Antrian Menuju Partai Nasdem Garut, Kenapa ?

FOKUS, POLITIK1,878 views

Oleh : Tata Ansorie (Pimpinan Umum Harian Garut News)

TERSENTAK, tatkala mantan pimpinan Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra) Garut, Hilman Yudiswara tiba-tiba hadir di acara pembekalan partai Nasional Demokrasi (Nasdem) di Fave hotel. Selain kehadiran secara terbuka, Hilman pun mengenakan pakaian form partai kebesaran Nasdem, warna biru garis kuning.

Ternyata yang hadir berada di acara partai Nasdem tersebut tidak hanya Hilman Yudiswara, ada sejumlah tokoh anggota partai lain yang semula diketahui bukan anggota partai itu, diantaranya Dikdik Darmika (PDIP), Aay Syarif Hidayat (PKB), Lala Subianto (Gerindra), Ogi Gumilar (PDIP). Kabarnya, semua yang hadir itu sudah menyatakan diri bergabung dengan partai besutan Surya Paloh. Bahkan digadang-gadang kabarnya Ervin Lutfi (Eks Caleg Gerindra), H. Babay Tamimi (PAN), Mukti Arif (Golkar), Tanto Sudianto Rieza (PDIP), Dede Sutisna (mantan Sekdisdik), Asep Faruq (mantan Kepala DPMPT) pun turut merapat dan telah mendaftar sebagai Bacaleg di Nasdem.

Adapun terkait Hilman Yudiswara, ia adalah Ketua Partai Gerindra periode 2009 – 2014 dan merupakan anggota DPRD Garut di periode yang sama. Sepak terjang Hilman menjadi perhatian publik, ia tercatat sebagai anggota DPRD Garut paling muda, saat itu kira-kira berusia 24 tahun. Jauh jika dibandingkan dengan 49 orang anggota dewan lainnya yang rata-rata berusia diatas 30 tahunan.

Diusia muda tersebut, Hilman pun dibebani gerbong partai yang dilepas pimpinannya waktu itu karena kesibukannya sebagai pebisnis. Akhirnya, partai Gerindra Garut ia nahkodai dibantu pengurus lain yang terbilang cukup solid.

Hilman Yudiswara sangat berjasa dipercalonan bupati pasangan Rudy Gunawan – Helmi Budiman pada pilkada 2013. Dia dengan partai Gerindra-nya dan Partai Bulan Bintang (PBB), mensuport dukungan bergabung dengan Partai Keadilan Sejahtera (PKS) untuk memenangkan Pilkada tersebut.

Hanya saja kesuksesan pilkada 2013 itu, tidak selaras dengan kesuksesan Hilman sendiri yang gagal pada pemilu legislatif 2014. Bahkan, jabatan posisi ketua partai pun harus rela diambil oleh kadernya sendiri kendati saat itu mungkin cukup pahit.

Banyak pihak menyebut pilihan Hilman Yudiswara pindah dari partai Gerindra ke Nasdem dipandang tepat. Mengingat, jika dia terus berada di partai yang pernah ia besarkan, karir politiknya akan terus berjalan ditempat, karena akan dibayang-bayang-banyangi figur kepemimpinan Gerindra Garut yang saat ini memimpin. Maka langkah yang tepat, Hilman harus hijrah ke partai lain.

Perpindahan dari satu partai ke partai lain, sudah tidak lagi dikatakan sebagai “kutu loncat”. Di partai politik menjadi hal lumrah dan bukan sesuatu yang tabu. Mungkin karena banyaknya kader yang pindah-pindah partai mulai kader pusat hingga daerah. Di era ini partai politik bukan lagi bicara idiologi, melainkan kecocokan seseorang yang masuk di partai politik. Cocok menurut dirinya, dan cocok menurut pengurus di partai tersebut.

Partai Nasdem sendiri memiliki boleh dikatakan spekulasi yang kerap akurat dalam menentukan langkahnya. Contohnya, dalam menentukan mempersiapkan calon presiden. Nasdem penuh optimis memilih Joko Widodo sebagai calon presiden. Demikian pula ketika pilkada gubernur Jawa Barat, Nasdem jauh hari mempersiapkan Ridwan Kamil sebagai kandidat calon gubernur.
Pilihan Nasdem terjawab dengan bukti akurat. Artinya, perhitungan politik Nasdem cukup matang, tentunya memiliki kwalitas yang tak bisa dipandang sebelah mata dalam kalkulasi politiknya. Kini Nasdem akan diuji di Garut. Kepimpinan Diah Kurniasari (di Nasdem menggunakan istilah “Kakak” menyebut ketua DPD-nya), merupakan isteri bupati Garut H. Rudy Gunawan yang memboyong sejumlah kadernya, nampaknya cukup optimis akan berbuat banyak dan meyakini akan meraih sejumlah kursi yang diperebutkan. Diah Kurniasari sendiri di daulat sebagai calon bupati Garut untuk pilkada tahun 2024.

Kata Hilman Yudiswara ketika berkunjung ke kantor, “Alasan saya pindah karena ini merupakan salah satu bukti kecintaan saya terhadap seluruh warga Garut. Kaka Diah merupakan harapan dan jalan kami untuk terus membangun Garut lebih baik lebih sejahtera”, ungkapnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *