oleh

Kabid Kesmas Dinas Kesehatan Garut Beberkan Empat Poin Pencegahan Stunting

HARIANGARUTNEWS.COM – Stunting adalah kondisi gagal pertumbuhan pada anak akibat kekurangan gizi dalam waktu yang lama. Sehingga, perawakannya pendek dari anak normal seusianya (istilah di masyarakat sering disebut cebol) dan memiliki keterlambatan dalam berpikir. Umumnya disebabkan asupan makan yang tidak sesuai dengan kebutuhan gizi.

Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat (Kabid Kesmas) Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Garut, dr. Tri Cahyo Nugroho, menyampaikan dalam penanganan Stunting, sedikitnya ada 4 upaya yang bisa dilakukan oleh masyarakat. Hal pertama untuk mencegah stunting yakni terkait asupan gizi yang harus bagus.

“Kita melihat bahwa stunting itu tidak tiba-tiba karena definisi stunting adalah kurang gizi kronis, maka kita harus merunut kebelakang mengapa bayi-bayi balita itu bisa menjadi stunting. Disitu ketemulah bahwa pencegahan stunting harus dimulai minimal sejak ibu itu hamil, jadi ketika ibu itu hamil maka seorang ibu harus cukup gizinya karena gizi yang dimakan oleh ibu tentunya akan dimakan juga oleh bayinya,” paparnya.

Selain itu, lanjut Tri, pola asuh yang benar juga bisa menjadi upaya dalam pencegahan stunting. Untuk pencegahan ini, imbuh Tri, bukan hanya melulu soal gizi ataupun yang lainnya, upaya lainnya yakni melaksanakan dan memanfaatkan pelayanan kesehatan imunisasi.

“Sebenarnya begitu mudah, cuman masyarakat kita pola asuhnya ibu yang bekerja lupa. Ada istilahnya harus memeras ASI (Air Susu Ibu) jadi kadang stunting lahir terus tidak dikasih ASI eksklusif, jadinya stuntingnya agak menetap. Harus juga poin ketiga itu dijaga kesehatannya dengan imunisasi, percuma saja kita kasih gizi yang bagus tetapi anaknya sakit-sakitan. Nah biar tidak sakit-sakitan tentunya imunisasinya harus lengkap,” ungkapnya.

Tri menyampaikan poin terakhir atau poin keempat untuk mencegah Stunting adalah lingkungan yang sehat dan bersih juga bisa mencegah terjadinya stunting. Biar tidak sakit-sakitan lagi, kata dia, salah satunya ada intervensi lingkungan.

“Jambannya sudah sehat atau belum, bagaimana kebiasaan keluarganya dalam mencuci tangan apakah sudah rapih belum? Jangan sampai gizinya bagus, tangannya tercemar, jambannya masih belum sehat, akhirnya anaknya masih sakit-sakitan dan cacingan.” pungkasnya. (Adv)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terbaru