oleh

Tragedi Citanduy, Menengok Masa Kecil Wakil Bupati Garut

Caption : Pesantren Al-Munawaroh di kampung Cideres desa Sukamenak kecamatan Sukaresik Tasikamalaya, merupakan pesantren dimana Wakil Bupati Garut dr. Helmi Budiman belajar agama saat kecil. Pesantren tersebut milik kakeknya bernama Ajengan Toha.

 

Oleh : Tata Ansorie, S.Kom (Pimpinan Umum)

PUKUL 11.57 WIB, penulis tiba di kampung Cideres desa Sukamenak kecamatan Sukaresik kabupaten Tasikmalaya. Merupakan kampung halaman dan kelahiran wakil bupati Garut dr. Helmi Budiman. Sekitar 2 kilometer untuk memasuki wilayah desa Sukamenak dari jalan raya nasional Tasikmalaya – Bandung, tak jauh dari Ciawi. Sekalipun jalan desa, tetapi jalannya di aspal  sangat baik dan nyaman. Daerahnya masih perkampungan dengan pemandangan hamparan sawah dan kebun, kampung Cideres terbilang luas. terbagi 5 rukun warga dan 13 rukun tetangga.

Nama kampung Cideres diambil dari sumber mata air yang mengalir dari hilir hinggi hulu melalui sungai kecil atau selokan yang masih berada di kawasan tersebut, sehingga dinamakan Cideres karena airnya cukup deras dan tak pernah kekeringan. Mata air tersebut menjadi sumber kehidupan masyarakat setempat, baik untuk kebutuhan tanaman sawah maupun kebutuhan sehari-hari.

Masyarakat kampung Cideres dominan bertani, sekalipun ada juga yang bekerja di swasta maupun pegawai negeri dan berdagang. Kampung yang masih asri tersebut memiliki dua bangunan sekolah dasar, yakni SD Raksanagara merupak asal sekolahnya dr. Helmi Budiman dan SD Raksajaya. Memang tak lazim, biasanya nama sekolah diambil dari nama kampung atau sekarang nama desa. Semula sekolah dasar hanya satu yaitu SD Raksanagara, karena jumlah penduduk semakin bertambah, akhirnya dibangun Kembali SD Raksajaya.

Nama SD Raksajaya pun awalnya SD Neglasari. Adapun nama SD Raksanagara konon merupakan sebuah nama tokoh leluhur di kampung Cideres. SD Raksanagara awalnya dibangun oleh swadaya masyarakat tanpa campur tangan pemerintah. Berbeda dengan SD Raksajaya, biayanya bersumber murni anggaran pemerintah sehinga disebut SD Inpres.

Di kampung Cideres masih kuat dalam mempertahankan gotong royong, kebersamaan terpelihara, satu sama lain saling membantu. Bahkan, kebiasaan di kampung tersebut apabila ada yang memiliki rejeki lebih, seperti salahsatu warga membeli barang berharga atau selesai membangun rumah, maka warga tersebut akan melakukan saweran (nyawer) membagi rejeki dengan warga sekitarnya.

Emi Panggilan Sehari-hari dr. Helmi Budiman

Tiba di kampung Cideres tidak langsung mengunjungi rumah orang tua wakil bupati, di jalan bertemu dengan ibu Aam merupakan teman satu SD dr. Helmi. Ibu Aam pun mengantar penulis ke teman dekatnya wakil bupati Garut yang sama-sama satu kelas di sekolah dasar yaitu ustad Yoyo, ia berprofesi sebagai guru ngaji. Usai sholat dzuhur di masjid Baitul Muhajirin, masjid kecil tempat ustadz Yoyo mengajar ngaji yang juga pembangunan mesjidnya dibantu pula oleh wakil bupati, ustadz Yoyo mengajak penulis ke rumahnya.

Wakil bupati Garut kata kedua teman satu sekolah dasarnya, panggilan sehari-harinya adalah Emi, mungkin panggilan pendek dari Helmi. Di rumah ustadz Yoyo, ngobrol di bale atau tepas (sunda) yaitu rumah panggung yang memiliki ruang letaknya diluar untuk bercengkrama. Penulis disuguhi kopi dan kulub taleus (rebus talas).

Dari cerita ustadz Yoyo, selain teman satu SD, Emi merupakan teman bermain sehari-hari di kampungnya. Di sekolah Emi merupakan anak yang paling cerdas, dari kelas satu hingga kelas enam selalu menjadi rangking pertama. Bahkan luar biasanya, gurunya pun kerap bertanya soal pelajaran jika ia tidak mengetahuinya. Artinya pengetahuan Emi mengungguli gurunya.

Selain Emi, sebenarnya ada anak seangkatannya yang sama cerdasnya yakni Asep Iskandar, masih sepupuan dengan wakil bupati. Emi orangnya sangat santun dalam bertutur, ia tidak pernah memanggil atau menyebut dirinya dengan urang (sunda kasar), melainkan selalu menyebut abdi (sunda halus artinya saya). Emi di kampungnya kerap menjadi contoh anak-anak yang lain dalam berperilaku.

Anak-anak di kampung Cideres termasuk Emi, mayoritas mengaji di pesantren Al-Munawaroh yang letaknya masih di kampung Cideres. pemilik pondok pesantren Al-Munawaroh adalah Ajengan Toha, merupakan kakek dari Emi atau dr. Helmi Budiman. Ajengan Toha adalah tokoh perjuangan yang turut mengangkat senjata di masa penjajahan, baik masa kolonial belanda maupun gerombolan DI/TII. Bahkan, pesantren milik tokoh nahdatul ulama ini sempat dibakar oleh gerombolan. Kini pesantren Al-Munawaroh dikelola oleh saudaranya wakil bupati.

Sewajarnya masa anak-anak, Emi, ustadz Yoyo dan teman seangkatan lainnya kerap bermain layang-layang atau mupuri ke kebun (mupuri istilah bahasa sunda yang artinya mencari ubi sisa panen pemiliknya). Mereka pun termasuk piawai dalam berenang di sungai, karena tak jauh dari kampungnya ada sungai Citanduy.

Penulis saat berada di rumah ustadz Yoyo, teman bermain dan teman satu sekolah dasar dr. Helmi Budiman 

 

Tragedi Citanduy

Bagi masyarakat kampung Cideres ada suatu peristiwa yang tak bisa dilupakan sepanjang hidup mereka, sehingga peristiwa itu dinamakan tragedi Citanduy. Kebetulan peristiwa itu menimpa satu kelas SD Raksajaya, yakni kelas Emi (dr. Helmi Budiman) termasuk ustadz Yoyo yang tenggelam di sungai Citanduy, sehingga harus menelan korban meninggal dunia dua orang temannya.

Kejadian tahun 1982, kala itu bertepatan dengan meletusnya gunung Galunggung. Di kelas Emi waktu itu kebetulan gurunya tidak mengajar atau tidak masuk kelas. Karena tidak ada guru, murid-murid sepakat untuk latihan penjelajahan. Era jaman dulu kegiatan pramuka yang sering dilakukan adalah penjelajahan, dimana para peserta berjalan dipandu dengan tanda jejak, yaitu sebuah tanda berbentuk panah yang terbuat dari kapur tulis.

Tanda panah tersebut kebetulan melintasi sungai Citanduy. Pertimbangan tidak akan ada resiko melintasi sungai Citanduy, mengingat air sungai saat itu sedang surut, tinggi air saat di uji coba ada setinggi paha anak usia sekolah dasar.

Diluar dugaan, tatkala seluruh siswa sedang melintasi sungai Citanduy tersebut, semua siswa tenggelam ke dasar sungai yang kenyataannya cukup dalam. Kepanikan terjadi, termasuk Emi (Wakil Bupati Garut) yang harus berjuang menyelamatkan diri. Karena siswa laki-laki rata-rata pandai berenang, mereka bisa menyelamatkan diri. Hanya mereka pun harus membantu teman perempuan yang dominan lebih banyak dan teman laki-laki yang tak bisa berenang. Saat itu dibantu oleh tiga orang pemuda yang kebetulan berada di sekitar sungai.

Karena jumlah siswa yang tenggelam cukup banyak, sehingga tak bisa dihindari dua orang siswa bernama Titi dan Uun tak terselamatkan. Keduanya meninggal kehabisan nafas di lokasi.

Mendengar kejadian tersebut, warga kampung Cideres histeris. Seluruh siswa yang selamat menangis, apalagi orang tua Titi dan Uun. Dari kejadian itu, warga menyebutnya tragedi Citanduy. Hingga kini, kisah tragis yang menimpa warga Cideres tak pernah hilang hingga turun temurun.

Penulis saat diterima ayahanda dr. Helmi Budiman di rumahnya.

 

Si Anak Jenius Diterima di Jerman

Usai bercengkrama dengan ustadz Yoyo di rumahnya. Penulis diantar mengunjungi kediaman orang tua wakil bupati Garut. Sebelumnya penulis menyempatkan berziarah ke makam ibunya dr. Helmi Budiman yang tak jauh dari rumah ustadz Yoyo.

Sambutan hangat dan ramah dari bapak H. Abud Budiana, bapaknya dr. Helmi Budiman yang sudah brusia 80 tahun. Setelah dipersilahkan masuk dan duduk di ruangan tamu, pak haji bercerita tentang keluarganya. Ia memiliki sepuluh putra dan putri, seluruhnya ada sebelas, yang satu meninggal dunia. Dengan rendah hati, ia menyebut dari keluarga biasa, sehingga mendidik anan-anak untuk mandiri dan disiplin.

Buah jatuh tak akan jauh dari pohonnya. Kecerdasan dr. Helmi Budiman terutama dominan di pelajaran matematika di atas rata-rata, ternyata sang ayah merupakan guru matematika.

Kiat yang paling berharga dari didikan pak H. Abud Budiana terhadap anak-anaknya, adalah disiplin dan do,a dari ibu. Tentunya mengajarkan kedisiplinan terhadap anak, harus dicontohi oleh sang ayah sendiri. Dari proses disiplin dan do,a ibu, ke sepuluh anak-anaknya bisa sekolah dan kuliah hingga mengenyam gelar dan memiliki karir untuk masa depannya masing-masing.

Tentu bukan hal yang mudah menyekolahkan ke sepuluh anaknya tersebut, apalagi jarak usia anak-anaknya rata-rata dua tahun. Helmi Budiman sendiri merupakan anak ke tiga. Setelah lulus SD, melanjutkan sekolah ke SMP dan SMA tak pernah diarahkan atau didaftarkan ayahnya. Termasuk semua anak-anak H. Abud Budiana, melanjutkan tujuan sekolah tak ada campur tangan dirinya. Hanya saja, disaat anak-anaknya sedang mengikuti testing atau sedang ujian, ibunya pasti berpuasa. “Sayang, ibunya hanya sebentar melihat keberhasilan anak-anak”, kata H. Abud, sedikit memperlihatkan kesedihannya.

Menjadi dokter bukan pilihan Helmi Budiman. Wakil bupati Garut itu setelah lulus SMA Negeri 2 Tasikmalaya sebenarnya mendaftar ke perguruan tinggi di Jerman. Hebatnya, ia diterima di perguruan tinggi tersebut. Tetapi, karena pamannya yang di Jakarta meminta untuk kuliah di Unpad dan mengambil jurusan kedokteran. Pamannya pun akan menghadiahi sepeda motor jika Helmi Budiman diterima di Unpad.

Foto sketsa  Wakil Bupati Garut dr. Helmi Budiman karya Destra Yana

 

Kekecewaan wakil bupati Garut tidak melanjutkan kuliah di Jerman, ia focuskan ke belajar lebih serius di Unpad, maksudnya agar kuliahnya cepat selesai. Saking cerdasnya, tak sedikit teman-teman kuliahnya yang belajar ke Helmi Budiman. Tentu bagi Helmi meringankan beban biaya tatkala teman-temannya kerap membelikan buku pelajaran yang cukup mahal untuk ukuran dirinya saat itu. Imbalan bagi teman-temannya hanya minta diajarkan.

Seperti cerita H. Abud Budiana, menyekolahkan ke sepeluh anaknya bukan berarti dirinya orang berada. Hanya ia memiliki pendirian yakin rejeki akan ada tatkala dibutuhkan, sehingga ia kerap memberikan nasehat kepada anak-anaknya, ia tak bisa memberikan apa yang dinginkan anak-anaknya, tetapi ia akan memberikan apa yang dibutuhan anak-anaknya.**

 

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terbaru