Kaitan peran Pendidik dalam Mewujudkan Filosofi Pendidikan Ki Hadjar Dewantara dan Profil Pelajar Pancasila pada Murid dengan Paradigma IA

FOKUS1,329 views

Oleh: Aam Mulyantari Sudirman | CGP Angkatan 10

HARIANGARUTNEWS.COM – Pendidikan memiliki peran fundamental dalam membentuk karakter dan kepribadian bangsa. Di Indonesia, filosofi pendidikan Ki Hajar Dewantara dan konsep Profil Pelajar Pancasila merupakan dua pilar penting dalam sistem pendidikan nasional.

Ki Hajar Dewantara, dikenal sebagai Bapak Pendidikan Nasional Indonesia, memiliki filosofi pendidikan yang menekankan pentingnya pendidikan yang membebaskan, yang berorientasi pada perkembangan karakter dan budi pekerti murid.

Pendidikan yaitu tuntunan di dalam hidup tumbuhnya anak- anak, maksudnya, yaitu menuntun segala kekuatan kodrat yang ada pada anak-anak itu, agar mereka sebagai manusia dan sebagai anggota masyarakat dapatlah mencapai keselamatan dan kebahagiaan setinggi-tingginya.

Kodrat anak meliputi kodrat alam dimana lingkungan anak tumbuh dan berkembang dan kodrat zaman yang berhubungan dengan waktu / zaman tumbuh tau belajar filosofi ini salah satunya berfokus pada tiga asas utama: Ing Ngarsa Sung Tuladha (di depan memberi teladan), Ing Madya Mangun Karsa (di tengah membangun semangat), dan Tut Wuri Handayani (di belakang memberi dorongan).

Adapun sementara itu, Profil Pelajar Pancasila adalah upaya pemerintah Indonesia untuk membentuk siswa yang berkarakter sesuai nilai-nilai Pancasila, yang meliputi enam dimensi utama : Beriman, bertakwa kepada Tuhan YME, dan berakhlak mulia, Berkebinekaan global; Gotong royong, Mandiri, Bernalar kritis, dan Kreatif.

Adapun peran pendidik dalam pembelajaran antara lain yaitu sebagai :
1. Pendorong kolaborasi
2. Mewujudkan kepemimpinan murid
3. Coach bagi guru lain
4. Penggerak komunitas
5. pemimpin pembelajaran
Sedangkan Nilai – nilai yang harus dimiliki oleh seorang guru antara lain:
1. Berpihak pada murid
2. Inovatif
3. Kolaboratif
4. Mandiri
5. Reflektif

Pradigma Inkuiri Apresiatif (IA) adalah sebuah paradigma sekaligus model manajemen perubahan yang memegang prinsip psikologi dan pendidikan positif serta pendekatan berbasis kekuatan. Pendekatan ini berfokus pada kekuatan dan nilai-nilai positif yang dimiliki oleh suatu organisasi, dalam hal ini sekolah dan warganya untuk dapat terus melakukan perubahan dan perbaikan kualitas.

Dengan kata lain IA adalah pendekatan yang berfokus pada kekuatan dan potensi positif yang ada dalam individu dan lingkungan pembelajaran. Dalam konteks ini, peran pendidik sangat krusial. Berikut adalah beberapa cara pendidik dapat berperan dalam mengintegrasikan filosofi pendidikan Ki Hajar Dewantara dan Profil Pelajar Pancasila melalui IA : Teladan dalam Bertindak (Ing Ngarsa Sung Tuladha ): Pendidik harus menjadi contoh nyata bagi siswa dalam menerapkan nilai-nilai Pancasila dan prinsip-prinsip moral yang kuat. Misalnya, menunjukkan sikap gotong royong dalam keseharian di sekolah. Dalam konteks IA, pendidik dapat mengajak siswa untuk mengidentifikasi dan mengapresiasi teladan-teladan positif dari lingkungan sekitar mereka.

Memotivasi dan Membangun Semangat (Ing Madya Mangun Karsa): Pendidik harus mampu menciptakan lingkungan belajar yang inspiratif dan memotivasi
siswa untuk terus berkembang. Dengan IA, pendidik bisa menggali potensi siswa dengan memberikan mereka kesempatan untuk mengeksplorasi minat dan bakat mereka, serta memberikan
pengakuan atas pencapaian mereka.

Memberikan Dorongan dan Dukungan (Tut Wuri Handayani) : Pendidik perlu memberikan dukungan moral dan emosional kepada siswa untuk mendorong mereka meraih keberhasilan. Paradigma IA memungkinkan pendidik untuk terus mendorong siswa dengan cara positif, fokus pada kekuatan mereka, dan
memberikan umpan balik yang konstruktif.

Adapun Integrasi Filosofi Ki Hajar Dewantara dengan Profil Pelajar Pancasila Melalui IA adalah sebagai beikut :
1. Beriman dan Bertakwa, Berakhlak Mulia
Pendidik dapat mengintegrasikan nilai-nilai spiritual dan moral dalam kegiatan
sehari-hari melalui cerita inspiratif dan diskusi yang menghargai perbedaan.
2. Berkebinekaan Global
Menggunakan pendekatan IA, pendidik dapat mengajak siswa untuk mengeksplorasi budaya lain dan menghargai keragaman, misalnya dengan proyek kolaboratif internasional.
3. Gotong Royong

Mengaplikasikan IA dalam proyek-proyek kelompok yang memerlukan kerja sama dan kolaborasi, sehingga siswa belajar pentingnya kerja tim dan kontribusi individu.
4. Mandiri
Mendorong siswa untuk mengambil inisiatif dalam belajar dan menyelesaikan masalah secara mandiri, dengan pendidik memberikan bimbingan sesuai
kebutuhan.
5. Bernalar Kritis
Pendidik bisa menggunakan IA untuk mengembangkan kemampuan berpikir kritis siswa melalui pertanyaan-pertanyaan reflektif dan diskusi terbuka yang menghargai berbagai perspektif.
6. Kreatif
Menciptakan lingkungan yang mendukung kreativitas dengan memberi ruang bagi siswa untuk bereksperimen dan mengekspresikan ide-ide mereka tanpa takut
salah.

Inkuiri apresiatif dapat dimulai dengan mengidentifikasi hal hal positif / hal baik yang ada di sekolah serta mencari cara bagaimana hal tersebut dapat dipertahankan dan memunculkan strategi / prakarsa untuk mewujudkan perubahan ke arah yang lebih baik.

Prakarsa atau perubahan tersebut dapat di tuangkan dalam kanvas BAGJA. Dimana kanvas ini berfungsi sebagai bahan atau alat yang digunakan untuk mencapai tujuan / visi atau prakarsa baru tersebut. BAGJA merupakan akronim dari Buat pertanyaan ;
1. Ambil pelajaran
2. Gali mimpi
3. Jabarkan rencana
4. Atur eksekusi
Kanvas BAGJA ini akan mempermudah sebuah Lembaga dalam mencapai visi dan tujuannya.

Dengan mengenali potensi atau kekuatan yang dimiliki, membuat impian-impian di masa depan, membuat rencana perubahan dan mengimplemetasikan perubahan-perubahan tersebut serta mengevaluasinya. Dengan menggabungkan filosofi pendidikan Ki Hajar Dewantara dan Profil Pelajar Pancasila dalam kerangka kerja Inkuiri Apresiatif, pendidik dapat menciptakan lingkungan pendidikan yang tidak hanya mendidik secara akademis, tetapi juga membentuk karakter siswa yang sesuai dengan nilai-nilai Pancasila.

Hal ini pada akhirnya akan mencetak generasi yang berkarakter kuat, mandiri, dan siap menghadapi tantangan global. Berdasarkan uraian diatas dapatlah dituangkan pada sebuah visi yang berisi
gagasan kedepan tentang murid saat ini. Sehingga beberapa tahun kedepan murid yang kita bombing menjadi pemimpin pemimpin hebat pada bidangnya masing masing. Adapun visi tersebut adalah :

:“TERWUJUDNYA MURID YANG BERAKHLAK MULIA DAN BERNALAR KRITIS YANG MEMAHAMI KODRAT ALAM DAN ZAMANNYA MELALUI PEMBELAJARAN YANG BERIHAK
PADA MURID.”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *