hariangarutnews.com – PLTMH Curug Rahong kembali mencuri perhatian publik setelah peresmian resminya di Desa Sukajaya, Cisewu. Bukan sekadar proyek infrastruktur, pembangkit listrik tenaga mikrohidro ini menghadirkan harapan baru bagi warga pedesaan yang lama bergantung pada pasokan listrik terbatas. Kunjungan KASAD Jenderal TNI Maruli Simanjuntak ke lokasi tersebut lalu berlanjut menuju Banyuresmi, menandai babak baru hubungan antara pembangunan energi, kehadiran negara, serta penguatan kehidupan beragama.
Peristiwa peresmian PLTMH Curug Rahong dan penyerahan donasi untuk masjid di Banyuresmi menyuguhkan narasi menarik tentang energi bersih yang berpadu dengan energi spiritual. Di satu sisi, aliran air sungai diolah menjadi listrik berkelanjutan. Di sisi lain, donasi masjid memperkuat denyut kehidupan sosial serta ibadah warga. Keduanya membentuk gambaran utuh tentang pembangunan yang tidak semata mengejar angka, melainkan juga merawat jiwa komunitas.
PLTMH Curug Rahong: Simbol Energi Baru di Pedesaan
PLTMH Curug Rahong di Desa Sukajaya menampilkan bagaimana potensi air pegunungan dapat diubah menjadi tenaga listrik ramah lingkungan. Mikrohidro semacam ini sangat cocok untuk daerah terpencil dengan kontur berbukit, karena memanfaatkan debit air relatif stabil sepanjang tahun. Proyek tersebut tidak hanya menyuplai listrik ke rumah warga, namun juga membuka peluang usaha kecil, mulai dari penggilingan padi hingga bengkel las sederhana.
Jika dahulu listrik sering padam atau bahkan belum menjangkau semua rumah, kehadiran PLTMH Curug Rahong menggeser realitas itu sedikit demi sedikit. Anak-anak punya kesempatan belajar lebih lama pada malam hari tanpa bergantung pada lampu minyak. Kegiatan ekonomi masyarakat juga berpotensi meningkat, sebab jam operasional usaha tidak lagi begitu dibatasi ketersediaan penerangan. Dampak sosial ini sering kali luput dari pemberitaan singkat, padahal justru di sanalah makna pembangunan terasa nyata.
Dari sudut pandang pribadi, PLTMH Curug Rahong merepresentasikan model pembangunan yang lebih bijak. Alih-alih membangun pembangkit besar, proyek skala mikro seperti ini menghargai karakter bentang alam lokal. Risiko ekologis lebih rendah, konsumsi lahan juga tidak masif. Pendekatan terdesentralisasi membantu mengurangi ketimpangan antara pusat kota serta daerah pinggiran yang kerap tertinggal akses energi.
Peran KASAD dan Wajah Humanis TNI di Tengah Masyarakat
Kehadiran KASAD Jenderal TNI Maruli Simanjuntak pada peresmian PLTMH Curug Rahong memunculkan pesan tersirat mengenai peran TNI modern. Bukan lagi semata institusi pertahanan, melainkan mitra pembangunan yang turun langsung menjawab kebutuhan dasar warga. Kunjungan ke Desa Sukajaya lalu diteruskan ke Banyuresmi, memperlihatkan rangkaian kegiatan terencana, bukan sekadar seremoni singkat penuh protokol kaku.
Saat kunjungan berlanjut menuju Banyuresmi, fokus tidak hanya tertuju pada infrastruktur fisik seperti PLTMH Curug Rahong. Jenderal Maruli menyerahkan donasi bagi sebuah masjid, memperlihatkan kepedulian terhadap ruang ibadah sebagai pusat kehidupan sosial desa. Di banyak daerah, masjid berfungsi lebih luas daripada tempat salat. Di sana berlangsung musyawarah, pendidikan anak, hingga berbagai aktivitas solidaritas warga.
Dari kacamata penulis, momen penyerahan donasi masjid itu memiliki bobot simbolis cukup kuat. Di era ketika isu kesenjangan sosial kerap mengemuka, hadirnya pejabat tinggi TNI membawa bantuan langsung memberikan sinyal kedekatan negara dengan rakyat kecil. Meski nilai donasi mungkin tidak spektakuler jika dihitung angka, efek psikologis serta moral bagi jamaah bisa jauh melampaui jumlah rupiahnya.
Sinergi Energi Bersih dan Kehidupan Spiritual
Kolaborasi makna antara PLTMH Curug Rahong dan donasi masjid di Banyuresmi pantas dibaca sebagai gambaran ideal pembangunan pedesaan masa depan. Energi bersih menghidupkan rumah, usaha kecil, juga fasilitas umum, sementara rumah ibadah merawat kepekaan sosial serta spiritual masyarakat. Ketika kedua aspek ini bergerak selaras, desa tidak hanya terang oleh cahaya listrik, namun juga bercahaya oleh nilai kebersamaan. Refleksinya, pembangunan seharusnya selalu menimbang keseimbangan antara kemajuan teknologi dan kedalaman nurani. Dari aliran air Curug Rahong hingga lantunan doa di masjid Banyuresmi, terbentang pelajaran bahwa infrastruktur terpenting pada akhirnya tetap karakter manusia yang menjaganya.
