oleh

Jawa Barat Adaptasi Kebiasaan Baru, Ade Kaca : New Normal di Garut Harus Dipertimbangkan

HARIANGARUTNEWS.COM – Anggota Komisi 5 Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Jawa Barat, Fraksi Partai Amanat Nasional (PAN) Ade Kaca ST, menjelaskan, hal yang pernah disampaikan Gubernur Jawa Barat pekan lalu, tentang dasar kriteria ilmiah zona biru yang terkendali. 60% yang zona biru ini yang diberi izin untuk memberlakukan new normal, untuk Jawa Barat dengan istilah Adaptasi Kebiasaan Baru.

Dikatakan Ade, limabelas kabupaten dan kota yang dinyatakan zona biru, adalah Kabupaten Bandung Barat, Ciamis, Cianjur, Kabupaten Cirebon, Kuningan, Kabupaten Garut, Pangandaran, Majalengka, Purwakarta, Kabupaten Tasikmalaya, Sumedang, Kota Cirebon, Kota Tasik, Banjar, dan Kota Sukabumi.

40% zona kuning, yaitu 12 kabupaten dan kota, tetap direkomendasikan melakukan perpanjangan Pembatasan Sosial BerskalaBesar (PSBB).

Ade juga menjelaskan, ketentuan World Health Organization (WHO) tentang penerapan new normal bisa dilakukan ketika suatu negara atau daerah berhasil mengendalikan angka penyebaran Covid-19.

“Selain memperhatikan hal itu, negara atau daerah harus memiliki fasilitas kesehatan yang mumpuni, juga risiko lonjakan kasus di tempat yang rentan dapat diminimalisir. WHO juga menyarankan pencegahan Covid-19 di area atau wilayah kerja diberlakukan. Pemantauan yang ketat penularan dari wilayah lain dan masyarakat harus dilibatkan untuk memberi pendapat dan masukan dalam transisi menuju new normal,” tutur Ade, Kamis (04/06).

Lanjut dikatakannya, penerapan AKB Jawa Barat dilaksanakan secara bertahap, mulai per 1 Juni 2020 dengan dibukanya tempat ibadah di zona biru. Namun, sambung ia, dibukanya tempat ibadah ini tentu dengan syarat hanya 50% dari kapasitas tempat ibadah dan tetap menerapkan protokol kesehatan.

Selanjutnya, tahap kedua, pembukaan industri dan perkantoran, dengan syarat yang memiliki risiko kecil tapi berdampak besar, seperti kontrol kerumunan dan orang hilir mudik di tempat keramaian.

Di zona biru, tempat wisata diizinkan dibuka, namun hanya untuk wisata individu, seperti hiking, wisata keluarga atau kelompok ditutup dulu.

Politisi PAN Garut ini juga mengatakan, untuk sekolah, sama sekali belum boleh buka, walaupun di zona biru, karena yang diutamakan keselamatan anak-anak yang jumlahnya jutaan jiwa di Jawa Barat.

“Dari pentahapan AKB ini sekolah mungkin terakhir sampai kita betul-betul yakin tidak ada ancaman terjangkit, penularan atau penyebaran Covid-19, sampai pemerintah yakin untuk mengumumkan kasus zero virus Covid-19. Evaluasi tetap harus diberlakukan berdasarkan indikator penetapan pemberlakukan AKB alias new normal. Selama AKB, warga jangan kaget kalau ada anggota TNI Polri di dalam mal, di acara sosial, dan tempat ibadah, semata-mata untuk memastikan standard protokol kesehatan masih diterapkan oleh masyarakat, masih disiplin memakai masker, cuci tangan dan menghindari kerumunan, juga untuk memantau penerapan new normal ini tidak menghilangkan kewaspadaan,” bebernya.

Berkaitan dengan era new normal di Kabupaten Garut, Ade Kaca, menyampaikan, sejujurnya ia berpandangan agak sedikit berbeda. New normal di terapkan, harus lebih mempertimbangan kemaslahatan dan keselamatan warga itu sendiri.

“Selama masih terjadi dan ditemukan warga yang positif covid-19 di Kabupaten Garut dan angkanya terus bertambah. Saya berharap penerapan new normal, alangkah baiknya di pertimbangan dengan matang, tidak terburu-buru. Keselamatan masyarakat Garut dari wabah virus Covid-19 harus menjadi prioritas pilihan Pemkab, ketimbang penerepan new normal”. Pungkasnya. (Bulan)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terbaru