oleh

Serentak Gemuruh Para Kompetitor Seleksi PPS di Garut, : Abracadabra, Hanya di KPU Nilai Paling Rendah Bisa Lolos

HARIANGARUTNEWS.COM – Salah satu tolak ukur untuk mewujudkan pemilu yang demokratis berintegritas diantaranya membentuk penyelenggara pemilu yang jujur, transparan, akuntabel, cermat dan akurat dalam melaksanakan tugas dan kewenangannya serta memiliki dedikasi serta Integritas.

Merasa terbukakan tabir oleh pemberitaan media. Pengakuan peserta seleksi adanya dugaan rekayasa rekruitmen lembaga ad hoc penyelenggara Pemililihan Umum (Pemilu) 2024 di Kabupaten Garut terus mengemuka terungkap ke publik.

Berbagai macam pengakuaan adanya keanehan dari para peserta yang tak lolos menjadi Panitia Pemungutan Suara (PPS) ini, menyebut banyak kejanggalan dalam hal penetapan hasil seleksi PPS oleh Komisi Pemilihan Umum Daerah (KPUD) Garut.

Hampir rata pada beberapa kecamatan banyak sosok yang siap membawa keganjilan ini ke Dewan Kehormatan Penyelenggara Pemilu (DKPP) dari sisi etiknya maupun ke ranah pidana jika nantinya ditemukan bukti petunjuk yang mengarah ada semacam by design ataupun permainan suap untuk meloloskan figure tertentu.

Para peserta yang ikut seleksi namun tak diloloskan KPUD Garut, kendati memiliki nilai tinggi dalam tahapan seleksi, berharap semua unsur media baik elektronik, cetak, tv dan radio sebagai sosial kontrol, terus mengungkap agar semuanya terang benderang.

Salah satunya diungkapkan peserta seleksi PPS dari Kecamatan Selaawi, Diki. Ia merasa kecewa dan menyebut ada dugaan rekayasa rekruitmen dari keputusan KPUD Garut. Dirinya mendapat nilai Computer Assisted Test (CAT) besar tapi namanya mendadak hilang, dan dinyatakan gagal tes wawancara. Padahal dia merasa mampu menjawab seluruh pertanyaan dengan baik.

“Merasa kecewa dengan rekruitmen PPS. Saya dari Desa Selaawi, hasil CAT 96, ranking ke 3. Saat diwawancara oleh KPU hanya menanyakan prinsif yang 11, itu tidak dipakai oleh KPU Garut. Alhasil saat pleno KPUD bukan mengandalkan nilai, tapi titipan. Abracadabra, hanya di KPU nilai dibawah bisa lolos menjadi penyelenggara,” ungkapnya kepada hariangarutnews.com, melalui pesan whatsapp, Selasa (24/01/2023) malam.

Ungkapan yang sama disampaikan peserta seleksi PPS dari Kecamatan Cibatu Asep yang menyebut rekayasa dan adanya titipan calon anggota PPS sangat nampak. Salah satunya ada peserta yang hanya punya nilai 32 saja dalam CAT bisa lolos.

“CAT ulang, gelar ulang, SK ulang. Harus CAT ulang kalau mau baik. Kasihan yang mau bener-bener ikut seleksi, ini sudah dzolim sekali. Dari sini saya menilai seperti nya ada yang mereka akan ‘mainkan’ di pemilu 2024 ini,” cetusnya.

Sementara salah seorang dari sekian kompetitor yang mewakili rekan-rekannya saat ikut seleksi PPS, Chandra, banyak membeberkan fakta baik hasil test tulis CAT maupun dinamika saat menjalani Fit&Proper Test.

“Diantara mereka yang dilantik saya siap memberikan kesaksian bagaimana factor kedekatan menjadi penopang utama, selain dugaan manipulasi nilai untuk meloloskan sosok tertentu.
Bagaimana mewujudkan Pemilu 2024 ini berintegritas, jika penyelenggara pemilunya dihasilkan dari nabrak norma dan aturan pemilu,” ungkap Chandra.

Ia mengapresiasi jajaran media selaku sosial kontrol telah membukakan tabir keganjilan dalam rekruitmen PPS. Agar persoalan yang ada bisa diperbaiki, dan KPU harus membuka diri, transfaran dan akuntable. Bahkan menurutnya, mungkin saja sejak rekruitmen Panitia Pemilihan Kecamatan (PPK) juga terjadi hal yang sama. (*)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terbaru