komunitas lokal. Pesan kebangsaan turun dari mimbar resmi pemerintahan menuju ruang pertemuan warga. Pekerjaan rumah muncul sebab tantangan ke depan tidak ringan. Urbanisasi, kesenjangan sosial, serta derasnya informasi digital akan terus menguji ketahanan sosial Garut. Tanpa penguatan karakter, rasa cinta Garut dan Indonesia bisa luntur perlahan.

Pada akhirnya, Harlah ALMAGARI bukan sekadar usia keempat sebuah komunitas, melainkan cermin kedewasaan warga Garut menghadapi zaman. Bupati Garut telah mengambil posisi jelas dengan menegaskan komitmen merawat keutuhan NKRI. Tugas berikutnya terletak pada kita sebagai warga: berani menghidupkan nilai persatuan di keluarga, tempat kerja, jalanan, dan ruang maya. Jika setiap orang Garut merasa bahwa menjaga Indonesia dimulai dari menjaga kampung halaman, maka pesan Bupati Garut menemukan bentuk paling konkret. Di sanalah refleksi pentingnya: keutuhan NKRI bukan hadiah, tetapi kerja kolektif tanpa henti.

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %
banner 336x280

News Feed