oleh

Sambutan Wakil Bupati Garut Saat Halal Bihalal dan Rakercab DPC APTI, Peserta Menitikkan Air Mata

HARIANGARUTNEWS.COM – Bertempat di Sekretariat Asosiasi Petani Tembakau Indonesia (APTI) DPC Kabupaten Garut, Kampung Cimuncang, Desa Rancabango, Kecamatan Tarogong Kaler, menggelar Rapat Kerja Cabang (Rakercab) dan Halal Bihalal pada Kamis (12/05/2022)

Kegiatan yang diikuti oleh para petani Tembakau dari 22 DPK se-Kabupaten Garut tersebut juga dihadiri oleh Wakil Bupati Garut dr Helmi Budiman, Kepala Dinas Pertanian, Kepala Dinas Perindustrian, Perdagangan dan ESDM, Dinas Kesehatan, Bappeda, dan Ketua DPD (APTI) Jawa Barat. Kemudian, hadir peninjau dari Kabupaten Tasikmalaya, Sumedang, Majalengka, Kabupaten Bandung dan Bandung Barat.

Pantauan hariangarutnews.com, suasana Rakercab yang khidmat seketika berubah menjadi hening, sejumlah petani tembakau sempat menitikkan airmata saat Wakil Bupati Garut dr Helmi Budiman menyampaikan sambutan. Menurut peserta Rakercab, penyampaian Helmi Budiman, dari kalimat demi kalimat terkesan mengayomi.

“Untuk pengurus DPK dan DPC harus mampu membuat sejarah dan kebaikan yang bisa di wariskan ke anak cucu, sebab itu bagian dari ibadah. Kalau sekarang apa yang telah kita perbuat dan yang bisa diwariskan kepada anak cucu. InsyaAlloh dengan berbuat kebaikan terkandung berjuta berkah, petani tembakau harus maju dan bangkit, harus bisa berinovasi. Yang terpenting hikmah dari Halal Bihalal dan Rakercab hari ini, kita dikembalikan ke fitroh, jangan dikotori lagi oleh perbuatan-perbuatan yang bersifat menjadikan dosa,” kata Helmi Budiman saat menyampaikan sambutan.

Sisi lain, pemandangan yang membuat bingung panitia terjadi saat Wakil Bupati Helmi Budiman berpamitan, sejumlah pejabat dan para kepala dinas serta tamu undangan dari luar kota, ditinggalkan begitu saja oleh para petani, peserta Rakercab semuanya malah ramai-ramai menghantarkan dr Helmi sampai ke mobil dinasnya.

Saat ditemui awak media, Ketua DPC APTI Kabupaten Garut Undang Herman menjelaskan, bahwa komoditas tembakau memang serba dilematis. Di satu sisi, pemasukan yang diterima negara dari cukai rokok yang bahan baku utamanya tembakau sangat besar, akan tetapi disisi lain kesejahteraan hidup petani tembakau masih jauh dibawah rata rata.

“Rencana pemerintah untuk menaikkan cukai rokok rata-rata 21,56 persen dan Harga Jual Eceran (HJE) rokok rata-rata 35 persen, kemarin membuat petani tembakau menjerit,” ungkap Undang Herman.

Saat ini, lanjut Undang, penyerapan industri rokok terhadap hasil panen tembakau sudah anjlok, para petani berharap pemerintah mau menurunkan besaran kenaikan cukai rokok. Dengan demikian, dampaknya tidak terlalu besar terhadap penghasilan petani, atau boleh naik namun tidak sebesar yang telah ditetapkan.

“Pabrik tidak berani ambil banyak, karena mereka takut konsumsi rokok akan turun saat cukai baru berlaku. Dalam kesempatan ini saya mengucapkan terimakasih dan penghargaan yang setinggi tingginya kepada Bapak Wakil Bupati Garut dr Helmi budiman, Kadis pertanian bapak Ir Beni Yoga, Kadisperindag dan ESDM, Nia Gania Karyana, DPD APTI Jabar, Bappeda dan semua pihak yang telah ikut menyaksuskseskan acara kami, Semoga ibu bapak diberikan kemampuan dan kesehatan oleh Alloh SWT,” pungkasnya. (Adam B)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terbaru