HARIANGARUTNEWS.COM – Musibah banjir bandang di Aceh tidak hanya melumpuhkan infrastruktur vital, tetapi juga memutus akses emosional dan komunikasi warga dengan keluarga mereka. Aceh Tengah menjadi salah satu kecamatan yang paling parah terdampak bencana banjir bandang. Ribuan warga harus mengungsi karena rumah mereka terendam bahkan tenggelam.
Ilyas (23), salah seorang perantau asal Desa Neglasari, Kecamatan Pakenjeng, Kabupaten Garut, bersama dua warga lainnya Fahmi dari Kecamatan Sukaresmi dan Asep Rahmat asal Cisurupan, meminta pertolongan kepada Pemerintah Kabupaten Garut agar bisa membantu kepulangannya ke daerah asal.
“Kami mohon kepada Bupati Garut agar bisa membantu kepulangan kami yang saat ini terjebak musibah banjir bandang di provinsi Aceh,” ujar Ilyas melalui rekaman video yang dikirim ke redaksi hariangarutnews.com pada Rabu (03/12/2025).
Ilyas bersama dua temannya asal Garut mengaku baru satu bulan berada di Aceh. Sejak bencana menerjang, Ilyas dan warga Aceh lainnya hanya bisa menahan lapar karena tidak ada makanan yang bisa dimakan. Banjir bandang yang tiba-tiba terjadi membuat mereka tidak sempat menyelamatkan barang berharga apapun.

“Kami tiba disini pada tanggal 1 Oktober 2025 lalu, dan bekerja di konveksi di daerah Aceh Tengah yang terdampak banjir. Pada saat kejadian, lampu tiba-tiba mati dan air menerjang bangunan tempat kami bekerja,” ujar Ilyas.
Selama dua hari tertahan, lanjut dia, kondisi di lokasi bencana semakin memprihatinkan. Persediaan logistik menipis dan belum ada bantuan luar yang bisa menjangkau lokasi tersebut.
“Keadaan sangat darurat. Stok makanan sedikit. Warga di sekitar sini juga banyak yang kesulitan. Kami berjalan kaki dari lokasi bencana tempat kami bekerja menuju daerah aman di Lhokseumawe. Alhamdulillah sempat mampir di Polsek Dewantara dan akhirnya dijemput oleh Kang Muhamad Jalari yang juga asal Garut bersama dari Polres Lhokseumawe,” tutur Ilyas
Beruntung, ada warga Kecamatan Limbangan Kabupaten Garut, Muhamad Jalari, yang menjemput Ilyas dan kawan-kawan ke lokasi evakuasi di Polsek Dewantara Resor Lhokseumawe. Para korban, kata Jalari, disambut oleh personel Polsek Dewantara, dan diberikan makanan serta dipersilahkan untuk mandi dan beristirahat.
“Saya mendapat kabar dari Polres Lhokseumawe bahwa ada warga Garut dan daerah lainnya yang berjalan kaki dari Kabupaten Aceh Tengah ke Polsek Dewantara. Setelah berkoordinasi dengan Kabag Ops Polres Lhokseumawe yang kebetulan orang Bandung, kami langsung melakukan penjemputan ke Polsek setempat,” ujar M. Jalari.
Muhamad Jalari menuturkan, dirinya berada di Aceh juga sama-sama sedang bekerja, namun daerahnya tidak terdampak bencana. Rombongan kini telah tiba di Polres Lhokseumawe untuk berkoordinasi dengan tim penanganan bencana.

“Saya tinggal di Lhokseumawe, sekitar 3-4 jam ke daerah Aceh Tengah. Kebetulan saya juga sedang bekerja disini. Ilyas dan rekannya berencana pulang ke Garut, Jawa Barat namun tidak punya bekal dan biaya. Kami berharap Pemkab Garut membantu kepulangan mereka,” ujar Jalari.
Sementara, salah seorang anggota Polres Lhokseumawe, melalui rekaman video meminta Gubernur Jawa Barat, Kang Dedi Mulyadi, memfasilitasi warga Jawa Barat yang ingin pulang ke Kampung halamannya.
“Assalamualaikum, sampurasun. Pak Dedi Mulyadi selaku Gubernur Jawa Barat. Kami dari Polres Lhokseumawe, kebetulan mendapatkan warga Jawa Barat yaitu diantaranya 3 orang dari Kabupaten Garut, 4 dari Kabupaten Cianjur, dan 1 orang dari warga Kabupaten Cilacap. Kami memohon bantuan dari Bapak Gubernur, Bapak Dedi Mulyadi untuk bisa memfasilitasi warga Jawa Barat ini dikarenakan memang ingin kembali ke kampung halamannya. Semoga Pak Dedi bisa memberikan bantuan ataupun fasilitas kepada kami dan juga warga Jawa Barat agar bisa pulang kembali ke rumah dan bertemu sanak keluarga kembali. Terimakasih Pak Dedi lebih kurangnya mohon maaf. Wassalamualaikum,” ungkap anggota Polri dalan video tersebut.***(M. Jalari)






Komentar