Perkawinan Anak di Garut Tinggi, Pj Bupati Barnas : Butuh Upaya Edukasi Lebih Kuat

FOKUS380 views

HARIANGARUTNEWS.COM – Pj. Bupati Garut, Barnas Adjidin, mengungkapkan, Kabupaten Garut kini menghadapi berbagai permasalahan, termasuk kemiskinan, anak putus sekolah, termasuk perkawinan anak yang memiliki risiko tinggi, akibatnya terjadi perceraian karena ketidaksiapan anak dalam menjalani pernikahan.

Hal itu diungkapkan Barnas dihadapan peserta Pertemuan Multistakeholder dan Penguatan Pusat Pembelajaran Keluarga (PUSPAGA) dalam rangka mencegah perkawinan anak di Aula Kantor DPPKBPPPA Garut, Jalan Terusan Pahlawan, Kecamatan Tarogong Kidul, Rabu (10/7/2024).

Menurut Barnas, seorang anak harus matang secara ekonomi, fisik, dan mental sebelum menikah, karena di kemudian hari akan menghadapi banyak tantangan setelah pernikahan.

“Ya stabil ekonominya, stabil fisiknya, stabil daripada mentalnya, karena akan menghadapi gelombang besar setelah pernikahan,” ujar Barnas.

Barnas menyebutkan, Kabupaten Garut merupakan salah satu daerah yang termasuk ke dalam daerah dengan angka perkawinan dini yang tinggi. Berkaitan dengan hal tersebut, Pj Bupati Garut menekankan perlu dilakukannya upaya melalui edukasi kepada masyarakat khususnya para anak agar tidak melaksanakan pekawinan anak.

Ia pun berterima kasih kepada DP3AKB Provinsi Jawa Barat atas penyelenggaraan acara ini guna memperkuat upaya pencegahan perkawinan dini di Garut.

“Tentu kegiatan ini tidak hanya untuk menyelesaikan sesuatu yang harus kita selesaikan. Tapi merupakan langkah awal dari apa yang harus kita lakukan,” tambahnya.

Sementara itu, Kepala DP3AKB Provinsi Jawa Barat, Siska Gerfianti, mengungkapkan, permasalahan perkawinan anak di Jawa Barat masih tinggi, meskipun angka dispensasi pernikahan menurun. Ia menuturkan, perkawinan anak bisa menjadi pintu masuk bagi masalah spesifik perempuan dan anak lainnya, seperti gangguan kesehatan reproduksi dan peningkatan angka kematian ibu dan bayi.

Siska pun menyoroti peningkatan angka perceraian sebagian disebabkan oleh perkawinan anak, di mana secara psikis pasangan tersebut belum siap sehingga hal ini dapat menimbulkan perselisihan. Ia mencatat angka perceraian di Jawa Barat naik mencapai rata-rata 90 ribu per tahun.

“Betul angka perceraian kita naik. Memang masih di rata-rata 85 ribu sampai 98 ribu setiap tahun naik turun, kalau rata-rata mungkin 90 ribuan ya, tapi ini tentu kan harus kita turunkan,” ungkapnya.

Dirinya mengajak seluruh stakeholder untuk berkolaborasi dalam mencegah perkawinan anak dan menguatkan keluarga sebagai unit terkecil bangsa, sehingga keluarga dapat melaksanakan 8 fungsi keluarga berdasarkan 5 pilar dimensi keluarga.

Senada dengan Siska, Sekretaris Daerah (sekda) Kabupaten Garut, Nurdin Yana, mengungkapkan, pernikahan anak memiliki beberapa dampak, salah satunya adalah meningkatnya angka perceraian, di mana di Kabupaten Garut angkanya mencapai 5.000 kasus dan beberapa persennya di antaranya adalah anak-anak.

Pemerintah Kabupaten Garut telah melakukan berbagai upaya, termasuk membentuk Forum Anak Daerah untuk memberikan edukasi langsung kepada anak-anak.

“Sehingga mereka memiliki knowledge atau pengetahuan dalam kerangka mempersiapkan diri untuk masuk ke rumah tangga, jadi kalau agennya dari kalangan mereka, kan biasanya masuk,” ungkap Nurdin Yana.

Ia berharap melalui kegiatan ini, angka perkawinan anak dapat menurun, angka perceraian berkurang, dan kesejahteraan keluarga di Kabupaten Garut meningkat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *