ETLE Garut: Revolusi Tertib Lalu Lintas di Sekitar RSUD

Berita230 Dilihat
0 0
Read Time:3 Minute, 8 Second

hariangarutnews.com – ETLE kembali jadi sorotan, kali ini di Kabupaten Garut. Polres Garut mulai mengoptimalkan sistem tilang elektronik tersebut, terutama area sekitar RSUD dr. Slamet. Kawasan rumah sakit memiliki arus kendaraan cukup padat, juga tinggi risiko pelanggaran lalu lintas. Karena itu, kehadiran ETLE di titik krusial ini bukan sekadar inovasi teknologi, melainkan langkah strategis demi keselamatan bersama.

Penerapan ETLE di sekitar RSUD dr. Slamet membuka babak baru penegakan hukum lalu lintas di Garut. Tidak ada lagi toleransi untuk pelanggaran kasat mata. Kamera memantau tanpa lelah, bukti pelanggaran terekam jelas, lalu surat konfirmasi dikirim ke alamat pemilik kendaraan. Konsep ini memaksa pengendara lebih disiplin, sebab rasa diawasi bukan oleh petugas tertentu, melainkan sistem yang nyaris mustahil diajak kompromi.

ETLE di Sekitar RSUD dr. Slamet: Mengapa Sangat Penting?

ETLE di kawasan RSUD dr. Slamet memiliki dimensi kemanusiaan sangat kuat. Area rumah sakit seharusnya menjadi zona aman, tenang, serta nyaman bagi pasien maupun keluarga. Namun, realitas di banyak kota menunjukkan sebaliknya: klakson bising, pengendara ngebut, motor naik trotoar, hingga parkir liar menutup akses ambulans. Di titik inilah ETLE hadir sebagai rem kolektif bagi perilaku sembrono di jalan.

Kamera ETLE memantau pelanggaran seperti melanggar lampu merah, tidak memakai helm, menerobos marka, serta berhenti sembarangan. Bagi pengendara ceroboh, keberadaan alat tersebut terasa mengganggu. Namun, dari sudut pandang pasien atau tenaga medis, ETLE justru menjadi pelindung tak terlihat. Kedisiplinan lalu lintas dekat rumah sakit bukan hal sepele, karena setiap detik keterlambatan ambulans bisa ikut menentukan peluang hidup seseorang.

Penempatan ETLE di sekitar RSUD dr. Slamet juga menciptakan efek psikologis luas. Pengendara biasanya langsung mengubah pola berkendara begitu tahu ada kamera tilang elektronik. Laju diperlambat, jarak antar kendaraan dijaga, serta kebiasaan menerobos zebra cross mulai berkurang. Efek domino ini kemudian menyebar ke ruas jalan lain. Meski belum semua sudut Garut dipasangi ETLE, kesadaran bahwa sistem tersebut aktif membuat banyak orang berpikir dua kali sebelum melanggar aturan.

Bagaimana ETLE Mengubah Perilaku Pengendara di Garut?

ETLE mengubah struktur rasa takut para pelanggar lalu lintas. Dahulu, sebagian pengendara hanya berhati-hati ketika melihat petugas berseragam. Kini, rasa waspada muncul meski tidak ada polisi di lapangan. Kamera ETLE bekerja tanpa emosi, tidak tebang pilih, serta tidak bisa diajak tawar-menawar. Kondisi ini secara perlahan mengikis budaya “asal bisa damai di tempat”. Penegakan aturan menjadi lebih bersih, terukur, transparan.

Menariknya, ETLE bukan hanya alat penindak, melainkan juga sarana edukasi tidak langsung. Banyak warga mulai mencari informasi mengenai titik kamera, jenis pelanggaran yang terekam, serta prosedur konfirmasi surat tilang. Proses belajar kolektif ini memunculkan pemahaman baru bahwa aturan lalu lintas bukan sekadar formalitas di buku, melainkan pedoman keselamatan nyata. Di media sosial lokal Garut, perbincangan mengenai ETLE cukup ramai, memicu diskusi mengenai etika berkendara yang selama ini sering diabaikan.

Dari sudut pandang pribadi, saya melihat ETLE di Garut sebagai ujian kedewasaan publik. Teknologi hanyalah alat, sementara perubahan sejati bertumpu pada sikap. Bila masyarakat masih mencari cara menghindari tilang, misalnya dengan mengganti plat bodong atau tidak memperbarui alamat STNK, maka esensi ETLE terasa berkurang. Namun, bila warga justru memanfaatkan momentum ini untuk memperbaiki dokumen kendaraan, menaati rambu, serta menghargai pejalan kaki, maka ETLE akan tercatat sebagai tonggak penting budaya tertib di daerah tersebut.

Tantangan Sosial, Teknologi, dan Harapan ke Depan

Tentu, penerapan ETLE di sekitar RSUD dr. Slamet bukan tanpa tantangan. Masih ada keterbatasan sosialisasi, ketimpangan literasi digital, bahkan kecurigaan bahwa sistem tersebut hanya sarana menggenjot pendapatan tilang. Namun, bila Polres Garut konsisten memberi edukasi, membuka kanal pengaduan, serta menyajikan data penurunan kecelakaan secara transparan, kepercayaan publik perlahan tumbuh. Harapan jangka panjangnya, ETLE tidak lagi dipandang sebagai ancaman, melainkan mitra pelindung di jalan raya. Kita pun diajak merefleksikan diri: apakah selama ini mengemudi dengan empati, atau sekadar mengejar waktu tanpa peduli keselamatan orang lain? Di titik renung itu, ETLE menjadi cermin yang memaksa kita menilai ulang sikap di balik kemudi.

Happy
0 0 %
Sad
0 0 %
Excited
0 0 %
Sleepy
0 0 %
Angry
0 0 %
Surprise
0 0 %